Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Lieberman: Kesepakatan Iran-AS sebagai “Bencana Politik Terbesar” bagi Tel Aviv

Published

on

Ketua partai oposisi Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, mengkritik keras kesepakatan Iran-Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai ancaman strategis bagi kepentingan Israel. (Foto: Reuters)
Ketua partai oposisi Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, mengkritik keras kesepakatan Iran-Amerika Serikat dan menyebutnya sebagai ancaman strategis bagi kepentingan Israel. (Foto: Reuters)

Ahlulbait Indonesia, 23 Juni 2026 — Kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat terus memicu reaksi di Israel. Ketua partai oposisi Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, menyebut proses diplomasi yang sedang berlangsung antara Washington dan Teheran sebagai “bencana politik terbesar” yang dihadapi Israel sejak berdirinya negara tersebut.

Menurut laporan IRNA pada Senin (22/6), Lieberman menyampaikan pernyataan itu melalui akun pribadinya di platform X. Mantan menteri pertahanan Israel tersebut menilai kesepakatan yang tengah dibangun akan merugikan kepentingan strategis Israel dan mengubah keseimbangan politik kawasan.

Baca juga: Iran dan Oman Bahas Tata Kelola Baru Selat Hormuz Pasca Perang

“Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran merupakan bencana politik terbesar sejak berdirinya Israel,” tulis Lieberman.

Dia juga mengkritik pendekatan yang menurutnya lebih mengutamakan kepentingan ekonomi global dibandingkan pertimbangan keamanan Israel.

“Kita harus bertindak berdasarkan kepentingan Israel, bukan berdasarkan harga bahan bakar di pasar global,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul ketika proses implementasi Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad mulai berjalan. Kesepakatan yang ditandatangani Iran dan Amerika Serikat itu mencakup pelonggaran bertahap sanksi terhadap Iran, pemulihan jalur perdagangan melalui Selat Hormuz, serta perundingan lanjutan untuk mencapai kesepakatan komprehensif dalam waktu 60 hari.

Kritik Lieberman menambah daftar suara keberatan dari kalangan politik Israel terhadap perkembangan hubungan Washington dan Teheran. Sejumlah tokoh oposisi menilai proses tersebut dapat mengurangi tekanan internasional terhadap Iran sekaligus mengubah konfigurasi keamanan di Timur Tengah.

Baca juga: Gedung Putih: Trump Tidak Akan Menandatangani Kesepakatan yang Merugikan AS

Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, Lieberman juga melancarkan kritik keras terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dia menuduh Netanyahu gagal mempertahankan posisi tawar Israel dalam hubungannya dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lieberman bahkan pernah menyebut Netanyahu telah berubah menjadi “karung tinju” politik bagi Trump. Menurutnya, pemerintah Israel tidak memberikan keleluasaan yang cukup kepada militer untuk menjalankan operasi yang dianggap perlu dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan.

Meningkatnya kritik dari kalangan oposisi menunjukkan bahwa kesepakatan Iran-Amerika Serikat tidak hanya memengaruhi dinamika hubungan internasional, tetapi juga mulai memicu perdebatan politik di dalam negeri Israel. Seiring berjalannya proses implementasi MoU Islamabad, perbedaan pandangan mengenai dampak kesepakatan tersebut diperkirakan akan semakin menonjol dalam lanskap politik Israel. []

Baca juga: Empat Negara Sepakati Kerangka Negosiasi Baru, AS Izinkan Penjualan Minyak Iran