Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Babak Baru Operasi Nasr 2: IRGC Gempur Pangkalan Militer Amerika di Teluk Persia

Published

on

Ketegangan meningkat di kawasan Teluk Persia setelah IRGC mengklaim melancarkan gelombang kedua Operasi Nasr 2 yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat.
Babak baru konflik Iran-Amerika Serikat memicu eskalasi di Teluk Persia dan Selat Hormuz.

Ahlulbait Indonesia, 14 Juli 2026 — Konflik Iran dan Amerika Serikat memasuki fase baru pada Selasa (14/7/2026) ketika kedua negara kembali terlibat aksi saling serang untuk malam ketiga berturut-turut. Di tengah berlanjutnya operasi militer Amerika Serikat yang diumumkan Komando Pusat AS (CENTCOM), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan telah melancarkan gelombang kedua Operasi Nasr 2 yang diklaim menyasar sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.

Seiring meningkatnya intensitas operasi militer, ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah selatan Iran, sementara insiden di Selat Hormuz dan Laut Oman memperluas dampak konflik hingga ke jalur pelayaran internasional. Dalam beberapa jam berikutnya, IRGC dan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran merilis serangkaian pernyataan yang menguraikan operasi balasan terhadap sasaran-sasaran militer Amerika Serikat di kawasan.

Baca juga: Dewan Ahli Dukung Seruan Pemimpin Revolusi untuk Membalas Gugurnya Para Syuhada

Ledakan Beruntun Guncang Iran Sejak Dini Hari

Menurut laporan Kantor Berita Mehr (Mehr News Agency), sekitar pukul 02.10 waktu setempat, laporan pertama mengenai serangan terhadap sejumlah lokasi di Kabupaten Omidiyeh, Provinsi Khuzestan, mulai bermunculan. Wakil Gubernur Khuzestan Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum mengatakan sedikitnya empat orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Tim penyelamat dan layanan darurat segera dikerahkan ke lokasi. Tidak lama kemudian, beberapa ledakan juga terdengar dari wilayah barat Bandar Abbas, meskipun hingga beberapa jam setelah kejadian belum diketahui secara pasti sasaran maupun penyebabnya.

Laporan lain menyebut ledakan juga terdengar di Pulau Qeshm dan Pulau Kish. Organisasi Kawasan Perdagangan Bebas Kish menyatakan kawasan pelabuhan menjadi sasaran serangan, namun tidak menimbulkan korban jiwa. Di tengah beredarnya informasi di media sosial mengenai dugaan kerusakan fasilitas listrik dan air bersih di Pulau Kish, otoritas setempat membantah kabar tersebut dan memastikan seluruh layanan publik tetap beroperasi normal.

Sekitar pukul 03.10 waktu setempat, ledakan juga dilaporkan terdengar di Kota Bushehr serta Kabupaten Jam dan Kangan. Hingga berita ini disusun, belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab ledakan tersebut.

Ketegangan Merambah Laut Oman dan Selat Hormuz

Situasi di perairan regional juga dilaporkan memanas. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan terjadinya insiden maritim sekitar 40 mil laut di timur laut Kota Qalhat, pesisir Oman. Pada saat hampir bersamaan, Uni Emirat Arab menyatakan dua kapal tanker berbendera negaranya menjadi sasaran serangan rudal ketika melintasi jalur selatan Selat Hormuz di perairan Oman. Menurut otoritas UEA, satu awak kapal tewas dan delapan lainnya mengalami luka-luka, termasuk empat orang dalam kondisi serius. Kebakaran sempat terjadi di kedua kapal sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.

Hingga laporan ini diterbitkan, belum terdapat verifikasi independen mengenai penyebab insiden maupun pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap kedua kapal tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran Sindir Trump

Dalam tanggapan publik pertamanya terhadap perkembangan terbaru, Menteri Luar Negeri Iran menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai biaya keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Ia mengatakan Iran selama ini menjamin keamanan jalur pelayaran tersebut dan akan terus melaksanakannya. Namun, angka 20 persen yang sebelumnya disebut Trump sebagai biaya pengamanan dinilai “terlalu tinggi”. Menurutnya, apabila terdapat mekanisme penetapan biaya, Iran akan menerapkannya secara lebih adil.

