Internasional
Iran dan Oman Bahas Tata Kelola Baru Selat Hormuz Pasca Perang

Ahlulbait Indonesia, 23 Juni 2026 — Iran dan Oman memulai pembahasan mengenai pengaturan baru Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia. Pembicaraan ini berlangsung di tengah upaya menjaga keamanan maritim kawasan setelah berakhirnya konflik regional dan tercapainya kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Press TV pada Selasa (23/6/2026), Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad al-Busaidi di Muscat untuk membahas mekanisme pengelolaan dan keamanan Selat Hormuz.
Baca juga: Gedung Putih: Trump Tidak Akan Menandatangani Kesepakatan yang Merugikan AS
Qalibaf tiba di Oman pada Senin malam setelah menyelesaikan rangkaian perundingan di Swiss dan melakukan kunjungan singkat ke Teheran. Ia memimpin delegasi Iran dalam konsultasi resmi dengan pemerintah Oman mengenai pengaturan baru di selat yang menjadi jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia tersebut.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Oman menyebut kedua pihak meninjau perkembangan hubungan bilateral dan peluang peningkatan kerja sama yang sejalan dengan kepentingan bersama.
Menteri Luar Negeri Oman mengatakan pembahasan juga mencakup implementasi nota kesepahaman yang baru ditandatangani Iran dan Amerika Serikat, khususnya ketentuan yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
“Kami menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan jaminan keselamatan pelayaran,” ujar Badr al-Busaidi.
Kedua pihak juga bertukar pandangan mengenai perkembangan terbaru di kawasan dan menegaskan pentingnya memanfaatkan momentum diplomatik yang ada untuk memperkuat perdamaian, stabilitas, dan pengurangan ketegangan.
Menurut pernyataan bersama, kerja sama tersebut diharapkan dapat meningkatkan keamanan kawasan, menjamin keselamatan pelayaran di Selat Hormuz, serta menjaga keamanan jalur perairan internasional yang menjadi bagian penting dari rantai pasok energi global.
Baca juga: Fasilitas Gas Strategis Qatar Diguncang Ledakan, 13 Tewas dan 66 Terluka
Pertemuan itu turut dihadiri Duta Besar Keliling (Duta Besar Keliling atau Ambassador-at-Large adalah seorang diplomat berpangkat tertinggi yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk mewakili kepentingan negara secara lintas kawasan, menangani isu-isu global spesifik, atau menjalankan misi khusus tanpa terikat pada satu negara atau organisasi internasional tertentu. Red Media ABI) Oman Sheikh Abdulaziz bin Abdullah al-Hinai, Duta Besar Iran untuk Oman Mousa Farhang, serta sejumlah pejabat dari kedua negara.
Kunjungan Qalibaf berlangsung di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap keamanan Selat Hormuz yang menjadi jalur transit bagi sebagian besar ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia.
Sebelumnya, Qalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali pada kondisi sebelum perang dan akan dikelola Iran sesuai prinsip-prinsip hukum internasional.
Pembahasan di Muscat juga menjadi bagian dari tindak lanjut nota kesepahaman Iran-Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pengaturan keamanan pelayaran, serta perundingan lanjutan mengenai pencabutan sanksi dan stabilitas kawasan. []
Baca juga: Delegasi Iran Tinggalkan Perundingan Swiss sebagai Protes atas Ancaman Trump







