Internasional
Laksamana Sayyari: Amerika Serikat Tak Mampu Memahami Kekuatan Iran

Ahlulbait Indonesia, 24 Juli 2026 – Wakil Koordinator Panglima Angkatan Darat Republik Islam Iran, Laksamana Habibollah Sayyari, menyatakan kekuatan angkatan bersenjata Iran merupakan realitas yang tidak dapat dipercaya maupun diterima oleh Amerika Serikat. Menurutnya, kesalahan perhitungan Washington terhadap kemampuan dan tekad bangsa Iran telah berulang kali berujung pada kegagalan.
Dalam pidato yang dilaporkan Mehr News Agency pada Jumat (24/7/2026), pada upacara peringatan para syuhada “Perang Pemaksaan Kedua dan Ketiga” di Kabupaten Maragheh, Laksamana Habibollah Sayyari menegaskan bahwa kemampuan mengenali musuh, memiliki wawasan strategis, dan memperkuat ketahanan sosial merupakan kunci menghadapi ancaman yang terus dihadapi Iran.
Ia menekankan bahwa persatuan nasional harus terus diperkuat agar musuh tidak memiliki peluang memanfaatkan perpecahan masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuannya.
Menurut Sayyari, persatuan, solidaritas, dan kebersamaan antara rakyat serta para pejabat merupakan faktor penentu dalam menghadapi apa yang disebutnya sebagai “militer teroris Amerika”. Ia menyerukan agar seluruh elemen bangsa tetap bersatu dan melanjutkan jalan “Pemimpin Syahid” serta para syuhada dari perang delapan tahun, perang 12 hari, dan perang 40 hari.
Sayyari mengatakan selama 48 tahun terakhir Iran menghadapi berbagai bentuk tekanan, mulai dari upaya memicu konflik etnis, gerakan separatis, perang delapan tahun, serangan budaya, perang lunak, hingga perang hibrida. Namun, menurutnya, seluruh strategi tersebut gagal menggoyahkan Republik Islam.
Ia menyatakan musuh kemudian berkesimpulan bahwa Iran dapat dijatuhkan melalui perang baru, pembunuhan sejumlah komandan militer, hingga penargetan kepemimpinan negara. Akan tetapi, kata Sayyari, perhitungan tersebut kembali meleset.
Menurutnya, perlawanan rakyat dan kesiapan angkatan bersenjata menggagalkan tujuan tersebut sehingga pihak yang mengalami kegagalan justru Amerika Serikat dan Israel, yang dalam pidatonya ia sebut sebagai “rezim pembunuh anak-anak”.
Sayyari menilai keberhasilan Iran bertahan dalam dua perang terakhir tidak dapat dipisahkan dari dukungan rakyat. Kehadiran masyarakat di lapangan, dukungan terhadap pasukan, dan pengorbanan mereka menjadi faktor utama yang menggagalkan tujuan Amerika Serikat dan Israel.
Ia menambahkan bahwa Republik Islam tidak memiliki tujuan selain mempertahankan kedaulatan negara karena bukan pihak yang memulai perang.
Baca juga: NYT: Pentagon Tutupi Tentara AS Terluka, Puluhan Dievakuasi ke Jerman
Mengacu pada dimulainya “Perang Pemaksaan Ketiga” pada 9 Esfand 1404 kalender Persia, yang menurutnya disertai gugurnya “Pemimpin Syahid”, Sayyari mengatakan pihak lawan memperkirakan Republik Islam akan runtuh hanya dalam beberapa hari.
Namun, menurutnya, kalkulasi itu mengabaikan unsur terpenting, yakni kemampuan, tekad, dan peran rakyat Iran. Kehadiran masyarakat di jalan-jalan, dukungan mereka kepada angkatan bersenjata, serta komitmen terhadap cita-cita Imam Syahid dan para syuhada merupakan faktor yang tidak diperhitungkan oleh pihak lawan.
“Kesalahan perhitungan terbesar musuh adalah mengabaikan rakyat,” tegasnya.
Sayyari mengatakan gugurnya “Pemimpin Syahid” dan para syuhada dari dua perang terakhir justru memperkuat tekad masyarakat untuk membela negara, meningkatkan kemampuan perlawanan, dan mempertahankan semangat menghadapi musuh.
“Realitas inilah yang tidak mampu dipercaya maupun diterima oleh musuh,” ujarnya.
Ia juga memperingatkan bahwa kelelahan, perpecahan, dan hilangnya persatuan nasional merupakan ancaman yang dapat melemahkan kemampuan negara menghadapi tekanan eksternal. Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat menjaga persatuan dan menghindari segala bentuk perpecahan.
Menutup pidatonya, Sayyari menegaskan bahwa menyerah bukan bagian dari tradisi militer maupun budaya bangsa Iran. Menurutnya, sebagaimana rakyat Iran tetap teguh mempertahankan cita-cita Revolusi Islam selama bertahun-tahun, mereka juga tidak akan menyerah kepada pihak yang dianggap sebagai agresor dan pada akhirnya akan meraih kemenangan. []
Baca juga: Iran: Serangan Balasan Memasuki Tahap Baru







