Internasional
IRGC Keluarkan Peringatan Darurat bagi Warga Kawasan di Sekitar Pangkalan Militer AS

Ahlulbait Indonesia, 24 Juli 2026 – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan masyarakat di negara-negara yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat di kawasan agar segera menjauh sedikitnya 500 meter dari bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal terselubung maupun lokasi persembunyian personel militer AS.
Peringatan tersebut disampaikan dalam Pengumuman No. 49 Operasi Nashr 2 yang diterbitkan Humas IRGC melalui Sepah News pada Jumat (24/7). Dalam pernyataan itu, IRGC menyebut banyak perwira dan personel militer Amerika telah meninggalkan pangkalan mereka karena khawatir menjadi sasaran serangan balasan Iran. Para personil disebut berpindah ke berbagai bangunan di kawasan perkotaan yang kini digunakan sebagai pusat pengendalian operasi militer.
Baca juga: Iran Gempur Lagi Pangkalan AS di Kuwait dengan Drone
IRGC menegaskan, apabila serangan Amerika terhadap warga sipil terus berlanjut, qisas atau pembalasan terhadap para pelaku akan menjadi kebijakan yang ditempuh Iran. Oleh karena itu, masyarakat di negara-negara yang menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika diminta segera menjauh dari bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal maupun persembunyian personel militer AS agar tidak terdampak apabila terjadi serangan.
Dalam bagian awal pernyataannya, IRGC menyatakan Amerika Serikat memulai perang terhadap Iran lima bulan lalu tanpa alasan yang sah maupun dasar hukum internasional. Menurut IRGC, agresi tersebut diawali dengan syahidnya Pemimpin Revolusi, Syahid Imam Ali Khamenei, bersamaan dengan gugurnya 168 siswi sekolah dasar akibat serangan Amerika.
IRGC menyatakan bahwa setelah 40 hari perang, Iran sebenarnya memiliki kemampuan untuk melanjutkan operasi militer. Namun, demi memulihkan stabilitas kawasan, Teheran memilih menempuh jalur diplomasi dengan menerima perundingan dan menandatangani kesepakatan penghentian perang.
Meski demikian, IRGC menyatakan Amerika Serikat melanggar kesepakatan tersebut sejak hari-hari pertama setelah penandatanganannya. Dalam pernyataan itu disebutkan bahwa Washington kemudian secara resmi membatalkan kesepahaman pada 12 Juli 2026 (21 Tir 1405 HS) dan kembali melanjutkan operasi militer.
Baca juga: Laksamana Sayyari: Amerika Serikat Tak Mampu Memahami Kekuatan Iran
IRGC juga menyatakan bahwa setelah 13 hari sejak perang dimulai kembali, Amerika gagal mencapai tujuan militernya melalui operasi tempur. Menurut pernyataan tersebut, kegagalan itu mendorong Washington mengalihkan serangan ke sasaran-sasaran sipil, termasuk jembatan, dermaga nelayan, kapal dan perahu milik warga, kendaraan yang melintas, jalur kereta api, serta berbagai fasilitas sipil yang mengakibatkan jatuhnya korban.
Pernyataan itu turut menyoroti serangan terhadap para peziarah Arbain Imam Husain a.s. di perbatasan Salamcheh, Irak, yang menyebabkan korban gugur dan luka-luka. IRGC menyebut serangan tersebut sebagai puncak kejahatan perang Amerika sekaligus memperlihatkan secara nyata watak agresif negara tersebut.
Sebagai tindak lanjut, IRGC mengimbau masyarakat untuk melaporkan lokasi baru perpindahan personel militer Amerika melalui akun resmi Humas IRGC di Telegram @sepahnewsiradmin atau melalui layanan “Hubungi Kami” pada situs resmi Sepah News.
Pernyataan tersebut ditutup dengan firman Allah SWT: “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7). []
Baca juga: Iran Hancurkan Rudal Jelajah Tomahawk AS di Langit Kahnuj







