Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Ultimatum Kapal Penerima Aset Bekunya Melintasi Selat Hormuz

Published

on

Juru Bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran menyampaikan ultimatum terkait penggunaan aset Iran yang dibekukan dan akses pelayaran di Selat Hormuz.

Ahlulbait Indonesia, 29 Juli 2026 — Iran memperingatkan bahwa setiap negara maupun perusahaan yang menerima dana dari aset Iran yang dibekukan tidak akan diizinkan melintasi Selat Hormuz.

Menurut laporan Fars News Agency pada Rabu (29/7), peringatan itu disampaikan Juru Bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Kolonel Ibrahim Zolfaghari, sebagai respons atas rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk membayar kompensasi kepada kapal-kapal yang mengalami kerusakan selama perang melawan Iran.

Baca juga: CNN: Dua Wajah Trump, Ancam Iran di Depan Publik, Negosiasi di Balik Layar

Zolfaghari mengatakan Trump berencana menyalurkan kompensasi bagi kapal-kapal yang rusak akibat situasi keamanan yang, menurut Iran, dipicu oleh tindakan militer Amerika Serikat serta pelayaran melalui jalur selatan Selat Hormuz yang dianggap ilegal dan tidak aman. Dana kompensasi tersebut, kata dia, akan diambil dari aset Iran yang dibekukan.

Baca juga: Araghchi: Iran Tak Takut Ancaman dan Tak Akan Tunduk pada Tekanan

Iran mengecam rencana itu sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional dan memperingatkan akan memberikan respons apabila kebijakan tersebut direalisasikan.

“Kami memperingatkan Presiden kriminal Amerika mengenai konsekuensi dari tindakan ilegal ini. Kepada seluruh perusahaan dan negara yang menerima tawaran Trump serta menggunakan aset Iran yang dibekukan dengan dalih tersebut, kami tegaskan bahwa mulai saat ini Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran tidak akan mengizinkan kapal-kapal mereka melintasi Selat Hormuz,” ujar Zolfaghari.

Pernyataan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Teheran dan Washington. Iran juga kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi salah satu instrumen strategis yang dapat digunakan sebagai respons terhadap kebijakan Amerika Serikat. []

Baca juga: IRGC Rilis Rincian Aset Udara Strategis AS yang Dihancurkan dalam Operasi Nasr 2