Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Qalibaf Peringatkan Amerika: Patuhi MoU atau Hadapi Konsekuensinya

Published

on

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan Amerika Serikat harus menghormati Nota Kesepahaman penghentian perang dan memperingatkan bahwa setiap pelanggaran akan membawa konsekuensi.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan Amerika Serikat harus menghormati Nota Kesepahaman penghentian perang dan memperingatkan bahwa setiap pelanggaran akan membawa konsekuensi. (Foto: Tasnim news agency)

Ahlulbait Indonesia, 12 Juli 2026 – Ketua Parlemen Republik Islam Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan Amerika Serikat agar mematuhi seluruh komitmen dalam Nota Kesepahaman (MoU) penghentian perang. Menurutnya, era ketika Washington dapat mengingkari kesepakatan tanpa konsekuensi telah berakhir.

Peringatan itu disampaikan melalui akun X pada Minggu (12/7), menyusul gelombang ketiga serangan udara Amerika Serikat terhadap Iran dalam sepekan terakhir. Teheran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap MoU yang dimediasi Pakistan dan ditandatangani kedua negara pada 17 Juni 2026.

Baca juga: Amerika Beri “Hadiah” kepada UEA atas Kerja Sama dalam Perang Melawan Iran

Mengacu pada Pasal 5 MoU, Qalibaf menegaskan bahwa kewenangan membuka kembali dan mengelola Selat Hormuz sepenuhnya berada di tangan Iran.

“Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan kalian: tepati janji atau bayar harganya. Kini kenyataan sedang mengetuk pintu,” tulisnya.

MoU tersebut mengatur penghentian permanen permusuhan sekaligus komitmen kedua negara untuk melanjutkan perundingan menuju perjanjian damai dalam waktu 60 hari. Pasal 5 juga menetapkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan kewenangan penuh Republik Islam Iran.

Sebagai respons atas serangan terbaru Amerika Serikat, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan Selat Hormuz tetap ditutup hingga Amerika Serikat menghentikan intervensi militernya di kawasan.

Qalibaf menegaskan bahwa penghormatan terhadap MoU merupakan syarat utama bagi keberlangsungan proses diplomatik. Menurutnya, setiap pelanggaran terhadap kesepakatan akan membawa konsekuensi bagi pihak yang mengingkarinya. []

Baca juga: Lima Rudal Balistik Digunakan IRGC untuk Hantam Sasaran Amerika di Yordania, Qatar, dan Oman