Internasional
Analis Israel: Trump Kini Tahu Sulitnya Mengakhiri Perang dengan Iran

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Donald Trump kini menghadapi kenyataan bahwa mengakhiri perang tidak semudah memulainya. Begitu penilaian Gil Tamari, analis hubungan luar negeri Channel 13 Israel, setelah memulai perang dengan Iran tanpa menghasilkan penyelesaian seperti yang diharapkan Washington.
Fars News Agency melaporkan pada Kamis (20/8/2026), Tamari menyampaikan pandangan tersebut dalam sebuah program Channel 13, sekitar 60 hari setelah Trump menandatangani nota kesepahaman dengan Iran.
Baca juga: Kini Jantung MQ-9 Reaper di Tangan Iran, Seberapa Berharga bagi Teheran?
Kesepakatan itu semula diharapkan membuka jalan bagi perundingan mengenai program nuklir Iran, rudal balistik, serta kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Teheran di kawasan. Namun, perkembangan berikutnya justru meninggalkan banyak persoalan tanpa penyelesaian.
Menurut Tamari, gencatan senjata telah runtuh dan berganti dengan situasi yang tidak jelas. Masalah nuklir yang semula menjadi pokok perundingan bahkan tidak lagi dibahas, sementara uranium yang telah diperkaya Iran disebut berada tanpa mekanisme pengawasan.
Persoalan rudal balistik juga tidak menunjukkan kemajuan. Iran, kata Tamari, tetap melanjutkan produksi rudalnya tanpa batas.
Selat Hormuz menjadi titik kegagalan yang paling menonjol. Selat tersebut sebelumnya diharapkan segera dibuka setelah kesepakatan ditandatangani, tetapi hingga kini belum terbuka.
“Setelah 60 hari, tidak ada kesepakatan, bahkan tidak ada kerangka kerja,” ujar Tamari.
Situasi itu dinilai semakin merugikan posisi Trump karena sebagian sanksi terhadap Iran sempat dicabut untuk waktu terbatas. Tamari mengatakan kebijakan tersebut membuat miliaran dolar mengalir kembali ke kas Iran, tanpa menghasilkan kesepakatan yang diharapkan Washington.
Baca juga: Iran Peringatkan Negara Teluk, Bantu AS Berarti Ikut Perang
Konflik tersebut juga memperlihatkan keterbatasan Amerika Serikat dalam persediaan rudal pencegat dan rudal serang. Menurut Tamari, dunia kini memahami lebih jelas persoalan yang dihadapi Washington dalam hal tersebut.
Pernyataan Trump mengenai kemungkinan menggabungkan atau menguasai Selat Hormuz juga mendapat ejekan dari pihak Iran, tambah Tamari.
Dalam kondisi seperti itu, Tamari melihat perpanjangan gencatan senjata sebagai pilihan yang lebih mungkin ditempuh, meski bentuk dan arah kelanjutannya masih belum jelas.
Bagi Tamari, 60 hari terakhir telah memberi Trump satu pelajaran yang keras. Perang dapat dimulai dengan keputusan politik dan militer, tetapi mengakhirinya membutuhkan jalan keluar yang jauh lebih sulit. []
Baca juga: Iran Sebut California Wilayah Baru Iran







