Internasional
Ternyata Produksi Rudal dan Drone Iran Lampaui Jumlah yang Ditembakkan

Ahlulbait Indonesia, 12 Agustus 2026 — Penasihat Panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Mohammad Reza Naqdi, mengatakan produksi rudal balistik Iran saat ini lebih besar daripada jumlah yang ditembakkan. Menurutnya, kemampuan produksi drone juga melampaui tingkat konsumsi dan penembakannya.
Pernyataan tersebut disampaikan Naqdi dalam wawancara khusus dengan Shabakeh Khabar pada Selasa malam, 11 Agustus 2026. Menurut Naqdi, kemampuan produksi persenjataan Iran tetap berjalan bersamaan dengan operasi militer.
“Produksi rudal balistik kami saat ini lebih besar daripada jumlah yang ditembakkan. Di bidang drone, kemampuan produksi kami juga lebih besar daripada tingkat konsumsi dan penembakan,” kata Naqdi.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Naqdi menanggapi perhitungan mengenai persediaan rudal Iran berdasarkan jumlah persenjataan yang telah digunakan. Menurutnya, perhitungan tersebut tidak memperhitungkan produksi yang berlangsung bersamaan dengan operasi militer.
“Produksi ini akan terus berlangsung. Bahkan jika perang berlangsung selama beberapa tahun, pada hari terakhir perang pun rudal balistik akan tetap diproduksi dan ditembakkan ke arah musuh,” ujarnya.
Naqdi juga mengatakan Iran memiliki kapasitas produksi besar dan siap menjual produk persenjataannya jika terdapat pembeli.
“Jika memiliki pelanggan, bawa mereka. Kami siap menjual,” katanya.
Menurut Naqdi, Iran memiliki sekitar 950 kawasan industri serta ratusan kompleks industri di luar kawasan tersebut. Dia mengatakan kemampuan produksi dalam negeri mencakup drone, kapal cepat, sistem penargetan udara, sistem perang elektronik, serta berbagai peralatan militer lainnya.
“Kami memiliki perancang, produsen, dan peneliti sendiri. Penelitian yang dibutuhkan juga dilakukan di dalam negeri,” kata Naqdi.
Baca juga: Washington Post: Sikap Serampangan Trump Bawa Perang Iran Tanpa Akhir
Perang Modern Menuntut Adaptasi Teknologi
Naqdi mengatakan karakter perang modern semakin bergantung pada teknologi. Karena itu, unsur penelitian, ilmiah, dan teknis harus menjadi bagian penting dalam pengelolaan medan perang.
Menurutnya, setiap pengalaman tempur harus segera diterjemahkan menjadi perubahan teknologi. Jika sebuah rudal berhasil dicegat, penyebab kegagalan harus diketahui agar perubahan dapat diterapkan pada rudal berikutnya.
Prinsip yang sama berlaku dalam pertahanan udara. Jika sebuah pesawat atau rudal gagal mencapai sasaran akibat metode penipuan lawan, sistem yang digunakan harus segera diperbaiki berdasarkan pengalaman tersebut.
“Perang hari ini sangat teknologis dan teknis,” kata Naqdi.
Menurutnya, pengalaman pasukan di medan perang harus segera diteruskan kepada bagian penelitian agar dapat diterjemahkan menjadi produk dan perubahan teknologi.
Naqdi mengakui Amerika Serikat memiliki keunggulan teknologi serta anggaran penelitian dan industri yang jauh lebih besar. Menurutnya, Amerika Serikat juga terus mengembangkan persenjataan dan metode baru untuk menghadapi kemampuan Iran.
Namun, Naqdi mengatakan Iran memiliki kemampuan untuk menyesuaikan teknologi dan taktik berdasarkan perkembangan medan perang. Kemampuan produksi dalam negeri, menurutnya, memungkinkan perubahan tersebut dilakukan dengan cepat.
Gugurnya Komandan Tidak Menghentikan Operasi
Naqdi juga menyinggung upaya pihak lawan menargetkan para komandan Iran. Menurutnya, langkah tersebut tidak menghasilkan pelemahan yang diharapkan.
“Pihak lawan juga melihat bahwa setiap kali mereka menargetkan komandan kami, mereka menghadapi respons yang lebih keras dan kekuatan yang lebih besar. Apa yang mereka harapkan, yaitu melemahkan pihak lawan, tidak terjadi,” katanya.
Menurut Naqdi, personel pada tingkat komando yang lebih rendah tetap memiliki motivasi dan kesiapan untuk menjalankan tugas meskipun para komandan gugur. Menurutnya, gugurnya para komandan justru mendorong motivasi lebih besar untuk melanjutkan misi.
“Semua orang melihat apa yang terjadi di medan setelah para komandan gugur. Apakah selama perang 12 hari terjadi sedikit saja pelemahan dalam kekokohan angkatan bersenjata dan kemampuan tempur negara dibandingkan peristiwa-peristiwa sebelumnya? Tidak. Sebaliknya, kemampuan angkatan bersenjata untuk memberikan respons justru meningkat,” ujar Naqdi.
