Internasional
Jerman Serukan Perundingan dengan Iran terkait Program Nuklir

Media ABI, 24 Oktober 2026 – Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan Jerman, Prancis, dan Inggris siap berunding dengan Iran mengenai program nuklirnya. Pernyataan itu disampaikan di tengah dukungan Berlin terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menurut laporan Kantor Berita Fars pada Jumat (23/10/2026), Wadephul menegaskan bahwa konflik dengan Iran tidak memiliki solusi militer. Ia juga memperingatkan bahwa ketegangan baru di kawasan tidak boleh terjadi dalam kondisi apa pun.
Baca juga: Tekanan Netanyahu Menguji Posisi Politik Al-Joulani di Suriah
Jerman, Prancis, dan Inggris, yang dikenal sebagai Troika Eropa, merupakan tiga negara Eropa yang menjadi bagian dari kesepakatan nuklir Iran atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang ditandatangani Iran dan lima kekuatan dunia pada 2015.
Setelah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut, ketiga negara Eropa itu berjanji mengompensasi dampak penarikan Washington bagi Iran. Namun, kegagalan mereka memenuhi janji tersebut mendorong Iran mengurangi komitmen nuklirnya setahun kemudian.
Tahun lalu, ketiga negara itu juga mengaktifkan mekanisme snapback, yakni pemulihan sanksi terhadap Iran. Langkah tersebut dinilai ilegal oleh Iran, Rusia, dan China.
Jerman dan negara-negara Eropa lainnya tidak mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang disebut ilegal dalam laporan tersebut. Jerman bahkan menyatakan dukungan terhadap serangan itu.
Saat perang 12 hari pada Juni–Juli tahun lalu, ketika fasilitas nuklir Iran menjadi sasaran serangan Israel, Kanselir Jerman menyatakan bahwa Israel sedang melakukan “pekerjaan kotor atas nama kami” terhadap Iran.
Baca juga: Demokrat DPR AS Buru Saksi Pelapor untuk Selidiki Menteri Perang Trump
Wadephul juga memperingatkan bahwa konflik baru akan membawa dampak besar, tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi perekonomian global dan warga Eropa.
Beberapa jam sebelum pernyataan tersebut dilaporkan, harga minyak mentah Brent untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir mencapai 116 dolar AS per barel.
Angka itu menyamai level tertinggi harga minyak Brent berjangka sejak pecahnya Perang Ramadan. Lima bulan sebelumnya, pada pertengahan Mei, harga Brent telah menembus 114 dolar AS per barel. []
Baca juga: Komandan AL IRGC: Pasukan AS Menjauh hingga 700 Kilometer dari Selat Hormuz







