Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

The Times: Rudal Yaman Mengguncang Visi Ekonomi Mohammed bin Salman

Published

on

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman tetap memimpin Dewan Menteri dalam restrukturisasi pemerintahan melalui tiga dekret kerajaan.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Menurut laporan The Times, eskalasi serangan Yaman dan tekanan keuangan mengancam ambisi transformasi ekonomi Arab Saudi melalui program Visi 2030.

Media ABI, 26 Oktober 2026 — Serangan Yaman terhadap Arab Saudi mengancam ambisi ekonomi Mohammed bin Salman, termasuk program Visi 2030, serta berpotensi menimbulkan kerugian besar di berbagai sektor, tulis sebuah surat kabar Inggris.

Dalam artikel berjudul “Have shrapnel and drones left the Saudi economic dream in shreds?“, yang diterbitkan The Times pada 25 Oktober 2026, surat kabar tersebut mengulas dampak ekonomi serangan rudal dan pesawat nirawak angkatan bersenjata Yaman terhadap Arab Saudi.

Baca juga: Al-Azhar Serukan Mediasi untuk Mengakhiri Perang Yaman

Dalam laporannya, The Times memperingatkan bahwa berlanjutnya ketegangan mengancam ambisi Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk menjadikan negaranya sebagai pusat global investasi dan pariwisata melalui program Visi 2030.

Salah satu indikasi utama krisis tersebut adalah pembatalan konferensi Future Investment Initiative (FII) di Riyadh, yang dikenal sebagai “Davos Gurun”. Pembatalan itu dilakukan setelah serangan Yaman menyebabkan penutupan bandara ibu kota, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan investor besar dan pejabat keuangan internasional.

Menurut The Times, konferensi yang setiap tahun menarik tokoh-tokoh terkemuka Wall Street dan para eksekutif lembaga keuangan global itu selama beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu etalase utama proyek transformasi ekonomi Arab Saudi. Namun, serangan terbaru memaksa penyelenggara membatalkan pertemuan tahun ini.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pada awal serangan terhadap Iran, Arab Saudi berhasil terhindar dari sebagian besar kerusakan yang menimpa infrastruktur energi negara-negara Teluk akibat perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap Iran. Meski demikian, ekspor minyak Saudi turut terdampak penutupan Selat Hormuz.

Untuk mengatasi situasi tersebut, Riyadh mengalihkan jalur ekspor minyak melalui jaringan pipa menuju Laut Merah. Namun, serangan Saudi terhadap Yaman mendorong pasukan Yaman melancarkan serangan terhadap jaringan pipa tersebut, Pelabuhan Yanbu, dan kapal-kapal tanker Saudi, sehingga menambah tekanan terhadap sektor energi Arab Saudi. Serangan-serangan itu berlangsung bersamaan dengan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.

Baca juga: Wall Street Journal Soroti Kemajuan Intelijen dan Operasi Militer Angkatan Bersenjata Yaman

Kekhawatiran Investor

The Times menyoroti bahwa perkembangan tersebut terjadi ketika Riyadh tengah berupaya menarik investasi asing langsung senilai 100 miliar dolar AS per tahun hingga 2030, sekaligus meningkatkan jumlah wisatawan. Pencapaian target tersebut membutuhkan lingkungan kawasan yang stabil serta kemampuan untuk memberikan jaminan keamanan dan kepastian kepada investor maupun pengunjung.

Mengutip Anna Jacobs, peneliti nonresiden di Arab Gulf States Institute, surat kabar itu menulis bahwa kekerasan menimbulkan sinyal negatif yang jelas bagi investor, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Situasi tersebut bertentangan dengan kondisi yang dibutuhkan Arab Saudi untuk menyukseskan program ekonominya.

Menurut laporan itu, perekonomian Arab Saudi sebenarnya telah menghadapi tekanan keuangan bahkan sebelum eskalasi militer terbaru. Penurunan pendapatan minyak dan meningkatnya biaya proyek-proyek raksasa mendorong Dana Investasi Publik Arab Saudi (Public Investment Fund/PIF) menata ulang prioritasnya dan memusatkan perhatian pada investasi domestik dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.

Mengacu pada proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF), The Times menulis bahwa perekonomian Arab Saudi diperkirakan menyusut 3,3 persen pada tahun ini. Pada saat yang sama, para ahli memperkirakan belanja pertahanan akan meningkat, yang berpotensi mengurangi alokasi anggaran untuk sejumlah proyek dan investasi lainnya.

Baca juga: Senator AS Peringatkan Trump: Perang dengan Iran Berpotensi Jadi Perang Tanpa Akhir

Karin Young, peneliti yang berspesialisasi dalam urusan Arab Saudi di Center on Global Energy Policy, Universitas Columbia, menulis bahwa industri pariwisata termasuk salah satu sektor yang paling besar terdampak oleh peningkatan pengeluaran militer Arab Saudi.

The Times juga melaporkan bahwa tekanan keuangan sebelumnya telah mendorong Arab Saudi memangkas pengeluaran untuk konsultan asing. Selain itu, ribuan pekerja di proyek-proyek seperti NEOM dan perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan Dana Investasi Publik telah diberhentikan.

Surat kabar tersebut turut memperkirakan bahwa kemampuan Arab Saudi membiayai investasi berskala besar di luar negeri dapat melemah. Pasalnya, negara itu harus mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk keamanan, pertahanan, dan penanganan dampak perang. []

Baca juga: Iran: Kabel Bawah Laut, Pusat Data, dan Fasilitas AI di Teluk Berpotensi Jadi Sasaran Serangan