Internasional
Iran Tegas Tolak Klaim Trump: Tak Ada Perundingan dengan AS

Ahlulbait Indonesia, 29 Juli 2026 — Iran menegaskan tidak ada perundingan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan membantah klaim Donald Trump bahwa Selat Hormuz telah kembali dibuka. Menurut Teheran, pembahasan yang saat ini berlangsung hanya dilakukan dengan Oman terkait kemungkinan pembukaan jalur pelayaran sementara.
Pernyataan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah dan dikutip Fars News Agency, Selasa malam (28/7).
Baca juga: Pentagon Manipulasi Data Korban Perang dengan Iran
“Kami sama sekali tidak berunding dengan Amerika Serikat. Mengenai klaim bahwa Selat Hormuz telah dibuka, itu tidak benar. Di mana Selat Hormuz disebut terbuka?” kata Gharibabadi.
Menurutnya, lalu lintas beberapa kapal yang sesekali melintas tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan Selat Hormuz telah kembali beroperasi normal.
Gharibabadi menjelaskan bahwa Iran dan Oman baru membahas kemungkinan jalur pelayaran sementara sebagai alternatif di Selat Hormuz. Ia menegaskan belum ada rencana ataupun pembicaraan dengan Amerika Serikat. Jika tercapai kesepahaman dengan Oman, barulah Iran akan mempertimbangkan langkah berikutnya, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz yang dikaitkan dengan isu perang, blokade, dan sanksi.
Iran Kaji Opsi Keluar dari NPT
Dalam wawancara tersebut, Gharibabadi juga menyatakan bahwa kemungkinan Iran keluar dari Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) merupakan isu yang sah untuk dikaji dari aspek hukum, strategis, dan fikih.
Ia mengatakan Iran telah menghentikan inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA), kecuali untuk keperluan teknis tertentu seperti pengisian bahan bakar di PLTN Bushehr atas permintaan Teheran.
Menurutnya, Iran telah dua kali menjadi sasaran serangan terhadap fasilitas nuklir damainya. Berdasarkan ketentuan NPT, sebuah negara berhak mengundurkan diri dari perjanjian dengan pemberitahuan 90 hari apabila kepentingan keamanan nasionalnya terancam.
“Ini bukan isu yang tabu untuk dibahas. Jangan sampai pihak lain menganggap Iran akan terikat selamanya pada perjanjian ini,” ujarnya.
Baca juga: Iran Tegas Tolak Proposal AS, Delegasi Amerika Tinggalkan Perundingan
Hormuz Tetap di Bawah Kendali Iran
Gharibabadi menegaskan rezim hukum Selat Hormuz berbeda antara masa damai dan masa perang. Dalam kondisi perang, kata dia, Iran tetap menguasai selat tersebut dan tidak akan mengakui jalur pelayaran di sisi selatan sebagai rute permanen.
Ia juga membantah anggapan bahwa tekanan ekonomi mendorong Iran membuka ruang perundingan. Menurutnya, Iran telah puluhan tahun hidup di bawah sanksi dan tidak akan mengubah kebijakan strategisnya karena tekanan tersebut.
Selain itu, ia mengklaim militer Iran telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan serta menuduh Washington menyembunyikan jumlah korban yang sebenarnya.
Terkait pembersihan ranjau di Selat Hormuz, Gharibabadi mengatakan Iran tidak mengizinkan Oman melibatkan negara ketiga dalam operasi tersebut demi menjaga kepentingan keamanan nasionalnya. []
Baca juga: Jenderal Iran: Gencatan Senjata Trump Hanya Kedok Rebut Selat Hormuz