Baca juga: Angkatan Bersenjata Yaman Serang Bandara Abha, Balas Serangan Saudi ke Bandara Sanaa

Iran Laporkan Penembakan Drone Amerika

Media-media Iran juga melaporkan bahwa sebuah pesawat nirawak (drone) Amerika Serikat jenis MQ-1 berhasil dideteksi, dilacak, dan ditembak jatuh di Selat Hormuz oleh sistem pertahanan udara Pasukan Dirgantara IRGC yang terintegrasi dalam jaringan pertahanan udara nasional Iran.

Pernyataan Nomor 6: IRGC Laporkan Insiden Dua Kapal Tanker

Dalam Pernyataan Nomor 6, Humas IRGC menyebut militer Amerika Serikat berupaya mengarahkan kapal-kapal dagang melewati jalur yang disebut sebagai rute ilegal di Selat Hormuz. Menurut pernyataan tersebut, dua supertanker mematikan sistem navigasi, mengabaikan peringatan berulang dari Pusat Pengendalian Keamanan Selat Hormuz, dan memilih melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau. IRGC menyatakan kedua kapal kemudian terkena serangan hingga tidak lagi dapat beroperasi.

IRGC juga memperingatkan bahwa bekerja sama dengan “musuh agresor” hanya akan menimbulkan kerugian, menunda pembukaan kembali Selat Hormuz, dan memperbesar risiko krisis energi global.

Operasi Nasr 2 Menyasar Bahrain

Melalui Pernyataan Nomor 7, IRGC mengumumkan dimulainya gelombang kedua Operasi Nasr 2 sebagai respons atas serangan udara Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas militer di wilayah selatan Iran. IRGC menyatakan sasaran operasi meliputi gudang logistik persenjataan, pusat komunikasi satelit, serta kompleks tempat tinggal personel militer Amerika Serikat di Pangkalan Al-Jufair, Bahrain, yang diserang menggunakan rudal dan drone.

Laporan lain yang belum dapat diverifikasi menyebut sebuah rudal menghantam kawasan Al-Jufair, lokasi Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat, yang kemudian diikuti dengan aktifnya sirene peringatan di Bahrain.

IRGC Laporkan Serangan terhadap Fasilitas Armada Kelima

Dalam Pernyataan Nomor 8, IRGC menyebut pasukan laut dan dirgantara mereka menyerang Armada Kelima Amerika Serikat di Bahrain. Menurut keterangan tersebut, sasaran serangan meliputi tangki bahan bakar armada, radar Patriot, radar pengendali lalu lintas udara Armada Kelima, serta sistem radar peringatan dini jenis C-RAM.

IRGC juga menyatakan pusat kendali dan pemantauan kapal nirawak Amerika Serikat berhasil dinonaktifkan. Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan fasilitas-fasilitas tersebut.

Baca juga: Serangan Saudi ke Bandara Sana’a, Gagal Hentikan Misi Kemanusiaan Iran

Serangan ke Pangkalan Udara di Yordania

Dalam Pernyataan Nomor 9, IRGC menyatakan bahwa pada tahap ketiga gelombang kedua Operasi Nasr 2, rudal balistik diluncurkan ke salah satu pangkalan udara di Yordania yang disebut digunakan sebagai basis operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. IRGC juga menyebut bahwa pada hari pertama rangkaian konflik, serangan yang dilancarkan dari pangkalan tersebut menyebabkan gugurnya 186 pelajar dan guru di Minab.

Dalam pernyataan yang sama, IRGC menegaskan tidak memiliki permusuhan terhadap rakyat Yordania dan menyerukan penutupan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di negara tersebut. Menurut IRGC, langkah itu akan membantu perjuangan rakyat Palestina sekaligus mendukung stabilitas kawasan.

