Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Yaman Peringatkan Mesir: Jangan Terlibat Perang demi Kepentingan Israel

Published

on

Sana'a mendesak Mesir, Turki, dan Pakistan tidak terlibat dalam agresi dan blokade terhadap Yaman.
Sana'a mendesak Mesir, Turki, dan Pakistan tidak terlibat dalam agresi dan blokade terhadap Yaman.

Media ABI, 27 Oktober 2026 – Anggota Dewan Tinggi Politik Yaman, Muhammad Ali al-Houthi, memperingatkan pemerintah Mesir agar tidak mengerahkan militernya dalam perang berkepanjangan melawan Yaman demi kepentingan Israel. Menurutnya, keterlibatan tersebut berisiko menguras kekuatan militer Mesir sekaligus mendukung rencana Israel menyerang Semenanjung Sinai.

Menurut laporan Kantor Berita Fars, Selasa (27/10/2026), peringatan itu disampaikan setelah Parlemen Mesir menyetujui permintaan Presiden Abdel Fattah el-Sisi untuk memberinya kewenangan memberikan dukungan militer kepada Arab Saudi jika diminta Riyadh.

Baca juga: Eisenkot: Netanyahu Tahu Iran Tak Pernah Miliki Senjata Nuklir

Sejumlah analis yang dikutip dalam laporan tersebut menilai keputusan parlemen itu lebih berorientasi pada propaganda dan kepentingan politik Kairo maupun Riyadh. Mereka memperkirakan pemerintah Mesir tidak ingin kembali terperosok dalam konflik Yaman.

Dalam perang saudara Yaman pada 1962–1970, Mesir dilaporkan mengerahkan sekitar 70.000 personel militer ke negara tersebut. Setelah mengalami kekalahan berat dan kehilangan sekitar 10.000 personel, militer Mesir akhirnya ditarik dari Yaman.

Al-Houthi menegaskan bahwa Sana’a tidak gentar menghadapi pembentukan aliansi baru. Ia justru menyerukan pembentukan aliansi negara-negara Islam untuk menghadapi Israel.

Ia juga meminta negara-negara kawasan, termasuk Mesir, Turki, dan Pakistan, tidak terlibat dalam agresi terhadap Yaman ataupun melanjutkan blokade terhadap negara tersebut. Sebaliknya, mereka didesak mengambil langkah untuk menghentikan agresi dan mengakhiri blokade.

Baca juga: 

Terkait keamanan jalur pelayaran, al-Houthi menyatakan bahwa angkatan bersenjata Yaman tidak mengancam pelayaran di Selat Bab el-Mandeb. Menurutnya, Yaman justru melindungi jalur strategis tersebut, sebagaimana Terusan Suez dan jalur-jalur perairan lainnya di negara-negara Arab dan Islam.

Al-Houthi turut menyoroti pernyataan Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengenai pentingnya meredakan ketegangan di kawasan. Ia menilai seruan tersebut bertolak belakang dengan berlanjutnya agresi militer dan blokade terhadap rakyat Yaman.

Ia juga menyebut klaim Riyadh mengenai peran sentralnya dalam menjaga keamanan regional tidak sejalan dengan tindakan di lapangan, termasuk pembunuhan, blokade, serangan, dan pendudukan wilayah Yaman.

Menurut al-Houthi, perdamaian yang sesungguhnya hanya dapat diwujudkan melalui penghentian agresi, pencabutan blokade, dan penarikan pasukan asing dari Yaman. Ia juga menuntut pembayaran ganti rugi yang adil atas kehancuran luas akibat perang sejak 2015. []

Baca juga: CBS: Stok Rudal Patriot dan THAAD AS Diperkirakan Baru Pulih pada 2030