Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Iran Ancam Sasar Fasilitas Produksi Minyak di Kawasan jika Infrastruktur Diserang

Published

on

Ilustrasi fasilitas produksi minyak. Iran memperingatkan fasilitas produksi minyak di kawasan berpotensi menjadi sasaran jika infrastrukturnya diserang.
Ilustrasi fasilitas produksi minyak. Iran memperingatkan fasilitas produksi minyak di kawasan berpotensi menjadi sasaran jika infrastrukturnya diserang.

Media ABI, 27 Oktober 2026 – Iran berpotensi mengalihkan sasaran serangan ke fasilitas produksi minyak di kawasan jika koalisi Amerika Serikat–Israel menyerang infrastrukturnya. Mantan Menteri Perminyakan Iran, Javad Owji, memperingatkan Teheran tidak lagi memprioritaskan sektor transportasi dan ekspor minyak, melainkan fasilitas produksi.

Menurut laporan Kantor Berita Fars pada Selasa (27/10/2026), Owji menyebut ladang minyak dan gas, kilang minyak, serta pusat-pusat pengumpulan minyak sebagai sasaran potensial. Ia memperingatkan, kerusakan fasilitas produksi dapat menimbulkan gangguan berkepanjangan. Pemulihan kapasitas produksi diperkirakan membutuhkan waktu empat hingga lima tahun, sekalipun anggaran yang diperlukan tersedia.

Baca juga: 

Dampaknya berpotensi meluas ke Eropa dan Asia, terutama industri padat energi yang bergantung pada pasokan minyak mentah dan gas. Gangguan produksi bahkan dapat membuat kawasan-kawasan tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan energi selama empat tahun. Owji juga menyoroti kerusakan fasilitas gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Qatar akibat perang. Berdasarkan perkiraan para ahli yang dirujuknya, pemulihan fasilitas tersebut ke kondisi semula membutuhkan waktu sekitar dua hingga dua setengah tahun.

Dampak perang terhadap pasar energi diperkirakan bertahan jauh setelah pertempuran berakhir. Owji menilai, sekalipun perang berhenti hari ini, harga minyak tidak akan langsung kembali ke kisaran 60–70 dolar AS per barel. Pemulihan ke tingkat harga sebelum perang diperkirakan memerlukan waktu tiga hingga empat tahun. Perang berkepanjangan, ujarnya, akan memperbesar kerugian bagi pejabat pemerintah, politisi, dan perekonomian secara keseluruhan.

Owji turut menyoroti tekanan ekonomi di negara-negara Barat. Kenaikan suku bunga dan penurunan pajak bahan bakar, menurutnya, belum mampu meredam inflasi yang sangat tinggi. Kebijakan pengurangan pajak bahan bakar juga menambah beban fiskal pemerintah.

Jika perang terhadap Iran berlanjut dan fasilitas produksi minyak menjadi sasaran, gangguan pasokan selama tiga hingga empat tahun berpotensi mendorong harga minyak hingga 200–250 dolar AS per barel. Harga produk petrokimia juga diperkirakan melonjak. Sementara itu, kenaikan harga gas di Eropa yang disebut telah mencapai 140 persen berpotensi membesar hingga 200–300 persen apabila konflik terus berlanjut. []

Baca juga: Serangan Udara Saudi Hancurkan Sekolah dan Masjid di Yaman