Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Perluas Pembangunan PLTN Bersama Rosatom Rusia

Published

on

PLTN Bushehr menjadi pijakan Iran dalam kerja sama energi nuklir dengan Rusia dan pengembangan kemampuan pembangunan pembangkit tenaga nuklir.
PLTN Bushehr menjadi pijakan Iran dalam kerja sama energi nuklir dengan Rusia dan pengembangan kemampuan pembangunan pembangkit tenaga nuklir.

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Iran dinilai memiliki peluang memperluas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan memanfaatkan pengalaman Rusia dan kapasitas Rosatom. Kerja sama tersebut, menurut anggota Kamar Dagang Bersama Iran dan Rusia Sayyid Reza Rafiei, dapat membuka jalan bagi Iran untuk beranjak dari pembeli teknologi menjadi mitra pembangunan hingga mampu membangun PLTN sendiri.

Rafiei menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara dengan Fars News Agency pada Kamis, 20 Agustus 2026. Menurutnya, langkah itu semakin penting karena Iran masih menghadapi ketidakseimbangan pasokan listrik, sementara energi menjadi salah satu fondasi utama pembangunan.

Baca juga: Foreign Affairs: Tak Ada Lagi yang Percaya Amerika

Rafiei mengatakan pembangunan PLTN merupakan salah satu bidang utama pemanfaatan kemampuan Rusia di sektor ketenagalistrikan. Iran sendiri telah memiliki pengalaman melalui PLTN Bushehr, tetapi peluang untuk membangun lebih banyak pembangkit belum dimanfaatkan secara optimal.

“Kita membangun PLTN Bushehr dan sebenarnya bisa memiliki lebih banyak pembangkit listrik tenaga nuklir dengan mempertimbangkan keselarasan politik kedua negara. Listrik yang dihasilkan lebih murah, bersih dan stabil. Namun, kesempatan tersebut tidak kita manfaatkan,” ujar Rafiei.

Menurut Rafiei, kerja sama dengan Rusia kini kembali bergerak dan pembangunan PLTN Bushehr memasuki tahap kedua dan ketiga. Dia melihat perkembangan tersebut sebagai peluang untuk memperluas kerja sama sekaligus memperbesar penguasaan teknologi di dalam negeri.

Dari Bushehr Menuju Industri PLTN

Kebutuhan listrik menjadi salah satu alasan Rafiei mendorong perluasan kerja sama dengan Rusia. Iran masih menghadapi ketidakseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik. Bahkan jika persoalan tersebut teratasi, kebutuhan energi akan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi.

“Kita mengalami ketidakseimbangan dalam kelistrikan. Bahkan jika persoalan itu teratasi, listrik dan energi pada akhirnya tetap menjadi infrastruktur bagi pembangunan,” katanya.

Rafiei menyebut Rosatom sebagai perusahaan nuklir terbesar di dunia dan menilai hubungan politik Iran dengan Rusia memberi peluang untuk memperluas kerja sama di bidang tersebut.

Dia mencontohkan Turki. Negara tersebut, meskipun memiliki akses ke berbagai negara, menggunakan Rusia untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Pembangkit tersebut mulai beroperasi beberapa tahun lalu.

Baca juga: Analis Israel: Trump Kini Tahu Sulitnya Mengakhiri Perang dengan Iran

“Banyak pembangkit listrik tenaga nuklir di berbagai negara juga dibangun oleh Rusia,” ujarnya.

Pengalaman tersebut, menurut Rafiei, menunjukkan bahwa kerja sama dengan Rusia dapat dikembangkan lebih jauh. Iran tidak harus terus berada pada posisi sebagai pembeli teknologi.

Dari Pembeli Menuju Pembangun

Rafiei mengusulkan peningkatan keterlibatan Iran secara bertahap. Tahap awal dapat dimulai dengan pembelian teknologi, kemudian dilanjutkan dengan keterlibatan dalam pembangunan dan peningkatan porsi penguasaan teknologi serta keahlian teknis. Pada tahap berikutnya, Iran diharapkan mampu membangun PLTN sendiri.

“Kita harus memanfaatkan keselarasan ini semaksimal mungkin. Alih-alih membeli listrik dan menjadi importir, kita harus menjadi produsen di bidang pembangkit listrik. Pada tahap pertama kita membeli, tahap berikutnya kita ikut berpartisipasi, kemudian mengambil porsi yang lebih besar. Setelah melewati beberapa tahap, kita akan menjadi pembangun pembangkit listrik tenaga nuklir,” kata Rafiei.

Bagi Rafiei, perluasan kerja sama dengan Rusia bukan hanya menyangkut penambahan kapasitas listrik. Kerja sama tersebut juga dapat menjadi jalan bagi Iran untuk memperbesar penguasaan teknologi dan kemampuan membangun PLTN secara mandiri. []

Baca juga: Ghalibaf kepada AS, “Jangan Tunggu Keajaiban dari Hegseth dan Bessent”