Sejumlah media Arab, termasuk Sabereen News, dalam laporan kilatnya menyatakan bahwa beberapa suara ledakan terdengar di berbagai lokasi di Yordania.

Sejumlah media Arab, termasuk Sabereen News, dalam laporan kilatnya menyatakan bahwa beberapa suara ledakan terdengar di berbagai lokasi di Yordania.

Militer Iran Serang Fasilitas Amerika di Kuwait

Humas Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran juga mengumumkan bahwa, sebagai respons atas apa yang disebut sebagai agresi Amerika Serikat terhadap Iran, militer Iran melancarkan serangan drone terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait.

Menurut keterangan tersebut, sasaran meliputi sistem komunikasi, tangki bahan bakar, sistem pertahanan udara Patriot, menara pengawas, serta gudang amunisi.

Selain itu, Angkatan Laut Iran menyatakan telah menembakkan rudal jelajah ke sebuah kapal militer Amerika Serikat sebagai balasan atas serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran.

Militer Iran menegaskan bahwa operasi pertahanan akan terus berlanjut sesuai tingkat eskalasi yang dilakukan pihak lawan.

Perkembangan di Negara-Negara Kawasan

Bahrain mengonfirmasi sirene peringatan darurat telah diaktifkan dan mengimbau masyarakat segera menuju tempat perlindungan terdekat. Di Yordania, sejumlah laporan yang belum terverifikasi menyebut Pangkalan Udara Muwaffaq Al-Salti menjadi sasaran serangan rudal. Di Kuwait, sejumlah media melaporkan fasilitas komunikasi, tangki bahan bakar, sistem pertahanan udara Patriot, menara pengawas, serta gudang amunisi militer Amerika Serikat menjadi sasaran serangan drone.

Sementara itu, Uni Emirat Arab tetap menyatakan bahwa dua kapal tanker miliknya diserang ketika melintasi perairan Oman di Selat Hormuz.

Baca juga: Markas Khatam al-Anbiya: Iran Tak Akan Biarkan AS Campuri Pengelolaan Selat Hormuz

Kronologi Singkat

WaktuPeristiwa
02.10Serangan pertama dilaporkan di Omidiyeh
03.10Ledakan di Bushehr
Dini hariUKMTO melaporkan insiden maritim
PagiCENTCOM umumkan operasi malam ketiga
BerikutnyaIRGC keluarkan Pernyataan Nomor 6
BerikutnyaOperasi Nasr 2 dimulai
BerikutnyaSerangan Bahrain
BerikutnyaSerangan Yordania
KemudianIran serang fasilitas AS di Kuwait

Konflik Memasuki Fase Baru

Hingga laporan ini diterbitkan, sebagian besar perkembangan yang terjadi masih bersumber dari pernyataan resmi pemerintah dan militer Iran maupun laporan media regional. Sejumlah klaim mengenai sasaran serangan, tingkat kerusakan, serta jumlah korban belum memperoleh konfirmasi independen dari pemerintah Amerika Serikat maupun negara-negara yang disebut menjadi lokasi serangan.

Terlepas dari masih berlangsungnya perang informasi di antara pihak-pihak yang bertikai, rangkaian peristiwa pada Selasa, 14 Juli 2026, menunjukkan bahwa konfrontasi Iran dan Amerika Serikat telah memasuki fase baru. Konflik tidak lagi terbatas pada serangan terhadap wilayah Iran, tetapi meluas ke jaringan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia serta jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.

Dengan keterlibatan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia serta meningkatnya risiko gangguan terhadap Selat Hormuz, konflik ini tidak lagi menjadi persoalan bilateral antara Teheran dan Washington. Eskalasi berikutnya berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional, jalur perdagangan internasional, serta dinamika pasar energi global. []

Baca juga: Citra Satelit Perlihatkan Kerusakan Luas Pangkalan AS akibat Serangan Balasan Iran