Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Ribuan Perusahaan Swasta Dilibatkan untuk Genjot Industri Pertahanan Iran

Published

on

Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, menyampaikan perkembangan produksi dan perluasan jaringan industri pertahanan Iran.
Kementerian Pertahanan Iran memperluas basis industri pertahanan melalui perusahaan swasta, universitas dan perusahaan berbasis pengetahuan.

Media ABI, 22 Agustus 2026 — Iran memperluas basis industri pertahanannya dengan melibatkan ribuan perusahaan swasta, universitas dan perusahaan berbasis pengetahuan. Perluasan jaringan produksi itu berlangsung bersamaan dengan peningkatan produksi senjata dan peralatan pertahanan serta pembatasan informasi mengenai kemampuan militer yang dianggap sensitif.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik, menyampaikan perkembangan tersebut dalam wawancara dengan Chanel Khabar TV Nasional Iran yang dilaporkan Mehr News Agency pada Sabtu (22/8/2026).

Baca juga: Setahun Usai Perang 12 Hari, Produksi Senjata Iran Naik Dua Kali Lipat

Menurut Talaei-Nik, sekitar 9.300 hingga 9.400 perusahaan kini terlibat dalam jaringan industri pertahanan Iran. Jumlah tersebut meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya ketika sekitar 8.000 perusahaan tercatat dalam jaringan tersebut. Lebih dari 1.000 jenis senjata, peralatan dan sistem pertahanan disebut diproduksi dengan partisipasi perusahaan swasta dan perusahaan berbasis pengetahuan.

Talaei-Nik menyebut pola tersebut sebagai ekosistem nasional industri pertahanan. Kementerian Pertahanan tetap menjadi salah satu pusat utama, tetapi kapasitas produksi juga ditopang Angkatan Darat, Korps Garda Revolusi Islam, perusahaan swasta, universitas dan perusahaan berbasis pengetahuan.

Ribuan perusahaan memasok subsistem, komponen dan bahan baku. Universitas serta perusahaan berbasis pengetahuan terlibat sejak tahap penelitian dan pengembangan hingga sebuah gagasan berubah menjadi produk dan masuk ke tahap industrialisasi.

Menurut Talaei-Nik, keterlibatan berbagai unsur tersebut membuat industri pertahanan Iran tidak lagi bertumpu pada satu lembaga. Jaringan produksi kini tersebar di berbagai wilayah dan menjadi bagian dari sistem pertahanan nasional.

Produksi Senjata Berlipat Ganda

Perluasan jaringan industri berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas produksi. Talaei-Nik mengatakan produksi senjata dan peralatan pertahanan Iran dari Juli 2025 hingga Juli 2026 meningkat dua kali lipat.

Peningkatan tersebut berlangsung setelah perang 12 hari, ketika sejumlah fasilitas industri pertahanan Iran menjadi sasaran serangan dan mengalami kerusakan. Namun, menurut Talaei-Nik, kegiatan produksi tetap berjalan.

Baca juga: Wakil Menteri Perang AS Korban Pertama Perang Ekonomi Trump

Bahkan sejak 28 Februari 2026, produksi sejumlah produk strategis dan barang yang menjadi prioritas kebutuhan perang disebut meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tingkat produksi normal.

Kemampuan mempertahankan produksi tersebut ditopang oleh kegiatan produksi harian, cadangan yang telah dibangun sebelumnya serta persediaan strategis. Talaei-Nik mengatakan senjata dan amunisi yang digunakan di medan perang dapat segera digantikan melalui produksi yang berlangsung bersamaan dengan penggunaannya.

Dari Ketergantungan Impor Menuju Kemandirian

Perubahan industri pertahanan Iran memiliki latar belakang panjang. Talaei-Nik mengatakan sekitar 90 persen peralatan, senjata dan amunisi angkatan bersenjata Iran sebelum Revolusi Islam masih berasal dari luar negeri.

Menurutnya, tekanan terhadap sektor pertahanan Iran mulai berlangsung pada 5 Februari 1979 ketika Amerika Serikat menghentikan kontrak militer dengan Iran senilai sekitar 11 miliar dolar pada masa pemerintahan Shapour Bakhtiar. Sebagian persoalan kontrak tersebut kemudian masuk ke Mahkamah Arbitrase Iran-Amerika Serikat di Den Haag.

Talaei-Nik mengatakan ketergantungan tersebut telah dibentuk jauh sebelum Revolusi Islam. Sekitar 70 hingga 80 tahun sebelumnya, ribuan penasihat militer Amerika berada di Iran, termasuk di Kementerian Perang dan angkatan bersenjata.

Menurutnya, struktur tersebut tidak memberi ruang bagi warga Iran untuk mengembangkan produksi, inovasi dan kreativitas sendiri.

Sebelum Revolusi Islam, industri pertahanan Iran hanya memproduksi 31 jenis produk yang sebagian besar masih sederhana. Bahkan senapan G3 yang diproduksi saat itu, menurut Talaei-Nik, belum sepenuhnya merupakan produk dalam negeri.

