Internasional
Pete Hegseth Ultimatum Irak: Pilih Iran atau Amerika Serikat

Ahlulbait Indonesia, 15 Juli 2026 — Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth melontarkan syarat keras bagi pemerintah Irak. Di tengah kunjungan resmi Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi ke Washington, Hegseth menyatakan bahwa masa depan kerja sama perdagangan dan pertahanan kedua negara bergantung pada kesediaan Baghdad memperkuat kedaulatannya sekaligus melucuti kelompok-kelompok perlawanan yang disebut didukung Iran.
Fars News Agency melaporkan pada Rabu (15/7/2026), pernyataan tersebut pada praktiknya menempatkan Baghdad di hadapan sebuah pilihan politik: mempertahankan hubungan dengan kelompok-kelompok perlawanan atau memperluas kemitraan strategis dengan Washington.
Baca juga: IRGC Terbitkan Pernyataan kepada Rakyat Kuwait, Desak Kehadiran Militer AS Diakhiri
“Kami ingin memperdalam kemitraan. Untuk itu, Irak harus memperkuat kedaulatannya dan melucuti kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran, yang kami nilai bertanggung jawab atas lebih dari 600 serangan terhadap pasukan Amerika Serikat pada musim semi tahun ini,” ujar Hegseth.
Mengutip RIA Novosti, Hegseth juga menyatakan bahwa Amerika Serikat berharap Irak segera mengambil alih kepemimpinan penuh operasi melawan kelompok teroris ISIS seiring mendekatinya akhir misi koalisi internasional Operation Inherent Resolve yang dipimpin Washington. Menurutnya, Irak yang aman akan membuka jalan bagi perluasan kerja sama perdagangan dan pertahanan dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut memunculkan ironi tersendiri. Di satu sisi Washington meminta Baghdad mengambil tanggung jawab keamanan yang lebih besar dan memenuhi serangkaian prasyarat politik, sementara di sisi lain tetap menentukan parameter yang harus dipenuhi Irak demi mempertahankan kemitraan dengan Amerika Serikat.
Baca juga: Dewan Ahli Dukung Seruan Pemimpin Revolusi untuk Membalas Gugurnya Para Syuhada
Dalam rangkaian kunjungan resminya ke Washington, Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi juga bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas kerja sama di bidang keamanan dan ekonomi.
Menariknya, dalam kesempatan terpisah Hegseth menyatakan bahwa seluruh pasukan Amerika Serikat dijadwalkan meninggalkan Irak sebelum akhir September tahun ini. Dengan demikian, di saat Washington menyiapkan akhir kehadiran militernya di Irak, Baghdad pada saat yang sama diminta memenuhi syarat-syarat baru untuk memperdalam hubungan dengan Amerika Serikat. []
Baca juga: Babak Baru Operasi Nasr 2: IRGC Gempur Pangkalan Militer Amerika di Teluk Persia







