Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Reuters Soroti Ancaman Rekayasa Balik Kapal Selam Nirawak AS

Published

on

Kapal selam nirawak Dive-LD buatan Anduril yang berhasil dikuasai Iran, sebuah perkembangan yang menurut Reuters membuka peluang bagi Teheran untuk mempelajari teknologi kendaraan bawah laut AS.
Kapal selam nirawak Dive-LD buatan Anduril yang berhasil dikuasai Iran, sebuah perkembangan yang menurut Reuters membuka peluang bagi Teheran untuk mempelajari teknologi kendaraan bawah laut AS.

Media ABI, 10 September 2026 – Penangkapan kapal selam nirawak Amerika Serikat oleh Iran membuka peluang bagi Teheran untuk mempelajari teknologi kendaraan bawah laut tersebut dan kemungkinan melakukan rekayasa balik. Reuters menilai perkembangan ini berpotensi menjadi pukulan bagi Pentagon dan Anduril, perusahaan yang mengembangkan serta memproduksi Dive-LD.

Dalam laporan yang dikutip Tasnim News Agency pada Kamis (10/9/2026), Reuters menyebut Dive-LD sebagai bagian dari generasi baru sistem militer nirawak. Kendaraan bawah laut otonom ini dirancang untuk menjalankan misi pengintaian jarak jauh dan operasi bawah permukaan selama beberapa hari dengan keterlibatan manusia yang sangat terbatas.

Baca juga: Media Barat Akui Kendaraan Nirawak AS Ditangkap Iran

Penilaian tersebut berbeda dengan keterangan pihak Amerika Serikat mengenai kendaraan yang berhasil dikuasai Iran. Pejabat Angkatan Laut AS menyebut Dive-LD sebagai model lama yang mengalami gangguan teknis hingga berhenti beroperasi dan tidak bergerak di perairan sebelum kemudian diambil pasukan Iran.

Anduril memberikan gambaran berbeda mengenai kemampuan kendaraan tersebut. Perusahaan itu menyebut Dive-LD sebagai kendaraan bawah laut otonom berukuran besar yang “paling andal dan fleksibel” yang tersedia dalam kelasnya. Anduril juga menyatakan kendaraan tersebut mampu beroperasi hingga 10 hari dalam kondisi sulit.

Bagi Iran, memanfaatkan peralatan militer Amerika Serikat yang berhasil diperoleh bukan hal baru. Pada 2011, Teheran mendapatkan pesawat nirawak pengintai siluman RQ-170. Presiden AS saat itu, Barack Obama, secara terbuka meminta Iran mengembalikan pesawat tersebut. Iran kemudian menyatakan telah merekayasa balik RQ-170 dan membuat sejumlah model yang tampaknya banyak mengambil inspirasi dari desain aslinya.

Reuters mencatat bahwa militer AS dalam beberapa tahun terakhir berupaya mencegah Iran memperoleh teknologi maritim nirawak. Salah satu upaya tersebut terjadi pada 2022 ketika sebuah kapal patroli Angkatan Laut AS dan helikopter MH-60S Seahawk dikerahkan setelah sebuah kapal Iran berusaha menarik kapal permukaan nirawak milik perusahaan SeaDrone di Teluk Persia.

Sejumlah analis yang diwawancarai Reuters menilai penangkapan Dive-LD menjadi kemenangan propaganda bagi Teheran sekaligus pukulan bagi Washington dalam upayanya mempertahankan citra keunggulan teknologi militer Amerika Serikat.

“Secara alami, Iran akan memanfaatkan setiap peluang sebagai kemenangan propaganda,” kata Farzin Nadimi, peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy.

Baca juga: Teknisi Iran Bersiap Membedah “Jeroan” Kapal Selam Nirawak AS

Menurut Nadimi, peristiwa tersebut dapat membantu Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengembangkan versi yang lebih baik dari rancangan teknologinya sendiri.

Brian Clark, peneliti senior sekaligus direktur Center for Defense Concepts and Technology di Hudson Institute, mengatakan Iran hampir pasti akan berupaya membongkar perangkat keras Dive-LD. Namun, menurut Clark, perangkat lunak kendaraan tersebut memiliki mekanisme pertahanan internal.

Para insinyur Iran, kata Clark, “pasti dapat merekayasa balik sistem mekanisnya”. Ia juga mengacu pada rekam jejak Teheran dalam mempelajari dan merekayasa balik peralatan militer Amerika Serikat yang berhasil diperolehnya.

Perbedaan keterangan mengenai Dive-LD kini menjadi bagian penting dari persoalan tersebut. Di satu sisi, Angkatan Laut AS menggambarkannya sebagai model lama yang mengalami gangguan teknis. Di sisi lain, Anduril menyebut kendaraan itu sebagai sistem bawah laut otonom yang mampu beroperasi hingga 10 hari dalam kondisi sulit.

Penangkapan tersebut karena itu menempatkan teknologi Dive-LD dalam sorotan, terutama terkait kemungkinan Iran mempelajari perangkat keras dan menggunakannya untuk mengembangkan kemampuan nirawaknya sendiri. []

Baca juga: Mengapa Washington Mengecilkan Arti Penting Kendaraan Nirawak yang Disita Iran