Internasional
Serangan Iran Jadi Pukulan Telak bagi Ambisi Geopolitik Uni Emirat Arab

Ahlulbait Indonesia, 16 Juli 2026 — Serangan militer Iran terhadap Uni Emirat Arab (UEA), yang terjadi setelah negara itu berpihak kepada Amerika Serikat dan Israel dalam konflik dengan Teheran, membawa konsekuensi ekonomi dan keamanan yang besar bagi Abu Dhabi. Selain menimbulkan kerugian material, serangan tersebut juga mengguncang citra UEA sebagai negara yang selama ini dikenal stabil dan aman bagi investasi.
Menurut laporan Farsnews Agency pada Kamis (16/7/2026), dibandingkan negara-negara lain di kawasan Teluk, UEA selama ini menerapkan kebijakan luar negeri yang lebih erat dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Selain menjadi tuan rumah fasilitas militer Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis, Abu Dhabi juga menjalin kemitraan strategis dengan Israel.
Baca juga: Rudal IRGC Hantam Sejumlah Pangkalan Militer AS di Empat Negara Teluk
Hubungan UEA dan Israel berkembang sejak Perjanjian Oslo pada 1993 dan mencapai babak baru melalui Abraham Accords pada 2020. Kedekatan tersebut, menurut laporan itu, meluas hingga kerja sama dalam sejumlah isu regional, termasuk di Yaman, Sudan, dan Libya.
Farsnews menyebut kedekatan strategis tersebut turut mendorong keterlibatan langsung UEA dalam perang melawan Iran. Akibatnya, negara itu menjadi salah satu sasaran utama serangan balasan Teheran yang kemudian memicu kerugian ekonomi dalam skala besar.
Mengutip Business Times, laporan itu menyatakan bahwa kerentanan UEA bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, melainkan konsekuensi dari pilihan strategis yang diambil Abu Dhabi.
“Di antara seluruh negara Teluk, UEA adalah negara yang paling jauh melangkah dalam menyelaraskan diri dengan Israel melalui Abraham Accords 2020. Kehadiran Pangkalan Udara Al Dhafra, salah satu fasilitas militer utama Amerika Serikat di kawasan, menjadikan Abu Dhabi dan Dubai sebagai sasaran yang sah dalam perhitungan strategis Iran.”
Sementara itu, Middle East Eye menilai konflik tersebut memperlihatkan kesenjangan antara ambisi geopolitik Abu Dhabi dan realitas keamanan kawasan.
Baca juga: Lima Rudal Balistik Digunakan IRGC untuk Hantam Sasaran Amerika di Yordania, Qatar, dan Oman
“Serangan Iran terhadap infrastruktur Teluk memperlihatkan kontradiksi antara citra UEA sebagai kekuatan menengah dan kerentanan strukturalnya sebagai negara kecil.”
Laporan itu juga menyoroti bahwa dukungan mitra-mitra strategis UEA tidak mampu memenuhi harapan Abu Dhabi. Rusia disebut tidak memberikan pembelaan terhadap UEA, sementara China hanya menyerukan stabilitas. Adapun Amerika Serikat, meski menyampaikan jaminan politik, belum mampu memberikan efek penangkalan yang signifikan terhadap serangan Iran.
Mengutip Responsible Statecraft, laporan tersebut menyebut Abu Dhabi meyakini operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran seharusnya berlangsung lebih lama agar kapasitas Iran semakin melemah sebelum tercapai gencatan senjata.
Laporan juga menyimpulkan bahwa kemitraan strategis UEA dengan Israel telah menempatkan Abu Dhabi pada posisi yang berbeda dibandingkan negara-negara Teluk lainnya. Pilihan itu menjadikan UEA sebagai sasaran utama serangan Iran, sekaligus memicu kerugian ekonomi, keluarnya modal, dan terkikisnya citra negara tersebut sebagai pusat stabilitas dan investasi di kawasan. []
Baca juga: Tiga Rudal Balistik Hantam Pangkalan Militer AS di Kuwait, Media Israel Laporkan Korban Jiwa







