Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Investigasi Reuters Ungkap Starlink Jadi Tulang Punggung Operasi Militer AS terhadap Iran

Published

on

Laporan Reuters menyebut Starlink dan Starshield mendukung serangan drone AS selama konflik dengan Iran pada 2025 dan 2026. (Dok. Getty Images)

Ahlulbait Indonesia, 5 Juni 2026 — Investigasi Reuters mengungkap bahwa jaringan satelit Starlink milik SpaceX memainkan peran sentral dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran selama konflik pada Juni 2025 dan Februari 2026. Berdasarkan dokumen Pentagon dan wawancara dengan sejumlah sumber, teknologi yang dipasarkan sebagai layanan internet sipil itu disebut menjadi infrastruktur komunikasi utama berbagai sistem serangan militer Washington.

Baca juga: Media Israel: Jebakan “Starlink” dan Cara Iran Mengubah Jaringan Itu Menjadi Alat Intelijen

Laporan itu menyebut teknologi satelit yang selama ini dipasarkan sebagai infrastruktur komunikasi sipil telah menjadi tulang punggung operasional berbagai sistem militer Amerika Serikat, termasuk serangan pesawat nirawak terhadap wilayah Iran.

Menurut Reuters, SpaceX sejak 2023 menyediakan layanan khusus militer bernama Starshield kepada Pentagon. Sistem tersebut memungkinkan terminal militer terhubung dengan konstelasi satelit yang lebih aman selain jaringan Starlink komersial.

Saat konflik pecah, Starlink disebut telah menjadi komponen utama dalam berbagai operasi militer Amerika Serikat. Teknologi itu digunakan untuk mendukung beragam platform, mulai dari drone serang udara hingga kapal nirawak yang menjalankan misi pengintaian dan serangan maritim.

Investigasi Reuters juga menyebut terminal Starshield digunakan pada lebih dari selusin sistem drone militer Amerika Serikat. Jaringan tersebut menyediakan transmisi video secara real time dan panduan komando bagi amunisi jelajah LUCAS yang dikembangkan berdasarkan rekayasa balik drone Shahed milik Iran.

Selain penggunaan resmi oleh militer Amerika Serikat, laporan itu mengungkap keberadaan ribuan terminal Starlink yang diduga diselundupkan ke Iran.

Mengutip laporan The Wall Street Journal, sekitar 6.000 terminal Starlink dilaporkan masuk ke Iran pada Januari 2026. Sebagian besar berasal dari pengadaan hampir 7.000 unit yang didanai Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melalui program yang diklaim bertujuan membantu aktivis mengakses internet ketika terjadi pembatasan jaringan di Iran.

Baca juga: Trump: Saya Akan Merasa Terhormat Bertemu Pemimpin Baru Iran

Sejak 2022, jumlah terminal Starlink yang diperkirakan masuk secara ilegal ke Iran disebut berkisar antara 30.000 hingga 50.000 unit.

Reuters menyebut keterlibatan pemerintah Amerika Serikat berlangsung secara langsung dan terencana. Laporan tersebut juga mengutip sumber yang menyatakan Presiden Donald Trump mengetahui proses pengiriman teknologi berfungsi ganda itu ke Iran, ketika perangkat yang sama digunakan untuk mendukung operasi drone militer.

Di negara-negara Barat, penyelundupan terminal tersebut kerap dipromosikan sebagai bagian dari upaya mendukung kebebasan internet. Namun dokumen Pentagon yang ditinjau Reuters menunjukkan perangkat yang sama juga terintegrasi dalam jaringan operasional militer Amerika Serikat.

Di sisi lain, pemerintah Iran telah meningkatkan langkah pengawasan terhadap penggunaan Starlink. Otoritas keamanan negara itu menyita sejumlah terminal serta memasang perangkat pengacau sinyal di berbagai kota besar guna mengganggu koneksi satelit.

Kementerian Intelijen Iran menyatakan perangkat Starlink digunakan untuk aktivitas spionase elektronik dan sabotase. Pemerintah Iran bahkan mengategorikan terminal tersebut sebagai barang yang mengancam keamanan nasional.

Baca juga: Iran Resmikan Pusat Pengobatan Kanker Terbesar di Asia Barat

Pada Januari 2026, ketika kerusuhan yang menurut pemerintah Iran didukung pihak asing terjadi di sejumlah wilayah, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Amerika Serikat mempercepat pengiriman terminal Starlink ke negara tersebut.

Temuan Reuters memperlihatkan semakin kaburnya batas antara teknologi sipil dan kepentingan militer dalam konflik modern. Sistem satelit yang awalnya dipromosikan sebagai sarana memperluas akses internet kini menjadi bagian dari perdebatan global mengenai penggunaan teknologi komersial dalam operasi militer, pengumpulan intelijen, dan persaingan geopolitik antarnegara. []

Baca juga: UEA Tutup Paksa Rumah Sakit Bulan Sabit Merah Iran di Dubai, Aset Dibekukan