Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Menlu Pakistan Ungkap Perkembangan Terbaru Perundingan Iran-AS

Published

on

Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, menyampaikan perkembangan terbaru perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk isu program nuklir Iran, Selat Hormuz, dan upaya mediasi regional.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, menyampaikan perkembangan terbaru perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk isu program nuklir Iran, Selat Hormuz, dan upaya mediasi regional. (Foto: Mehrnews Agency

Ahlulbait Indonesia, 22 Juni 2026 — Menteri Luar Negeri Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, mengungkap sejumlah perkembangan terbaru terkait perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk pembahasan mengenai cadangan uranium yang telah diperkaya serta situasi di Selat Hormuz.

Menurut laporan Kantor Berita Mehr pada Senin (22/6/2026), Dar dalam wawancara dengan saluran televisi Al Arabiya dan Al Hadath menyatakan bahwa Iran dan Amerika Serikat telah sampai pada kesimpulan bahwa penyelesaian krisis hanya dapat dicapai melalui jalur diplomasi.

Baca juga: Survei CBS: 78 Persen Warga Amerika Ingin Konflik dengan Iran Segera Berakhir

“Mereka telah mencapai tahap yang menjanjikan menuju keberhasilan,” ujarnya.

Dar menjelaskan bahwa Amerika Serikat sebelumnya menginginkan agar cadangan uranium Iran dipindahkan ke luar negeri. Namun, menurutnya, para pihak telah menemukan solusi berupa pengurangan tingkat pengayaan uranium tanpa harus memindahkan cadangan tersebut.

“Cadangan uranium itu masih berada di bawah tanah dan kami telah menemukan jalan keluar terkait tingkat pengayaannya,” katanya.

Menurut Dar, persoalan cadangan uranium dapat diselesaikan melalui salah satu dari tiga kelompok teknis yang dibentuk dalam proses perundingan.

Ia juga mengklaim bahwa Pakistan berhasil memfasilitasi pertemuan antara Iran dan Amerika Serikat, sesuatu yang menurutnya belum pernah terjadi selama 47 tahun terakhir.

“Konflik di antara kedua negara telah menimbulkan dampak yang mengerikan dan memberikan konsekuensi negatif terhadap perekonomian,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Dar, terdapat tiga kelompok teknis yang membahas isu program nuklir Iran, aset-aset yang dibekukan, serta perkembangan situasi di Lebanon.

Terkait Selat Hormuz, Dar mengatakan kondisi kawasan tersebut harus kembali seperti sebelum pecahnya perang.

Baca juga: Delegasi Iran Tinggalkan Perundingan Swiss sebagai Protes atas Ancaman Trump

“Selama periode 60 hari tidak akan diberlakukan tarif apa pun di Selat Hormuz. Kapal-kapal dapat melintas secara bebas melalui kawasan tersebut,” katanya.

Menurut Dar, China juga mendukung kebebasan pelayaran di Selat Hormuz tanpa pemberlakuan tarif tambahan. Saat ini, kapal-kapal dapat beroperasi secara normal dan hanya dikenakan biaya layanan atau biaya pelayaran yang berlaku.

Ia juga menyerukan penghentian serangan-serangan yang dianggap provokatif oleh Israel terhadap Lebanon.

Selain itu, Dar mengungkapkan bahwa Pakistan bersama Arab Saudi, Mesir, dan Turki telah mencapai kesepahaman untuk mengaktifkan kembali pembahasan mengenai Jalur Gaza.

Dar juga mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara langsung mengawasi jalannya proses perundingan tersebut.

“Kami berharap proses ini bergerak ke arah yang positif. Perkiraan kami, tahap berikutnya dalam perundingan Iran dan Amerika Serikat akan menjadi fase yang paling sulit,” ujarnya.

Meski demikian, Dar menyatakan keyakinannya bahwa kedua negara pada akhirnya dapat mencapai kesepakatan karena hal tersebut akan menguntungkan semua pihak. Menurutnya, tidak terdapat poin negatif dalam nota kesepahaman yang telah disusun antara kedua negara. Adapun isu sanksi terhadap Iran akan dibahas secara bilateral antara Teheran dan Washington.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran maupun Amerika Serikat yang mengonfirmasi sejumlah poin yang disampaikan Menlu Pakistan terkait perkembangan perundingan. Keterangan tersebut sejauh ini berasal dari pernyataan Mohammad Ishaq Dar dan belum diumumkan secara bersama oleh para pihak yang terlibat dalam proses negosiasi. []

Baca juga: Ancaman Trump Hentikan Perundingan Swiss, Kelanjutan Negosiasi Masih Belum Jelas