Internasional
IRGC: Operasi Iran Bisa Berubah Menjadi Ofensif

Media ABI, 17 Agustus 2026 — Deputi Politik Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigadir Jenderal Yadollah Javani Yadollah Javani, mengatakan seluruh tindakan Iran dalam menghadapi konflik selama ini bersifat defensif karena musuh menjadi pihak yang memulai perang. Namun, menurut Javani, respons Iran dapat berubah menjadi ofensif sesuai perkembangan situasi dan kebutuhan pertahanan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Javani dalam program Special News Interview yang disiarkan televisi nasional Iran pada Sabtu malam, 16 Agustus 2026, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Fars.
Javani juga menyinggung latar belakang para pejabat baru yang ditunjuk untuk menempati sejumlah posisi strategis di angkatan bersenjata Iran. Menurutnya, seluruh pejabat tersebut merupakan veteran Perang Pertahanan Suci dan termasuk personel terbaik yang telah teruji dalam berbagai kondisi.
Baca juga: Selat Hormuz, Awal Keruntuhan Imperium AS
Pengalaman tersebut, menurut Javani, semakin terlihat ketika sejumlah komandan utama gugur dan para pejabat yang sebelumnya menjabat sebagai wakil harus mengambil alih tanggung jawab kepemimpinan.
Javani menyebut Mayor Jenderal Penerbang Abdollahi, yang sebelumnya memimpin Markas Besar Khatam al-Anbiya, mampu menjalankan tugas secara optimal ketika berada dalam posisi wakil. Hal serupa, menurut Javani, dilakukan Ahmad Vahidi yang sebelumnya menjabat sebagai wakil komandan utama Garda Revolusi dan menjalankan fungsi komando selama periode tersebut.
Setelah gugurnya Jenderal Sangasiri, Jenderal Azmayi juga disebut mampu memimpin jalannya tugas sebagai wakil komandan. Javani menilai seluruh pejabat tersebut telah menjalankan tanggung jawab masing-masing dengan baik.
Menurut Deputi Politik Garda Revolusi tersebut, Staf Umum Angkatan Bersenjata dan Markas Besar Khatam al-Anbiya telah menjalankan tugas secara optimal. Angkatan Darat Iran juga dinilai memainkan peran efektif melalui Brigadir Jenderal Heydari yang menjadi wakil Abdollahi.
Sementara itu, Mayor Jenderal Izadi yang telah mengabdi selama 45 tahun ditunjuk sebagai wakil komandan utama Garda Revolusi.
Javani menegaskan seluruh pejabat yang baru ditunjuk merupakan figur terbaik dalam jajaran angkatan bersenjata Iran. Menurutnya, masih terdapat banyak personel berkemampuan tinggi lainnya, tetapi para pejabat tersebut telah menunjukkan kemampuan dalam menjalankan tugas selama masa tanggung jawab sebelumnya. Hal tersebut, menurut Javani, juga tercermin dalam surat keputusan pengangkatan masing-masing.
Baca juga: Tirakatan Lintas Agama di Balikpapan, Rawat Persatuan dalam Semangat Kemerdekaan
Surat keputusan baru disesuaikan dengan kondisi saat ini
Menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan perubahan pendekatan dalam penunjukan para komandan baru, Javani mengatakan kebijakan pengangkatan pejabat tinggi militer sejak awal Revolusi Iran selalu disesuaikan dengan kondisi dan tuntutan yang berkembang.
Menurut Javani, sejak masa Imam Khomeini hingga periode 37 tahun kepemimpinan Imam Syahid, surat keputusan bagi jajaran komando tertinggi selalu memuat tuntutan yang berkaitan erat dengan kondisi dan kebutuhan strategis pada masanya.
Tuntutan tersebut diarahkan agar jajaran komando yang ditunjuk mampu memaksimalkan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki, merespons ancaman musuh, sekaligus membangun daya tangkal.
Javani mengatakan sejumlah kata kunci dalam surat keputusan terbaru menunjukkan penyesuaian terhadap kondisi saat ini. Dalam keputusan untuk Mayor Jenderal Penerbang Abdollahi, misalnya, terdapat sejumlah penekanan yang dinilai berkaitan langsung dengan situasi terkini.
Hal serupa terlihat dalam keputusan pengangkatan Hojjatoleslam Taeb sebagai Kepala Organisasi Basij. Javani menyoroti penekanan pada konsep jaringan intelijen serta gagasan mobilisasi rakyat melalui slogan “setiap warga Iran adalah seorang Basiji”.
