Internasional
Israel Hadapi Krisis Personel dan Tank, Pasukan Cadangan di Ambang Keruntuhan

Ahlulbait Indonesia, 16 Juli 2026 — Sistem pasukan cadangan militer Israel dilaporkan berada di ambang keruntuhan akibat kekurangan personel dan peralatan tempur, meski militer Israel selama ini menggambarkan satuan-satuan cadangannya berada dalam kondisi berkekuatan penuh.
Menurut laporan Army Radio Israel yang dikutip Press TV pada Rabu (15/7/2026), brigade dan batalion pasukan cadangan beroperasi jauh di bawah kekuatan ideal. Sejumlah komandan di lapangan melaporkan kekurangan personel, tank, dan kendaraan tempur yang mengurangi kesiapan operasional satuan mereka.
Baca juga: Qalibaf Peringatkan Amerika: Patuhi MoU atau Hadapi Konsekuensinya
Salah satu brigade lapis baja cadangan yang baru dikerahkan ke sektor operasi di Lebanon disebut tidak memiliki kekuatan penuh. Para komandan dan prajurit menggambarkan satuan tersebut memiliki jumlah personel, tank, dan kendaraan militer yang jauh di bawah kebutuhan.
Laporan itu juga menyebut banyak tank mengalami kerusakan dalam pertempuran di Lebanon selatan dan hingga kini masih menjalani perbaikan. Kondisi tersebut memaksa sejumlah kompi lapis baja cadangan beroperasi dengan perlengkapan yang terbatas.
“Unit-unit pasukan cadangan saat ini kosong. Sebuah batalion bukan lagi batalion yang utuh, dan sebuah kompi tidak lagi benar-benar berfungsi sebagai sebuah kompi,” kata seorang komandan pasukan cadangan yang identitasnya tidak disebutkan.
Ia menambahkan bahwa publik dan para pengambil kebijakan menerima gambaran seolah brigade-brigade cadangan yang bertugas di Lebanon berada dalam kondisi penuh, padahal kenyataannya jumlah personel maupun peralatan tempur jauh lebih sedikit.
Komandan tersebut bahkan memperingatkan bahwa sebagian formasi pasukan cadangan telah mencapai kondisi yang dapat dikategorikan sebagai “keruntuhan operasional”.
Baca juga: Serangan Iran Hancurkan Infrastruktur Pendukung Pangkalan Militer AS
Dalam laporan yang sama disebutkan sebuah kompi pasukan cadangan baru saja menyelesaikan penugasan di Lebanon dengan hanya menyisakan seorang perwira. Komandan kompi telah dibebastugaskan, sementara satuan tersebut tidak memiliki wakil komandan maupun bintara senior sehingga rantai komandonya tidak lagi berfungsi secara efektif.
Laporan itu muncul ketika militer Israel menghadapi tekanan anggaran akibat meningkatnya biaya perang di berbagai front. Defisit anggaran pertahanan dilaporkan telah mencapai miliaran dolar dan memicu perbedaan pandangan antara militer serta Kementerian Keuangan Israel mengenai besaran belanja pertahanan.
Menurut laporan tersebut, militer Israel mengusulkan peningkatan anggaran dalam jumlah besar untuk mempertahankan operasi di berbagai front. Sebaliknya, Kementerian Keuangan mendorong pengurangan ketergantungan pada pasukan cadangan serta penurunan belanja operasional. []
Baca juga: Hamas Sebut Proyek 12.000 Permukiman Baru Israel Percepat Aneksasi Tepi Barat







