Internasional
Trump Hantam Pelabuhan dan Armada Nelayan Jask, Lebih dari 100 Kapal Musnah

Ahlulbait Indonesia, 27 Juli 2026 – Lebih dari 100 kapal nelayan di Kabupaten Jask, Provinsi Hormozgan, Iran, musnah akibat serangan militer Amerika Serikat. Serangan tersebut juga menghancurkan pelabuhan perikanan, stasiun pengisian bahan bakar nelayan, serta pusat pembenihan udang yang menjadi penopang ekonomi pesisir. Akibatnya, ribuan nelayan dan keluarga mereka kehilangan sumber mata pencaharian.
Laporan Mehr News Agency yang dipublikasikan pada Minggu (27/7/2026) menyebut kerusakan terbesar terjadi di Pelabuhan Perikanan Jask. Serangan juga menghantam Pelabuhan Gogsar di bagian timur dan Pelabuhan Kuh-e Mobarak di wilayah barat kabupaten tersebut.
Baca juga: Iran Siap Balas setelah Kapal Dagangnya Dihancurkan Ukraina
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jask, Ali Asghar Zarei, mengatakan sekitar 100 kapal nelayan yang sedang bersandar di pelabuhan utama Kota Jask menjadi sasaran rudal Amerika Serikat. Dalam serangan berikutnya, satu kapal nelayan kembali dihantam di Pelabuhan Gogsar, sementara satu kapal lainnya rusak di pelabuhan utama Jask.
Selain armada nelayan, Pelabuhan Perikanan Kuh-e Mobarak turut terdampak meski kerusakannya relatif terbatas. Dua pusat pembenihan udang juga mengalami kerusakan berat sehingga tidak lagi dapat beroperasi.
Kerugian awal diperkirakan mencapai sekitar 3.000 miliar toman atau sekitar US$16 juta (sekitar Rp260 miliar), dan masih berpotensi bertambah seiring proses pendataan. Zarei menjelaskan bahwa sebelum perang, harga satu kapal penangkap ikan laut lepas mencapai sekitar 80 miliar toman atau sekitar US$423 ribu (sekitar Rp6,9 miliar). Setelah konflik dan terganggunya industri pendukung, biaya pembangunan kapal meningkat tajam. Nilai tersebut belum termasuk peralatan penangkapan ikan yang diperkirakan mencapai 25 miliar toman atau sekitar US$132 ribu (sekitar Rp2,1 miliar) untuk setiap kapal.
Menurutnya, kerugian setiap kapal nelayan laut lepas diperkirakan berkisar antara 80 hingga 100 miliar toman (sekitar US$423 ribu hingga US$529 ribu atau sekitar Rp6,9 miliar hingga Rp8,6 miliar). Sementara itu, kapal nelayan pesisir mengalami kerugian sekitar 30 hingga 50 miliar toman (sekitar US$159 ribu hingga US$264 ribu atau sekitar Rp2,6 miliar hingga Rp4,3 miliar).
Untuk mengurangi kerusakan lebih lanjut, otoritas perikanan segera menginstruksikan para nelayan memindahkan kapal-kapal yang tersisa dari dermaga menuju teluk-teluk kecil yang lebih aman. Sebagian kapal yang masih berada di laut tetap menyalurkan hasil tangkapan ke pabrik pengalengan dan pasar guna menjaga pasokan pangan.
Baca juga: Pangkalan Militer AS di Al-Tanf Suriah Dihantam Rudal Iran
Meski demikian, aktivitas perikanan di Jask nyaris lumpuh. Setiap kapal nelayan laut lepas mempekerjakan sekitar 25 orang, sedangkan kapal nelayan pesisir mempekerjakan sekitar 10 orang. Musnahnya lebih dari 100 kapal membuat ribuan nelayan, awak kapal, dan pekerja sektor perikanan kehilangan mata pencaharian.
Perwakilan nelayan Jask, Amir Hossein Khosh, mengatakan serangan terhadap kapal-kapal sipil telah memusnahkan investasi yang dibangun para nelayan selama bertahun-tahun. Menurutnya, sebagian besar kapal dimiliki secara patungan sehingga hilangnya satu kapal berdampak langsung pada penghidupan beberapa keluarga sekaligus.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebuah kapal nelayan yang sedang membongkar muatan ikan di Pelabuhan Gogsar menjadi sasaran serangan. Insiden tersebut menewaskan dua awak kapal.

Ulama Ahlu Sunah Hormozgan, Maulvi Rashid Bandar, mengatakan sekitar 500 hingga 600 keluarga kehilangan sumber nafkah akibat hancurnya armada nelayan.
Sementara itu, ulama Ahlu Sunah Hormozgan, Maulvi Rashid Bandar, mengatakan sekitar 500 hingga 600 keluarga kehilangan sumber nafkah akibat hancurnya armada nelayan. Kondisi keamanan di laut selama konflik juga memaksa banyak nelayan menghentikan aktivitas sehingga tekanan ekonomi terhadap masyarakat pesisir semakin berat.
Baca juga: Media Israel: AS Bangun Jembatan Udara untuk Pasok Senjata ke Israel
Maulvi Bandar mendesak pemerintah mempercepat pemulihan sektor perikanan dan meminta media nasional memberi perhatian lebih besar terhadap kondisi masyarakat Jask. Menurutnya, sekitar 7.000 warga di wilayah tersebut terdampak secara langsung maupun tidak langsung oleh serangan terhadap infrastruktur perikanan.
Kabupaten Jask merupakan salah satu sentra perikanan utama di Provinsi Hormozgan. Hancurnya armada nelayan, pelabuhan, dan berbagai fasilitas pendukung tidak hanya melumpuhkan ekonomi pesisir, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup ribuan keluarga yang menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan. []
Baca juga: Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran: AS Terjebak dalam Kebuntuan Strategis







