Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Pangkalan Rusak Diserang Iran, Pentagon Kaji Ulang Kehadiran Militer di Teluk

Published

on

Kajian Pentagon membuka perdebatan baru mengenai masa depan pangkalan AS dan komitmen keamanan Washington di kawasan Teluk.
Kajian Pentagon membuka perdebatan baru mengenai masa depan pangkalan AS dan komitmen keamanan Washington di kawasan Teluk.

Media ABI, 19 Agustus 2026 – Pentagon tengah mengkaji kemungkinan mengurangi kehadiran militer Amerika Serikat di Teluk Persia sekaligus meninjau kembali rencana pembangunan pangkalan yang rusak selama perang dengan Iran. Kajian ini membuka kemungkinan perubahan cara Washington menempatkan kekuatan militernya di Timur Tengah setelah perang.

Menurut laporan Fars News Agency pada Rabu (19/8/2026), delapan sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, termasuk pejabat dan orang-orang yang mendapat informasi mengenai kajian di Washington, mengatakan kepada The Washington Post bahwa Pentagon sedang mengevaluasi kembali keberadaan militernya di Timur Tengah.

Salah satu pilihan yang tengah dipertimbangkan adalah menarik sebagian pasukan AS dari Teluk Persia. Sejumlah pangkalan militer utama Amerika di kawasan itu mengalami kerusakan akibat serangan rudal dan drone Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: Iran Mengubah Cara Menjaga Langitnya Setelah Perang 12 Hari

Kerusakan tersebut memberi Pentagon kesempatan untuk menilai kembali kebutuhan militernya di kawasan. Kementerian Pertahanan AS sebelumnya telah memberi sinyal bahwa pangkalan yang rusak belum tentu dibangun kembali dengan bentuk dan kapasitas seperti sebelum perang.

Kajian itu dipimpin oleh kantor kebijakan Pentagon. Seorang pejabat senior mengatakan Kepala Staf Gabungan dan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM juga sedang mempelajarinya.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth belum memerintahkan peninjauan resmi terhadap posisi militer Amerika di kawasan. Kajian yang berlangsung saat ini disebut sebagai bentuk perencanaan hati-hati untuk membantu menentukan langkah berikutnya, termasuk mengenai pembangunan kembali pangkalan yang rusak.

Kerusakan Perang Mulai Mengubah Perhitungan Pentagon

Perang dengan Iran yang dimulai pada Februari membawa kerugian besar bagi militer Amerika Serikat. Berdasarkan laporan The Washington Post, enam personel militer AS tewas dalam serangan pada Maret terhadap Pelabuhan Shuaiba di Kuwait. Lebih dari 200 fasilitas Amerika Serikat juga mengalami kerusakan atau kehancuran selama konflik.

Militer AS turut menggunakan lebih dari 1.000 rudal pencegat pertahanan udara canggih selama perang.

Biaya perang diperkirakan mencapai sekitar 37,5 miliar dolar AS hingga akhir September. Angka tersebut belum mencakup biaya untuk memperbaiki pangkalan-pangkalan Amerika yang rusak di kawasan.

American Enterprise Institute pada April memperkirakan perbaikan pangkalan AS yang menjadi sasaran serangan membutuhkan sekitar 5 miliar dolar AS.

Besarnya kerusakan dan biaya tersebut kini ikut memengaruhi perdebatan mengenai masa depan kehadiran militer Amerika Serikat di Teluk Persia. Sumber yang mengetahui kajian Pentagon mengatakan pembahasan itu kemungkinan memperuncing perbedaan pandangan di dalam pemerintahan Presiden Donald Trump.

Baca juga: Konflik Iran Berlanjut, Kapal Induk AS Terancam Lama di Galangan

Satu kelompok masih mendukung keterlibatan militer Amerika yang kuat di kawasan. Kelompok lain berpendapat bahwa Pentagon perlu mengurangi sebagian komitmen keamanan di Timur Tengah agar sumber daya dapat lebih diarahkan untuk mempertahankan wilayah Amerika Serikat atau menghadapi China.

