Internasional
Korban Tentara AS dalam Konflik Iran Tembus 624 Orang

Ahlulbait Indonesia, 27 Juli 2026 – CNN dalam laporannya yang berjudul “Iran war casualty count eclipses 600 as Pentagon quietly changes accounting“, yang dipublikasikan pada Senin (27/7/2026), mengungkap bahwa Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) secara diam-diam mengubah sistem pencatatan korban perang dengan Iran. Perubahan tersebut membuat jumlah korban militer AS yang tercatat mencapai 624 personel terluka dan 18 personel tewas.

CNN mengungkap perubahan diam-diam dalam pencatatan korban perang Iran oleh Departemen Pertahanan AS. (Foto: CNN)
Baca juga: Iran Siap Balas setelah Kapal Dagangnya Dihancurkan Ukraina
Menurut CNN, Pentagon menambahkan lebih dari 140 personel yang sebelumnya belum tercatat mengalami luka-luka serta kembali memasukkan empat prajurit yang tewas akibat serangan Iran ke dalam basis data resmi korban perang. Pembaruan itu dilakukan tanpa pengumuman resmi dan baru diketahui setelah CNN menelusuri perubahan pada Defense Casualty Analysis System (DCAS).
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa Pentagon mengubah metode pelaporan dengan membuat kategori baru bertajuk “Overseas Operations”, yang digunakan untuk mengelompokkan korban sejak kembali pecahnya pertempuran pada awal Juli. Perubahan ini memicu pertanyaan mengenai transparansi pelaporan korban perang oleh pemerintah Amerika Serikat.
Sementara itu, Tasnim News Agency melaporkan bahwa Pentagon kini mencatat total 18 personel militer AS tewas dan 624 lainnya terluka sejak perang dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Pentagon juga menyatakan bahwa empat personel tewas dan lebih dari 140 lainnya terluka akibat serangan Iran dalam beberapa hari terakhir, yang kemudian dimasukkan ke dalam data resmi korban perang.
Baca juga: Kepala Staf Gabungan AS Ingatkan Trump akan Bahaya Perang dengan Iran
Sejumlah anggota Kongres AS dan pengamat pertahanan mempertanyakan perubahan metode pencatatan tersebut serta mendesak Pentagon memberikan penjelasan yang lebih transparan mengenai jumlah korban dan dasar klasifikasi yang digunakan. Hingga kini, Pentagon belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan perubahan sistem pencatatan tersebut. []
Baca juga: Invasi Darat ke Iran Akan Menenggelamkan AS dalam Rawa Perang







