Internasional
Sepuluh Hari Gelap di Indiana, Warga Mulai Merasa Kotanya Ditinggalkan Pemerintah

Media ABI, 22 Agustus 2026 — Sepuluh hari berlalu sejak badai dan banjir menerjang Gary, Indiana. Di salah satu kota termiskin di Amerika Serikat itu, ribuan warga masih hidup tanpa aliran listrik. Rumah-rumah gelap, udara musim panas terasa semakin menyengat, bahan bakar sulit diperoleh, sementara kebutuhan makanan dan layanan kesehatan ikut terganggu.
Menurut laporan Fars News Agency yang mengutip sejumlah media Amerika, listrik di sebagian besar wilayah Gary belum kembali normal setelah badai pada 11 Agustus menyebabkan pohon-pohon tumbang dan jaringan listrik rusak. Pemulihan penuh diperkirakan baru terjadi pada pekan berikutnya.

Warga Gary, Indiana, bertahan tanpa listrik selama 10 hari setelah badai dan banjir merusak jaringan listrik di sebagian besar wilayah kota.
Baca juga: Ribuan Perusahaan Swasta Dilibatkan untuk Genjot Industri Pertahanan Iran
Gary sudah lama menghadapi persoalan kemiskinan dan kemunduran ekonomi. The New York Times mencatat sekitar sepertiga penduduk kota itu hidup di bawah garis kemiskinan. Bagi warga yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan ekonomi, pemadaman berkepanjangan membuat keadaan menjadi jauh lebih berat.
Sejumlah toko bahan makanan dilaporkan mulai kehabisan stok. Anak-anak yang baru memasuki tahun ajaran baru harus melewatkan sekolah selama lebih dari sepekan. Obat-obatan yang membutuhkan pendinginan, termasuk insulin, terancam rusak. Warga yang bergantung pada oksigen juga kesulitan mendapatkan layanan untuk mengisi ulang tabung mereka.
Pada Jumat (21/8), sebagian warga mengatakan kepada The New York Times bahwa mereka semakin cemas karena hujan kembali diperkirakan turun. Sepuluh hari tanpa listrik telah mengubah persoalan pemadaman menjadi masalah yang menyentuh hampir seluruh kehidupan sehari-hari.
“Saya menangis setiap hari,” kata Renita Tevis, 41 tahun, kepada The New York Times ketika ditemui di depan apartemennya yang masih gelap.
Mobil Tevis terjebak di bawah pohon tumbang. Di dalam rumah, panas membuatnya sulit tidur. Ia bahkan harus berjalan kaki ke Dollar Store untuk mencari kebutuhan dasar, tetapi lilin dan baterai di toko itu pun sudah habis.
Badai yang menerjang pada 11 Agustus menyebabkan banjir dan kerusakan luas di wilayah Chicago serta sebagian kawasan utara Indiana. Gary menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah.
Northern Indiana Public Service Company (NIPSCO) pada Jumat menyatakan sekitar 43.400 pelanggan di wilayah tersebut masih mengalami pemadaman listrik.
Baca juga: Setahun Usai Perang 12 Hari, Produksi Senjata Iran Naik Dua Kali Lipat
Namun, bagi sebagian warga Gary, persoalannya terasa lebih besar daripada sekadar listrik yang belum menyala. Ada perasaan bahwa kota mereka kembali berada di urutan paling belakang dalam perhatian pemerintah dan perusahaan penyedia layanan.
Lydia Martin, warga Gary, mengatakan keluhan seperti itu sudah lama terdengar. Menurutnya, pemadaman listrik hanya memperlihatkan kembali persoalan yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.
Gary pernah menjadi salah satu pusat industri baja penting di Amerika Serikat. Ketika pabrik-pabrik mulai tutup dan industri berpindah ke wilayah lain, kota tersebut kehilangan banyak pekerjaan dan perlahan mengalami kemunduran ekonomi.
“Saya sering mendengar orang mengatakan bahwa mereka merasa Gary selalu menjadi prioritas terakhir dalam banyak hal. Kota ini telah menderita akibat kurangnya investasi selama bertahun-tahun. Selalu ada perasaan bahwa tidak ada yang benar-benar peduli pada Gary,” kata Martin.
Gangguan listrik juga melumpuhkan sejumlah stasiun pengisian bahan bakar. Dottie Johnson, 49 tahun, mendatangi sebuah SPBU Amoco pada Jumat setelah sebelumnya mengunjungi dua lokasi lain.
“Mereka tidak punya listrik, jadi mereka tidak punya bensin,” katanya.
Sebuah generator masih membuat toko di SPBU tersebut dapat beroperasi. Namun, salah seorang pekerja mengatakan kepada The New York Times bahwa pompa bensin di lokasi itu sudah tidak berfungsi selama 10 hari.
Baca juga: Iran Sindir Trump: Amerika Namai Kekalahan Berikutnya sebagai “Perang Ekonomi”
Johnson mengatakan kondisi di rumahnya tidak jauh berbeda. Ia menyalahkan perusahaan listrik karena dinilai tidak cukup melakukan pemangkasan pohon di sekitar jaringan listrik sebelum badai datang.
Pada Jumat, sejumlah warga juga mengajukan gugatan kelompok terhadap perusahaan listrik tersebut. Mereka menuduh perusahaan tidak melakukan pemangkasan dan pencegahan yang memadai terhadap pohon-pohon yang berpotensi tumbang dan merusak jaringan listrik.
Bagi Tevis, persoalan belum selesai meskipun listrik nantinya kembali menyala. Ia masih harus mencari cara untuk memindahkan pohon yang menimpa mobilnya sekaligus mencari sumber penghasilan baru. Beberapa hari sebelumnya, ia kehilangan pekerjaan sebagai petugas kebersihan di Chicago karena tidak dapat pergi bekerja.
Di tengah kesulitan itu, Tevis mengatakan ada warga lain yang menghadapi keadaan lebih berat, terutama bayi yang baru lahir dan orang-orang yang membutuhkan alat bantu pernapasan.
“Banyak orang di sini berjuang dengan masalah. Saya benar-benar sedih untuk bayi yang baru lahir dan orang-orang yang bergantung pada alat bantu pernapasan. Saya pikir jika wilayah ini lebih kaya, situasinya akan berbeda,” ujar Tevis.
Sepuluh hari tanpa listrik akhirnya membuka persoalan yang lebih lama dari sekadar kerusakan akibat badai. Bagi warga Gary, padamnya listrik hanya memperjelas pertanyaan yang selama bertahun-tahun belum mendapat jawaban: ketika sebuah kota terus kehilangan industri, pekerjaan, dan investasi, siapa yang masih bersedia memastikan warganya tidak ikut ditinggalkan? []
Baca juga: Politico: Perang Ekonomi Trump Tak Akan Membuat Iran Menyerah



