Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Trump: Saya Akan Merasa Terhormat Bertemu Pemimpin Baru Iran

Published

on

Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, saat pengumuman terkait batu bara, 4 Juni 2026. (AFP)
Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, 4 Juni 2026. (Foto: AFP)

Ahlulbait Indonesia, 5 Juni 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya akan merasa “terhormat” untuk bertemu Pemimpin Revolusi Islam Iran yang baru, Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, jika Washington dan Teheran berhasil mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik antara kedua negara. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, Kamis (4/6), sebagaimana dilaporkan Press TV.

Baca juga: Al-Monitor Bongkar Rencana AS-Israel Gulingkan Iran Lewat Separatis Kurdi

“Saya akan merasa terhormat untuk bertemu dengannya,” ujar Trump. “Jika kami mencapai kesepakatan, sangat mungkin saya akan bertemu dengannya. Saya tidak keberatan dengan hal itu.”

Meskipun membuka kemungkinan pertemuan dengan pemimpin baru Iran, pemerintahan Trump tetap mempertahankan kebijakan blokade laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran. Teheran berulang kali mengecam langkah tersebut karena dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April di Islamabad.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengungkapkan bahwa pemerintahannya pernah mempertimbangkan operasi rahasia untuk merebut cadangan uranium Iran yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi. Namun, rencana itu akhirnya dibatalkan karena dinilai berisiko menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam operasi militer berkepanjangan.

“Ada masa pada awal konflik ketika kami mempertimbangkan hal itu. Mereka mungkin tidak mengawasi saat itu, tetapi pada akhirnya mereka akan mengetahuinya,” kata Trump.

Trump mengaitkan keputusannya dengan kegagalan operasi militer Amerika Serikat di Iran pada 1980 yang dikenal luas sebagai salah satu faktor yang memperburuk posisi politik Presiden Jimmy Carter saat itu.

“Saya tidak ingin mengalami nasib seperti Jimmy Carter,” tegas Trump.

Baca juga: Subuh Berdarah di Mahyar, Isfahan: Kisah Pasukan Khusus Iran Melumpuhkan MC-130J Commando II AS

Menurut Trump, upaya memindahkan uranium Iran akan membutuhkan kehadiran pasukan dalam waktu lama di zona perang, disertai penggunaan peralatan berat dan operasi logistik berskala besar.

“Anda memerlukan peralatan yang sangat besar untuk mengangkut semuanya lewat udara, dan Anda berada di zona perang,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap kegagalan operasi militer Amerika Serikat di wilayah Isfahan pada awal April lalu. Menurut laporan eksklusif Press TV, pasukan Amerika Serikat dan kemungkinan juga Israel melakukan pengintaian udara secara intensif sebelum operasi tersebut dilaksanakan.

Laporan itu menyebut sejumlah pesawat dan helikopter dilaporkan hilang selama tahap persiapan operasi, termasuk sedikitnya satu pesawat serang A-10 Thunderbolt II dan dua helikopter Black Hawk.

Sumber yang dikutip Press TV menyatakan bahwa tujuan sebenarnya operasi tersebut bukan untuk menyelamatkan pilot pesawat tempur yang jatuh sebagaimana dinyatakan Washington, melainkan menyusup ke salah satu fasilitas nuklir Iran di Isfahan.

Baca juga: Bloomberg Ungkap Empat Poin Sengketa Utama Iran-AS

Lokasi pendaratan pesawat angkut C-130 disebut dipilih di dekat fasilitas strategis tersebut. Namun, aparat keamanan Iran diklaim telah mengantisipasi operasi itu sebelumnya.

Ketika pesawat C-130 pertama yang membawa pasukan khusus Amerika mendarat di landasan tanah yang telah ditinggalkan, pesawat dilaporkan keluar dari jalur. Tak lama kemudian, pesawat kedua yang membawa perlengkapan pendukung mendapat serangan dari pasukan Iran sehingga terpaksa melakukan pendaratan darurat.

Situasi itu membuat pasukan Amerika terjebak di lapangan, dan operasi yang semula disebut sebagai misi infiltrasi berubah menjadi upaya penyelamatan personel.

Laporan tersebut juga menyebut sejumlah personel Amerika meninggalkan perlengkapan militer saat mundur dari lokasi. Bahkan, pesawat tempur Amerika dilaporkan membombardir pesawat mereka sendiri guna mencegah peralatan dan dokumen penting jatuh ke tangan Iran. []

Baca juga: PBB Tegaskan Gaza Milik Palestina, Tolak Rencana Netanyahu Perluas Pendudukan