Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Trump Minta Iran Tidak Membalas Serangan AS

Published

on

Trump meminta Iran tidak membalas serangan AS dan mengancam akan melancarkan serangan baru jika Teheran merespons.
Trump meminta Iran tidak membalas serangan AS dan mengancam akan melancarkan serangan baru jika Teheran merespons.

Media ABI, 2 September 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Iran tidak membalas serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah wilayah di selatan Iran. Trump memperingatkan bahwa Teheran akan kembali diserang apabila merespons operasi Washington.

Dalam pesan yang diunggah di Truth Social pada Rabu (2/9/26), Trump menyebut serangan Amerika Serikat terhadap sasaran di Iran sebagai tindakan yang sepenuhnya dibenarkan.

Baca juga: IRGC Gempur Pangkalan AS di Irak dengan Rudal dan Drone

Ia mengatakan Iran akan kembali menjadi sasaran serangan apabila pasukan bersenjatanya merespons operasi militer Amerika Serikat pada malam itu.

Pada Selasa dini hari, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah wilayah di selatan Iran. Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM juga mengonfirmasi adanya serangan terhadap sasaran di wilayah Iran.

Menanggapi serangan tersebut, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menyesali serangan terbarunya. Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran juga menyatakan Washington akan menanggung konsekuensi berat.

Dalam pesan yang sama, Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan serangan pada malam itu bukan operasi terbesar yang dapat dilakukan Amerika Serikat dan memperingatkan bahwa serangan yang lebih besar masih dapat dilakukan.

Baca juga: Serangan Iran Meluas, Ledakan Guncang Kuwait, Bahrain, dan Erbil

Menurut laporan Kantor Berita Fars, pernyataan Trump muncul ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat, sementara pasukan bersenjata Iran telah melancarkan serangkaian operasi terhadap kepentingan dan posisi militer Amerika Serikat di kawasan.

Ketegangan juga berpusat pada Selat Hormuz, yang hingga kini menjadi salah satu titik utama dalam konfrontasi antara kedua negara. []

Baca juga: Mantan Menlu Jerman: Tak Ada Kekuatan yang Mampu Membuka Selat Hormuz