Internasional
Gedung Putih: Trump Tidak Akan Menandatangani Kesepakatan yang Merugikan AS

Ahlulbait Indonesia, 23 Juni 2026 — Gedung Putih menegaskan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun dengan Iran yang dinilai bertentangan dengan kepentingan nasional dan keamanan Amerika Serikat.
Menurut laporan Fars News Agency pada Selasa (23/6/2026), pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt dalam wawancara dengan Fox News saat membela kesepahaman awal yang dicapai antara Washington dan Teheran.
Dalam wawancara itu, Leavitt kembali mengangkat isu program nuklir Iran dan menyatakan bahwa Trump berkomitmen mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Klaim tersebut berulang kali dibantah oleh Iran yang menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata bertujuan damai.
Baca juga: Empat Negara Sepakati Kerangka Negosiasi Baru, AS Izinkan Penjualan Minyak Iran
“Presiden Trump telah memiliki posisi yang sangat jelas mengenai isu ini selama beberapa dekade. Siapa pun yang memilihnya mengetahui hal tersebut dengan baik,” kata Leavitt.
Ia juga menanggapi gejolak harga energi yang terjadi setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurutnya, dampak ekonomi yang muncul hanya bersifat sementara dan mulai mereda setelah tercapainya kesepahaman awal kedua negara.
Leavitt mengklaim harga minyak mulai turun setelah penandatanganan nota kesepahaman tersebut dan menyebut perkembangan itu sesuai dengan prediksi yang sebelumnya disampaikan Trump.
“Setelah penandatanganan kesepahaman terbaru, kita melihat harga minyak turun sebagaimana yang diperkirakan Presiden Trump. Harga-harga mulai menurun dan akan kembali ke tingkat sebelum perkembangan terakhir terkait Iran,” ujarnya.
Terkait proses negosiasi yang berlangsung selama 60 hari, Leavitt meminta publik memberikan kepercayaan kepada tim perunding Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Menurutnya, tim tersebut telah membuktikan kemampuannya dalam menangani berbagai isu diplomatik yang sebelumnya dinilai sulit diselesaikan.
Baca juga: Kementerian Keuangan AS Keluarkan Pengecualian Sanksi untuk Ekspor Minyak Iran
Leavitt menegaskan bahwa pemerintahan Trump akan melanjutkan perundingan dengan berpegang pada prinsip America First.
“Mereka akan melanjutkan negosiasi dan memastikan bahwa pada akhirnya kita mencapai kesepakatan yang memenuhi kebutuhan serta kepentingan rakyat Amerika dan negara kita,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Trump tidak akan menandatangani kesepakatan yang dinilai merugikan Amerika Serikat.
“Saya yakin Presiden Trump tidak akan pernah menandatangani kesepakatan yang tidak melayani negara ini dan kepentingan keamanan nasional kami. Ia selalu berpegang pada prinsip America First dan menempatkan kepentingan Amerika sebagai prioritas,” ujar Leavitt.
Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Trump menanggapi pertanyaan mengenai pembebasan aset Iran yang sebelumnya dibekukan. Trump mengklaim dana yang dicairkan akan digunakan untuk pembelian kebutuhan pangan dan bahwa transaksi tersebut akan dilakukan melalui Amerika Serikat serta para petani Amerika.
Isu pembebasan aset menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam implementasi kesepahaman awal Iran-Amerika Serikat, di samping pembahasan mengenai energi, sanksi, dan mekanisme perundingan lanjutan. []
Baca juga: Iran Bantah Klaim JD Vance soal Perundingan Swiss