Menurutnya, gugurnya para komandan juga membuka ruang bagi munculnya personel dan kemampuan baru.
“Gugurnya mereka menciptakan peluang baru dan membuat bakat-bakat baru berkembang sehingga pasukan baru dapat tampil di medan,” katanya.
Naqdi mengatakan Republik Islam Iran memiliki banyak kader yang dibentuk oleh dua Imam Revolusi dan Revolusi Islam. Menurutnya, mereka dapat mengambil peran dan memimpin di medan.
IRGC Siapkan Kemampuan Operasi Ofensif
Naqdi juga membahas perubahan dalam doktrin militer Iran. Menurutnya, pendekatan yang selama ini berorientasi pada pertahanan kini dilengkapi dengan kesiapan menjalankan operasi ofensif.
Dia mengatakan keputusan terbaru bagi para komandan menekankan peningkatan kemampuan untuk mencapai pencegahan maksimal sekaligus membangun kesiapan menjalankan operasi ofensif.
Namun, kesiapan tersebut bukan berarti Iran akan langsung menjalankan operasi di luar wilayahnya. Menurut Naqdi, angkatan bersenjata harus memiliki kemampuan melakukan operasi di wilayah lawan ketika kondisi mengharuskan dan perintah diberikan.
Baca juga: “Sapi Perah” Saudi, Apakah Riyadh Hanya Mengganti Pemasok Keamanan?
“Setiap kali kondisi mengharuskan dan perintah dikeluarkan, kami harus mampu membawa operasi ke wilayah musuh dan menjalankannya jauh dari wilayah kami sendiri,” ujarnya.
Naqdi mengatakan IRGC kini ditugaskan membangun kesiapan dan kemampuan tersebut agar dapat menjalankan operasi pada waktu yang dianggap diperlukan.
Naqdi Klaim 14 Sasaran Pihak Lawan Gagal
Lebih lanjut Naqdi menyatakan pihak lawan telah menetapkan 14 sasaran dalam perang terbaru dan seluruhnya gagal dicapai. Dua sasaran disebut sebagai tujuan utama, sedangkan 12 lainnya merupakan sasaran tambahan.
Menurut Naqdi, dua sasaran utama tersebut adalah menggulingkan pemerintahan Republik Islam Iran dan memecah wilayah Iran. Dia mengatakan kedua tujuan tersebut gagal dicapai.
Terkait sasaran memecah Iran, Naqdi mengatakan hasil yang terjadi justru berlawanan. Menurutnya, hubungan berbagai kelompok etnis dengan Iran dan kebanggaan mereka terhadap identitas Iran kini bahkan lebih kuat daripada sebelumnya.
“Dalam persoalan pemecahan wilayah pun, bukan hanya hal itu tidak terjadi. Jika melihat berbagai kelompok etnis saat ini, terlihat bahwa hubungan mereka dengan Iran dan rasa bangga terhadap identitas Iran bahkan lebih kuat daripada sebelumnya,” kata Naqdi.
Menurutnya, persatuan nasional Iran juga semakin kokoh akibat berbagai peristiwa selama perang. Dia mengatakan dalam banyak persoalan lain yang terjadi selama konflik, hasilnya justru berlawanan dengan keinginan pihak lawan.
Naqdi mengatakan pihak lawan gagal mencapai sasaran utamanya sejak tahap awal perang. Setelah itu, menurutnya, mereka tidak memiliki strategi yang jelas dan mulai menetapkan sasaran baru setiap beberapa hari.
Dia menyebut upaya merebut Pulau Khark, kemudian pulau lain, rencana serangan darat ke Iran, serta pembukaan Selat Hormuz sebagai sejumlah sasaran yang pernah dikemukakan pihak lawan.
“Setiap empat, lima, atau enam hari, mereka mengumumkan sasaran baru dan dengan serius berusaha mencapainya. Namun, dalam semua sasaran tersebut mereka gagal,” kata Naqdi.
Menurutnya, sasaran terakhir adalah membuka jalur di Selat Hormuz dan upaya tersebut juga tidak mencapai hasil.
Persatuan Rakyat Disebut Faktor Utama Kemenangan
Naqdi menyebut kehadiran rakyat dan persatuan nasional sebagai faktor terpenting dalam apa yang dia sebut sebagai kemenangan Republik Islam Iran.
“Hal terpenting dalam kemenangan yang kami raih adalah kehadiran rakyat di lapangan, persatuan yang mereka tunjukkan, serta pengaruh yang diperoleh Republik Islam Iran di dunia,” ujarnya.
Dia kemudian menyinggung sejarah permusuhan Amerika Serikat terhadap Iran. Menurut Naqdi, Amerika Serikat menyeret Iran dan Irak ke dalam perang selama delapan tahun dengan mendorong Saddam Hussein menyerang Iran, memberikan dukungan kepada Irak, serta terlibat langsung di Teluk Persia.