Komandan CENTCOM Laksamana Bradley Cooper juga disebut mendukung pembahasan mengenai kemungkinan memindahkan sebagian pasukan Amerika Serikat dari Teluk Persia ke wilayah yang lebih jauh ke barat.

Sekutu Teluk Mulai Menghadapi Ketidakpastian

Perubahan posisi militer Amerika Serikat akan berdampak langsung pada negara-negara Teluk yang selama puluhan tahun mengandalkan kekuatan Washington untuk membantu menjaga keamanan mereka.

Jika jumlah pasukan AS dikurangi, Kuwait, Bahrain dan Uni Emirat Arab dapat menghadapi tantangan lebih besar dalam menghadapi serangan Iran. Membangun kemampuan pertahanan sendiri atau mencari dukungan dari kekuatan lain untuk menutup kekurangan tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Prosesnya dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Serangan balasan Iran terhadap pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan juga menimbulkan kekecewaan di antara sejumlah sekutu utama Washington. Mereka merasa tidak memperoleh konsultasi yang memadai dari pemerintahan Trump sebelum perang dimulai.

Kondisi tersebut menambah persoalan bagi Washington. Pengurangan pasukan mungkin dapat mengurangi risiko terhadap personel dan fasilitas Amerika, tetapi pada saat yang sama dapat membuat sekutu regional merasa kurang terlindungi.

Baca juga: Velayati: Keluarga Amerika Kini Membayar Tunai Judi Politik Para Pemimpinnya

Sejumlah Pilihan Mulai Dibahas

Sejumlah alternatif penempatan pasukan mulai muncul dalam pembahasan mengenai masa depan kehadiran militer Amerika di kawasan.

Mantan diplomat AS Michael Ratney mengusulkan pemindahan pasukan dan peralatan ke arah barat, termasuk ke Yordania, Israel atau kawasan pesisir Laut Merah di Arab Saudi. Langkah tersebut dinilai dapat mengurangi kerentanan pasukan Amerika terhadap serangan Iran.

Namun, pilihan itu juga tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah. Iran sebelumnya telah menunjukkan kemampuan menyerang sasaran yang berada jauh dari wilayahnya, termasuk di Yordania dan Israel.

Lembaga pemikir Defense Priorities mengusulkan agar Amerika Serikat menutup pangkalan yang berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran, termasuk pangkalan di Kuwait. Pasukan kemudian dapat dipindahkan ke fasilitas yang dinilai lebih aman, seperti Pangkalan Udara Prince Sultan di dekat Riyadh.

Kelompok yang mengambil posisi lebih keras justru mendorong pemindahan pasukan Amerika Serikat ke Israel. Gagasan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah pihak dalam pemerintahan Trump karena kekhawatiran terkait kontraintelijen.

Keputusan Besar Masih Menunggu

Meskipun kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada Juni telah runtuh dan serangan sporadis masih berlangsung, peninjauan terhadap kehadiran militer Washington di Timur Tengah tampaknya mulai menjadi persoalan penting bagi Pentagon.

Baca juga: Skandal USS Abraham Lincoln Menyeret Angkatan Laut AS

Namun, perubahan permanen belum berada di depan mata. Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan setiap keputusan mengenai perubahan posisi militer Amerika Serikat masih membutuhkan persetujuan pejabat senior pemerintahan.

Washington pada akhirnya harus menentukan arah yang akan diambil. Pangkalan yang rusak dapat dibangun kembali seperti sebelumnya, jumlah pasukan di kawasan dapat dikurangi, atau sebagian kekuatan militer dapat dipindahkan ke lokasi baru.

Pilihan tersebut bukan hanya menyangkut biaya dan keselamatan pasukan Amerika Serikat. Keputusan itu juga dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Timur Tengah dan hubungan Washington dengan negara-negara yang selama ini menjadi sekutu utamanya di kawasan. []

Baca juga: Kondisi USS Abraham Lincoln Picu Kemarahan Kongres AS