Internasional
Hindari Serangan Iran, AS Pertimbangkan Pangkalan Militer Bawah Tanah

Media ABI, 9 September 2026 – Amerika Serikat mulai mempertimbangkan perubahan cara menempatkan kekuatan militernya di Timur Tengah setelah sejumlah pangkalan di kawasan menghadapi serangan rudal dan drone Iran.
Menurut laporan CNN yang dikutip Kantor Berita Tasnim pada Rabu, 9 September 2026, Pentagon bersama lembaga intelijen Amerika tengah mengkaji sejumlah pilihan untuk mengubah postur militernya di kawasan. Salah satu opsi yang dibahas adalah menempatkan sebagian fasilitas di bawah tanah untuk mengurangi kerentanan terhadap serangan.
Baca juga: IRGC Sebut Syarat Iran untuk Buka Kembali Selat Hormuz
Pangkalan Amerika di Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait disebut telah menjadi sasaran serangan rudal dan drone Iran. Kondisi tersebut mendorong Washington mengevaluasi kembali tingkat keamanan fasilitas yang selama ini menjadi bagian penting dari keberadaan militernya di Timur Tengah.
Pembahasan mengenai perlindungan fasilitas berlangsung bersamaan dengan rencana untuk mengurangi sebagian kehadiran pasukan Amerika di kawasan Teluk. CNN melaporkan sejumlah pejabat senior Pentagon secara pribadi mendukung pengurangan jumlah pasukan di beberapa negara Teluk, dengan porsi tanggung jawab pertahanan yang lebih besar diberikan kepada negara-negara kawasan.
Kerusakan yang terjadi pada sejumlah fasilitas juga membuat biaya menjadi pertimbangan. CNN menyebut Amerika mungkin tidak akan membangun kembali semua pangkalan yang rusak apabila biaya pemulihannya dinilai terlalu tinggi.
Dalam skenario tersebut, beberapa misi sensitif dapat dijalankan tanpa menempatkan pasukan secara permanen di kawasan. Personel dan peralatan dapat dikirim dari Amerika Serikat ketika diperlukan, lalu ditarik kembali setelah misi berakhir.
Baca juga: Pentagon Kembali Perbarui Data Korban Perang Iran, 820 Tentara Terluka dan 18 Tewas
Meski pilihan untuk mengurangi atau mengubah bentuk kehadiran militernya tengah dibahas, kekuatan Amerika di Timur Tengah masih cukup besar. Sekitar 50 ribu personel AS disebut tetap berada di kawasan, bersama dua kapal induk dan lebih dari 12 kapal perusak berpeluru kendali.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa serangan terhadap fasilitas Amerika telah mendorong Washington meninjau kembali pola penempatan militernya di Timur Tengah. Mempertahankan pangkalan dalam bentuk sekarang, mengurangi jumlah pasukan, atau mengubah sebagian fasilitas menjadi instalasi bawah tanah menjadi pilihan yang tengah diperhitungkan menurut laporan CNN. []
Baca juga: Dua Kapal AS, Delapan Tanker, dan 10 Kapal Pelanggar Jadi Sasaran IRGC