Baca juga: Bentrokan Berdarah di Kapal Induk AS Abraham Lincoln, Tujuh Awak Tewas
“Selama delapan tahun, darah rakyat Iran tertumpah. Banyak orang gugur dan terluka, sementara sebagian lainnya kehilangan anggota tubuh,” katanya.
Naqdi juga menyoroti kehadiran masyarakat dalam prosesi pemakaman para korban perang di Teheran, Mashhad, Qom, dan sejumlah kota lainnya.
Menurutnya, puluhan juta orang menghadiri prosesi tersebut. Di Teheran, masyarakat disebut berada di berbagai jalur selama berjam-jam, mulai dari wilayah timur kota hingga Jalan Enghelab dan Jalan Azadi.
Dia mengatakan masyarakat telah hadir sejak malam sebelumnya hingga dini hari. Menurut Naqdi, besarnya dukungan tersebut membuat banyak propaganda yang selama bertahun-tahun diarahkan terhadap Republik Islam Iran kehilangan pengaruh.
Naqdi mengatakan kehadiran masyarakat tersebut menunjukkan bahwa kebebasan dan keadilan, menurut pandangannya, mendapat perhatian yang sangat besar dalam sistem yang berlandaskan Wilayat al-Faqih.
Pakta Saudi, Turki, dan Pakistan Disebut Tanda Kegagalan AS
Naqdi kemudian mengaitkan perkembangan perang dengan perubahan konfigurasi keamanan di kawasan. Menurutnya, keputusan Arab Saudi membentuk pakta pertahanan bersama dengan Turki dan Pakistan menunjukkan Riyadh mulai kehilangan harapan terhadap Amerika Serikat.
“Sekarang kita melihat Arab Saudi membentuk pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan. Ini berarti kehilangan harapan terhadap Amerika,” kata Naqdi.
Menurutnya, perkembangan tersebut merupakan salah satu kegagalan terbesar Amerika Serikat. Jika sebuah negara merasa perlu membentuk pakta dengan negara lain untuk mempertahankan diri, menurut Naqdi, hal tersebut menunjukkan Amerika Serikat tidak mampu menjalankan peran yang diharapkan.
Dia mengatakan kondisi tersebut memperlihatkan Amerika Serikat tidak berhasil memberikan keamanan yang selama ini diklaim kepada para sekutunya.
Baca juga: Rincian Baru Kerusakan di Pangkalan Utama AS di Teluk
Kemenangan Strategis dan Peradaban
Naqdi mengatakan Iran tidak hanya memberikan kekalahan taktis kepada pihak lawan, tetapi juga mengklaim telah memaksakan kekalahan strategis dan peradaban.
“Kami tidak hanya memaksakan kekalahan taktis kepada pihak lawan, tetapi juga kekalahan strategis. Lebih dari itu, kami memberikan kekalahan peradaban kepada mereka,” ujarnya.
Menurut Naqdi, peradaban Barat kini mengalami kekalahan dan kemunduran dalam menghadapi peradaban Islam. Dia juga mengklaim ketertarikan masyarakat dunia terhadap peradaban Islam meningkat secara signifikan.
Naqdi juga menanggapi tuduhan bahwa Republik Islam Iran merupakan sistem pemerintahan diktator. Menurutnya, sistem diktator bergantung pada satu individu, sedangkan pengalaman perang terbaru menunjukkan pemerintahan Iran tetap berjalan selama delapan hingga 10 hari tanpa pemimpin baru.
Dia mengatakan operasi militer dan urusan pemerintahan tetap berlangsung dalam periode tersebut. Menurut Naqdi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Republik Islam Iran memiliki prinsip, struktur, dan fondasi yang kuat serta tidak bergantung pada satu individu.
Naqdi juga mengatakan banyak pangkalan Amerika Serikat di kawasan telah dikosongkan. Sebagian pangkalan tersebut, menurutnya, secara praktis telah berubah menjadi “rumah hantu”. Dia menilai Amerika Serikat pada akhirnya harus mulai mempertimbangkan penarikan diri dari pangkalan-pangkalan tersebut.
Produksi Berjalan di Tengah Perang
Di tengah seluruh klaim tersebut, Naqdi kembali menekankan kapasitas produksi sebagai bagian penting dari kemampuan militer Iran. Menurutnya, jumlah rudal dan drone yang telah digunakan tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk memperkirakan daya tahan kemampuan tempur Iran.
Produksi, menurut Naqdi, terus berlangsung bersamaan dengan penggunaan persenjataan. Karena itu, perhitungan yang hanya mengurangi jumlah rudal yang ditembakkan dari persediaan awal dinilai tidak menggambarkan kapasitas Iran secara keseluruhan.
Pernyataan tersebut menjadi inti argumen Naqdi mengenai ketahanan militer Iran. Menurutnya, kemampuan produksi dalam negeri, kapasitas industri, adaptasi teknologi, serta regenerasi personel memungkinkan angkatan bersenjata Iran mempertahankan kemampuan tempurnya ketika menghadapi konflik berkepanjangan. []
Baca juga: Fasilitas Aramco Meledak, Arab Saudi Konfirmasi Serangan di Jizan







