Internasional
CBS: Stok Rudal Patriot dan THAAD AS Diperkirakan Baru Pulih pada 2030

MEDIA ABI, 16 Oktober 2026 – Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan waktu hingga 2030 untuk memulihkan stok rudal pencegat sistem pertahanan udara Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Penggunaan besar-besaran dalam perang melawan Iran, pengiriman senjata ke Ukraina, serta dukungan pertahanan bagi Israel dilaporkan telah menguras persediaan rudal AS.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim yang mengutip CBS News pada Jumat (16/10/2026), sejumlah pejabat AS memperkirakan stok rudal pencegat akan tetap rendah hingga 2030. Kondisi ini mencerminkan keterbatasan industri pertahanan Amerika dalam meningkatkan produksi secara cepat.
Baca juga: Rudal Ansarullah Jadi Mimpi Buruk Ambisi Bin Salman
Kekhawatiran mengenai kekurangan amunisi pertahanan udara sebenarnya telah muncul sebelum perang dengan Iran dimulai.
Stok Patriot dan THAAD Terkuras
CBS News melaporkan bahwa mantan Kepala Staf Angkatan Darat AS, Jenderal Randy George, telah memperingatkan pada Desember 2025 bahwa militer Amerika menghadapi kekurangan serius amunisi pertahanan rudal. Saat itu, ia memperkirakan masalah tersebut akan berlangsung setidaknya lima tahun.
Penilaian itu tercantum dalam dokumen perencanaan tahunan Pentagon mengenai pengelolaan dan alokasi kekuatan militer. George kemudian diberhentikan oleh Menteri Perang AS Pete Hegseth pada April 2026, ketika perang dengan Iran masih berlangsung.
Berdasarkan estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dikutip CBS, AS memiliki sekitar 2.300 rudal pencegat Patriot pada awal 2026. Dalam perang melawan Iran, sebanyak 1.050 hingga 1.430 rudal diperkirakan telah digunakan, setara dengan sekitar 46 hingga 62 persen dari persediaan awal.
Untuk sistem THAAD, stok sebelum perang diperkirakan mencapai 355 rudal pencegat. Sebanyak 190 hingga 290 rudal dilaporkan telah digunakan selama konflik, atau sekitar 54 hingga 82 persen dari persediaan awal.
Besarnya konsumsi tersebut mengurangi cadangan yang tersedia untuk menghadapi potensi konflik berikutnya.
Baca juga: Ulama Sunni Desak Presiden Azerbaijan Hentikan Pembatasan Siswi Berjilbab
Pengadaan Rudal Membutuhkan Waktu Bertahun-tahun
Menurut CBS News, pengurangan stok rudal AS tidak hanya disebabkan oleh perang melawan Iran. Pengiriman rudal Patriot ke Ukraina sejak perang Rusia-Ukraina pada 2022, penggunaan amunisi untuk menghadapi serangan terhadap Israel, serta keterbatasan kapasitas produksi industri pertahanan turut memperburuk keadaan.
Rata-rata, pemenuhan pesanan baru rudal pencegat THAAD membutuhkan waktu sekitar empat tahun lima bulan. Sementara itu, pengiriman rudal Patriot tipe PAC-3 memerlukan rata-rata tiga tahun enam bulan.
Lockheed Martin dan RTX, melalui anak usahanya Raytheon, merupakan produsen utama sistem tersebut dan sejumlah komponennya. Kedua perusahaan telah menyepakati langkah untuk mempercepat produksi.
Pada Januari 2026, Lockheed Martin mengumumkan rencana meningkatkan kapasitas produksi tahunan rudal pencegat THAAD dari 96 menjadi 400 unit. Namun, kenaikan kapasitas produksi tidak serta-merta memulihkan stok dengan cepat karena perusahaan juga harus memenuhi pesanan yang telah mengantre.
Baca juga: Mantan Duta Besar Inggris: Trump Tak Memahami Sejarah Peradaban Iran
Industri Pertahanan AS Sulit Meningkatkan Produksi dengan Cepat
Mark Cancian, pensiunan kolonel Korps Marinir AS sekaligus penasihat senior CSIS, mengatakan kepada CBS bahwa industri pertahanan Amerika dirancang untuk berproduksi secara efisien dalam kondisi normal, tetapi tidak cukup fleksibel untuk meningkatkan produksi secara cepat ketika perang berlangsung.
Persoalan ini juga berkaitan dengan kebijakan Pentagon selama beberapa dekade setelah Perang Dingin. Produksi dan penyimpanan senjata lebih banyak disesuaikan dengan kebutuhan operasi regional yang relatif singkat, bukan perang berkepanjangan melawan kekuatan besar.
Seorang pejabat AS yang dikutip CBS memperkirakan bahwa pemulihan stok Patriot dan THAAD hingga kembali ke tingkat sebelum perang pun dapat berlangsung sampai 2030, bahkan jika penggunaan rudal dalam konflik di Iran dan operasi militer lainnya berhasil ditekan.
Dengan demikian, tantangan Washington bukan hanya mengganti rudal yang telah digunakan, tetapi juga memperbesar kapasitas produksi agar persediaan pertahanan udara dapat dipulihkan di tengah kebutuhan militer yang terus berjalan. []
Baca juga: Rusia Peringatkan NATO soal Kaliningrad, Sebut Senjata Nuklir sebagai Opsi







