Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Hadapi Rusia, Lima Negara Eropa Dorong Penguatan Pertahanan

Published

on

Para menteri pertahanan Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Inggris dalam pertemuan E5 di Paris yang membahas penguatan pertahanan Eropa dan dukungan bagi Ukraina.
Para menteri pertahanan Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Inggris dalam pertemuan E5 di Paris yang membahas penguatan pertahanan Eropa dan dukungan bagi Ukraina.

Media ABI, 27 Oktober 2026 – Menteri pertahanan lima negara besar Eropa dalam pernyataan bersama menyebut Rusia sebagai ancaman keamanan jangka panjang paling serius bagi kawasan Euro-Atlantik. Mereka menekankan perlunya memperkuat kemampuan militer Eropa, meningkatkan tanggung jawab negara-negara Eropa dalam NATO, serta melanjutkan dukungan menyeluruh kepada Ukraina.

Kantor Berita IRNA melaporkan pada Selasa (27/10/2026) bahwa Kementerian Pertahanan Inggris merilis teks pernyataan bersama para menteri pertahanan Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Inggris pada Senin, menyusul pertemuan kelompok yang dikenal sebagai Lima Negara Eropa (E5) di Paris. Dalam pernyataan itu, Moskow dituding mengancam keamanan dan stabilitas Eropa.

Baca juga: Yaman Serang Jalur Pipa Minyak dan Bandara Riyadh

Pernyataan tersebut menyebut Rusia sebagai ancaman paling serius dan berjangka panjang terhadap keamanan kawasan Euro-Atlantik. Kelanjutan operasi militer Rusia di Ukraina, dugaan pelanggaran wilayah udara negara-negara anggota NATO, aksi sabotase, serta meningkatnya serangan hibrida dinilai semakin memperkuat urgensi penguatan kemampuan pertahanan Eropa.

Para menteri juga menegaskan bahwa Eropa harus memikul tanggung jawab lebih besar atas keamanannya sendiri. Dalam kerangka NATO, negara-negara Eropa dinilai perlu memainkan peran politik dan militer yang lebih besar.

Meski menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap menjadi sekutu penting bagi keamanan Eropa, kelima negara itu menyerukan penguatan kerja sama pertahanan, modernisasi angkatan bersenjata, serta pengembangan kapasitas bersama di sektor industri persenjataan.

Mereka juga menekankan pentingnya memenuhi komitmen pertahanan yang telah disepakati negara-negara anggota NATO, meningkatkan kesiapan operasional pasukan, serta memperkuat kemampuan dalam merespons berbagai ancaman keamanan.

Mengenai peran Uni Eropa dalam memperkuat kapasitas militer, para menteri pertahanan kelima negara menegaskan bahwa inisiatif pertahanan Uni Eropa harus melengkapi upaya NATO dan tidak menduplikasi struktur yang sudah ada.

Baca juga: Bloomberg Sebut Kemajuan Ansarullah di Yaman Persempit Pilihan Strategis Saudi

Pernyataan bersama itu juga menyoroti perang di Ukraina. Kelima negara menegaskan komitmen untuk melanjutkan dukungan politik, militer, dan keuangan kepada Kyiv. Mereka menyatakan bahwa kemampuan Ukraina untuk mempertahankan diri berperan menentukan dalam menjaga keamanan kolektif kawasan Euro-Atlantik.

Dalam kerangka tersebut, para menteri pertahanan menegaskan komitmen untuk melanjutkan langkah-langkah terkoordinasi terhadap apa yang mereka sebut sebagai “armada bayangan Rusia” (Russian shadow fleet). Negara-negara Barat menuding Moskow memanfaatkan armada tersebut untuk menghindari sanksi minyak dan memperoleh sumber pendanaan yang dibutuhkan.

Pernyataan itu juga menekankan perlunya memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina setelah tercapainya gencatan senjata atau kesepakatan damai. Disebutkan bahwa koalisi yang dikenal sebagai Coalition of the Willing atau Koalisi Negara-Negara Bersedia akan turut berpartisipasi dalam pemberian jaminan tersebut.

Sejak perang di Ukraina dimulai, negara-negara Eropa telah mengambil sikap keras terhadap Rusia dan memberlakukan sejumlah paket sanksi yang mencakup pembatasan luas di sektor ekonomi, perbankan, energi, dan transportasi. Pemerintah-pemerintah Eropa juga menjadikan dukungan kepada Kyiv sebagai salah satu fokus utama kebijakan luar negeri dan keamanan mereka, antara lain melalui pengiriman peralatan militer dan pemberian bantuan keuangan. []

Baca juga: Iran: Kabel Bawah Laut, Pusat Data, dan Fasilitas AI di Teluk Berpotensi Jadi Sasaran Serangan