Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Selat Hormuz, Awal Keruntuhan Imperium AS

Published

on

Abdulbari Atwan menilai Iran telah mengubah Selat Hormuz menjadi jebakan strategis yang menekan Amerika Serikat.

Media ABI, 16 Agustus 2026 – Analis politik Arab Abdulbari Atwan menilai Iran telah menjadikan Selat Hormuz sebagai jebakan strategis bagi Amerika Serikat. Menurutnya, tekanan di jalur pelayaran tersebut dapat memperpanjang perang sekaligus mempercepat kemunduran kekuatan Amerika Serikat di Timur Tengah.

Fars News Agency melaporkan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, Atwan mengomentari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim Selat Hormuz merupakan bagian dari wilayah Amerika Serikat dan menyatakan akan mengeluarkan perintah untuk mendudukinya dalam beberapa hari mendatang.

Menurut Atwan, pernyataan tersebut menunjukkan kebingungan dalam strategi Trump menghadapi krisis Iran dan perkembangan politik serta militer di kawasan. Dia menilai Selat Hormuz akan tercatat dalam sejarah militer, politik, dan ekonomi sebagai jebakan bagi Amerika Serikat sekaligus salah satu tanda awal keruntuhan imperium negara tersebut.

Baca juga: Amarah Negara Teluk Memuncak, Pangkalan AS Kini Dipersoalkan

Atwan membandingkan kondisi Amerika Serikat dengan imperium Inggris, Prancis, dan Uni Soviet yang sebelumnya mengalami kemunduran. Menurutnya, “kelihaiannya Iran mengubah seluruh persamaan” terlihat dari kesabaran dan ketahanan strategis yang diterapkan Teheran.

Iran, menurut Atwan, memanfaatkan Selat Hormuz untuk menjalankan perang atrisi jangka panjang. Dia menilai keterbatasan Trump dalam memahami sejarah, geografi, politik, dan pemikiran strategis turut menguntungkan Iran.

Strategi Iran dan Pemilu Amerika

Atwan mengatakan fokus analisisnya bukan pada kemampuan militer Iran, termasuk rudal dan pesawat nirawak, melainkan strategi yang berjalan bersamaan dengan perang yang telah berlangsung selama enam bulan.

Menurutnya, Iran berupaya mempertahankan konflik hingga pemilu sela Amerika Serikat yang dijadwalkan tiga bulan mendatang. Strategi tersebut, menurut Atwan, diarahkan untuk melemahkan Trump dan Partai Republik hingga kehilangan kekuasaan.

Atwan menilai para pemimpin baru Iran memahami kelemahan Trump dan meningkatnya kemarahan publik Amerika Serikat. Karena itu, Teheran disebut tidak memberi Trump ruang untuk mengakhiri konflik dengan mengumumkan “kemenangan palsu”.

Baca juga: Panglima IRGC: Pejuang Islam Membuat Militer Terkuat Dunia Bertekuk Lutut

Iran juga disebut tetap mempertahankan enam tuntutan yang oleh Atwan disebut sebagai syarat hukum dan tidak dapat dinegosiasikan. Tuntutan tersebut mencakup pencabutan total blokade, penghapusan sanksi ekonomi, pembebasan seluruh aset Iran yang dibekukan, serta pembayaran lebih dari 400 miliar dolar sebagai kompensasi atas kerusakan akibat agresi Amerika Serikat dan Israel.

Tekanan terhadap Washington

Atwan mengklaim mayoritas pakar strategi Amerika Serikat menilai kekalahan Washington dalam perang di Selat Hormuz tidak terhindarkan. Menurutnya, penarikan diri dari Timur Tengah untuk membatasi kerugian dapat menjadi pilihan yang sulit dihindari, terutama menjelang pemilu.

Menurut Atwan, tekanan tersebut tampaknya telah sampai kepada Trump dan kabinetnya. Dia secara khusus menyinggung Wakil Presiden J.D. Vance yang disebut menempatkan penurunan harga minyak sebagai prioritas perang terhadap Iran, bukan program nuklir, rudal balistik, atau upaya menggulingkan pemerintahan Iran.

Baca juga: CNN: Perang Iran Makin Membebani Trump, dari Krisis Amunisi hingga Moral Pasukan

Atwan juga menyoroti apa yang disebutnya sebagai kegagalan kapal induk Amerika Serikat menghadapi kemampuan dan ketahanan Iran. Menurutnya, penguasaan Iran atas Selat Hormuz memberi Teheran pengaruh terhadap perekonomian global, sekaligus ruang untuk memperpanjang dan memperluas konflik.

Pengaruh tersebut juga disebut memberi Iran kemampuan memengaruhi harga minyak dan gas. Atwan menilai kenaikan harga energi pada akhirnya meningkatkan beban pembayar pajak Amerika Serikat, termasuk ketika Washington harus membiayai perang Israel. []

Baca juga: Pejabat Senior Keamanan Nasional Gedung Putih Mundur