Menurut Javani, keputusan untuk Ahmad Vahidi juga memuat sejumlah kata kunci yang mencerminkan kebutuhan situasi saat ini. Perubahan tersebut disebut sebagai bagian dari penataan kembali, pemutakhiran, dan peningkatan efektivitas doktrin pertahanan Republik Islam Iran setelah melewati perang yang dipaksakan terhadap negara tersebut.
Javani peringatkan kemungkinan kejutan strategis
Javani mengatakan keputusan untuk Mayor Jenderal Ahmad Vahidi tidak hanya menekankan pencapaian daya tangkal maksimal, tetapi juga mengarahkan perubahan pendekatan dalam pelaksanaan pertahanan.
Menurutnya, setiap tindakan yang dilakukan Iran selama ini memang memiliki karakter defensif, tetapi dalam perkembangan selanjutnya karakter tersebut dapat mengambil bentuk ofensif.
“Ini merupakan poin yang sangat penting. Kami tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang, baik pada masa Imam Khomeini, pada masa Imam Syahid, maupun sekarang,” kata Javani.
Namun, karena Iran berada dalam situasi perang dan menghadapi musuh yang terus mencari peluang, Javani mengatakan pihak lawan perlu memahami pesan yang terkandung dalam keputusan terbaru tersebut. Angkatan bersenjata Iran, menurutnya, akan menjalankan pendekatan yang bersifat transformatif.
Baca juga: Pertahanan Udara Iran Tumbangkan MQ-9 Reaper, “Pemburu Legendaris” Amerika
Berdasarkan keputusan tersebut, segala langkah yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah Iran, menjamin keamanan, dan menetralisasi ancaman musuh akan dilakukan pada waktunya. Javani mengatakan pola tersebut telah terlihat dalam berbagai perkembangan terbaru dan dapat kembali terjadi pada masa mendatang.
“Hal penting adalah musuh yang memulai perang, sedangkan tindakan kami dalam proses ini bersifat defensif, meskipun karakter tindakan tersebut dapat berubah menjadi ofensif. Ini merupakan salah satu pendekatan transformatif angkatan bersenjata,” ujar Javani.
Javani memperingatkan bahwa musuh tidak boleh menganggap dapat melancarkan tindakan mengejutkan terhadap Iran tanpa menghadapi respons.
“Musuh bahkan mungkin harus menunggu kejutan-kejutan strategis,” katanya. Menurut Javani, hal tersebut merupakan salah satu pendekatan transformatif yang tercantum dalam keputusan terbaru mengenai pengangkatan para komandan.
Iran sebut perang dipicu kesalahan perhitungan musuh
Javani juga menjelaskan bahwa berbagai langkah yang dilakukan angkatan bersenjata Iran selama ini diarahkan untuk membangun daya tangkal dan mencegah pecahnya perang.
Menurutnya, musuh memulai perang setelah melakukan kesalahan perhitungan pada 23 Khordad 1404. Langkah tersebut, menurut Javani, tidak mencapai hasil yang diharapkan. Setelah itu, musuh merancang sejumlah tindakan dari dalam Iran yang juga disebut tidak mencapai hasil.
Baca juga: Staf Umum Iran Tegaskan Tak Akan Mundur hingga AS Kalah Total
Javani kemudian menyinggung keterlibatan Israel dalam perang 12 hari. Namun, menurutnya, keterlibatan tersebut tidak berarti Iran memandang Israel sebagai kekuatan proksi Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara Barat di kawasan.
“Ini bukan berarti kami menganggap rezim Zionis sebagai kekuatan proksi bagi Amerika, Eropa, dan Barat di kawasan. Bukan seperti itu. Sebuah negara seperti rezim Zionis tidak berada pada tingkat dan kapasitas yang membuatnya mampu memasuki perang melawan Republik Islam,” kata Javani.
Javani menegaskan bahwa dalam perang 12 hari tersebut, Israel memasuki medan konflik dengan dukungan Amerika Serikat.
“Rezim Zionis bahkan dalam perang 12 hari masuk ke medan dengan dukungan Amerika,” ujarnya. []
Baca juga: Menu Makanan USS Abraham Lincoln Disebut Terburuk oleh Pelaut







