Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Laporan Investigasi: 130 Perusahaan dari 24 Negara Terlibat dalam Rantai Pasok Militer Israel

Published

on

Demo boikot Israel. (Foto: shutterstock)
Sejumlah perusahaan pertahanan, teknologi, energi, dan logistik global disebut dalam investigasi Arabi Post sebagai bagian dari rantai pasok yang menopang operasional militer Israel selama konflik berlangsung. (Ilustrasi: shutterstock)

Ahlulbait Indonesia, 6 Juni 2026 – Sebuah investigasi lapangan yang dipublikasikan Arabi Post mengungkap bahwa sedikitnya 130 perusahaan dari 24 negara di enam benua terlibat dalam penyediaan senjata, teknologi, logistik, energi, dan berbagai kebutuhan strategis bagi Israel selama lebih dari 30 bulan terakhir.

Baca juga: CNN: Israel Gunakan Azerbaijan sebagai Pangkalan Rahasia dalam Operasi terhadap Iran

Laporan yang dikutip Fars pada Sabtu (6/6/2026) menyebut jaringan industri dan bisnis multinasional tersebut tetap aktif meskipun berbagai lembaga internasional menyerukan penghentian pasokan senjata ke Israel di tengah konflik yang meluas dari Gaza ke Lebanon, Suriah, dan Iran.

Menurut investigasi tersebut, Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah perusahaan terbanyak dalam rantai pasok tersebut, yakni 43 perusahaan. Israel berada di posisi kedua dengan 22 perusahaan, disusul Jerman dengan sembilan perusahaan, Kanada sembilan perusahaan, India tujuh perusahaan, serta Inggris dan Serbia yang masing-masing memiliki enam perusahaan.

Boikot (shutterstock)

Boikot (shutterstock)

Laporan itu juga mencatat keterlibatan perusahaan-perusahaan dari Jepang, Korea Selatan, China, Norwegia, Rumania, Afrika Selatan, dan Australia, yang menunjukkan luasnya jangkauan geografis jaringan pendukung industri militer Israel.

Di antara perusahaan yang disebut dalam laporan tersebut terdapat sejumlah produsen senjata besar seperti Boeing, Lockheed Martin, Northrop Grumman, General Dynamics, dan RTX. Selain itu, perusahaan teknologi global seperti Microsoft, Google, Amazon, dan Palantir juga tercantum dalam daftar.

Perusahaan-perusahaan Eropa seperti Rheinmetall dari Jerman, BAE Systems dari Inggris, Thales dari Prancis, dan Leonardo dari Italia juga disebut sebagai bagian dari jaringan pemasok tersebut.

Baca juga: Investigasi Reuters Ungkap Starlink Jadi Tulang Punggung Operasi Militer AS terhadap Iran

Investigasi itu menegaskan bahwa dukungan terhadap Israel tidak terbatas pada sektor persenjataan. Lebih dari separuh perusahaan yang terlibat memang bergerak di bidang pertahanan dan industri militer, tetapi sebagian lainnya beroperasi di sektor logistik, transportasi, energi, teknologi informasi, pertambangan, elektronik, hingga alat berat.

Demo boikot Israel. (Foto: shutterstock)

Demo boikot Israel. (Foto: shutterstock)

Sejumlah perusahaan energi seperti Chevron, BP, Petrobras, Valero Energy, dan Delek Group disebut berada dalam rantai pasok tersebut. Sementara itu, perusahaan alat berat seperti Caterpillar, JCB, dan Hyundai juga tercantum dalam laporan.

Di sektor logistik, sejumlah maskapai kargo internasional dilaporkan berperan dalam pengiriman perlengkapan militer ke Israel, termasuk Atlas Air, Kalitta Air, Western Global Airlines, dan CAL Cargo Airlines.

Salah satu bagian yang paling menonjol dalam investigasi tersebut adalah pembahasan mengenai peran perusahaan teknologi. Laporan itu menyebut Microsoft, Google, dan Amazon menyediakan layanan komputasi awan dan pusat data yang digunakan untuk pengelolaan serta pemrosesan data dalam skala besar.

Sementara itu, Palantir disebut menyediakan perangkat lunak analitik dan pemrosesan data yang digunakan dalam operasi militer. Mengutip pernyataan seorang pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, laporan tersebut menyatakan bahwa konflik yang berlangsung telah menjadi sumber keuntungan ekonomi bagi sejumlah perusahaan yang terlibat.

Baca juga: Trump: Saya Akan Merasa Terhormat Bertemu Pemimpin Baru Iran

Investigasi itu juga menyoroti nilai kontrak yang sangat besar antara Amerika Serikat dan Israel. Boeing disebut menandatangani kontrak pengadaan 25 pesawat tempur F-15IA bernilai miliaran dolar, sementara paket persenjataan lainnya mencakup miliaran dolar untuk amunisi dan helikopter Apache.

Berdasarkan data yang dikutip dari Associated Press, bantuan militer langsung Amerika Serikat kepada Israel sejak Oktober 2023 hingga September 2025 diperkirakan mencapai sedikitnya US$21,7 miliar.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa operasi militer Israel ditopang bukan hanya oleh bantuan pemerintah, tetapi juga oleh jaringan luas perusahaan multinasional yang memasok berbagai kebutuhan mulai dari senjata, bahan bakar, teknologi informasi, layanan logistik, hingga perangkat lunak analitik. []

Baca juga: Iran Siapkan Pemakaman Akbar Imam Syahid Ali Khamenei