Kini, dia mengatakan Iran memproduksi lebih dari 1.000 jenis sistem canggih, senjata dan amunisi. Talaei-Nik juga menyebut Iran berada di antara 10 negara teratas dunia dalam kemampuan rudal dan termasuk negara terkemuka dalam bidang drone.

Baca juga: Bela Serangan ke Iran, Trump Berdalih Diplomasi dengan Teheran Tak Mudah

Talaei-Nik mengaitkan perkembangan tersebut dengan kebijakan kemandirian pertahanan yang dibangun setelah Revolusi Islam. Menurutnya, kebijakan tersebut mengubah ketergantungan sekitar 90 persen sebelum revolusi menjadi sekitar 90 persen kemampuan mandiri dan swasembada.

Produksi Diperluas, Informasi Diperketat

Di tengah peningkatan produksi, Iran justru mempersempit informasi yang dibuka kepada publik mengenai kemampuan persenjataannya.

Talaei-Nik mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk melindungi informasi dan rahasia militer serta mencegah lawan mengetahui kemampuan pertahanan Iran.

Atas pertimbangan itu, Iran tidak menggelar pameran militer pada Hari Industri Pertahanan selama 2025 dan 2026. Sebagian besar kegiatan pengungkapan produk pertahanan juga dihentikan.

Menurut Talaei-Nik, pembatasan tersebut tidak berarti pengembangan persenjataan berhenti. Para komandan tetap mengetahui perkembangan produksi dan peningkatan kemampuan rudal balistik, rudal jelajah, drone, sistem pertahanan udara dan berbagai sistem lain yang dibutuhkan angkatan bersenjata.

Penelitian dan pengembangan juga terus berjalan. Talaei-Nik mengatakan ratusan proyek penelitian sedang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan teknologi pertahanan.

Sebanyak 76 persen proyek tersebut disebut telah mencapai tahap penyelesaian dan menghasilkan produk dalam setahun terakhir. Jumlah keseluruhan proyek tidak diungkapkan karena alasan perlindungan rahasia militer.

Perluasan jaringan industri terlihat dari bertambahnya jumlah perusahaan yang terlibat. Dari sekitar 8.000 perusahaan pada tahun sebelumnya, jumlahnya kini mencapai 9.300 hingga 9.400 perusahaan, atau meningkat sekitar 20 persen.

Baca juga: The Economist Pelesetkan “Epic Fury” Trump Menjadi “Operation Blind Fury”

Target Produksi Tiga Kali Lipat

Kementerian Pertahanan Iran kini menetapkan sasaran produksi yang lebih tinggi. Setelah produksi disebut meningkat dua kali lipat dalam setahun terakhir, pemerintah menargetkan produksi senjata dan peralatan pertahanan meningkat tiga kali lipat.

Untuk sejumlah bidang tertentu, peningkatan tersebut bahkan diproyeksikan mencapai empat hingga lima kali lipat.

Menurut Talaei-Nik, peningkatan kuantitas bukan satu-satunya sasaran. Industri pertahanan juga diarahkan untuk meningkatkan efektivitas senjata, peralatan dan teknologi sekaligus menekan biaya produksi.

Dia mengatakan sejumlah senjata dan peralatan Iran yang memiliki produk sejenis di luar negeri dapat diproduksi dengan biaya sekitar sepersepuluh. Dalam beberapa kasus, biaya produksi disebut hanya sekitar seperduapuluh dari produk asing.

Kementerian Pertahanan Iran menjalankan dua jalur secara bersamaan. Jalur pertama memenuhi kebutuhan operasional angkatan bersenjata. Jalur kedua membangun kapasitas baru untuk menghadapi kebutuhan pertahanan masa depan.

Program tersebut dijalankan oleh pelaksana tugas Menteri Pertahanan bersama para wakil dan pejabat kementerian, dengan arahan Staf Umum Angkatan Bersenjata serta kerja sama seluruh unsur angkatan bersenjata.

Talaei-Nik menambahkan bahwa kebijakan yang sebelumnya dijalankan almarhum Mayor Jenderal Amir Nasirzadeh akan diteruskan. Kementerian Pertahanan, menurutnya, akan tetap memenuhi kebutuhan pertahanan saat ini sekaligus membangun kapasitas baru untuk masa depan.

Perkembangan yang dipaparkan Talaei-Nik menunjukkan perubahan besar dalam cara Iran membangun industri pertahanannya. Produksi tidak hanya diperbesar melalui kapasitas pemerintah dan militer, tetapi juga melalui jaringan perusahaan swasta, universitas dan lembaga penelitian. Pada saat yang sama, akses publik terhadap informasi mengenai kemampuan persenjataan diperketat.

Dengan basis industri yang semakin luas dan target produksi yang terus dinaikkan, Kementerian Pertahanan Iran kini menempatkan pengembangan teknologi, efisiensi produksi dan pemenuhan kebutuhan jangka panjang sebagai bagian dari agenda pertahanan negara. []

Baca juga: Bongkar Borok USS Abraham Lincoln, Penerbit Stars and Stripes Dibidik Pentagon