Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Bloomberg: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Nyaris Terhenti di Tengah Eskalasi Konflik

Published

on

Mural raksasa di Teheran, Iran, menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump dengan mulut yang ditutup oleh ilustrasi Selat Hormuz. (Dok. Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 14 Juli 2026 — Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan tajam hingga nyaris terhenti pada Selasa (14/7/2026). Bloomberg, mengutip data sistem pelacakan kapal, melaporkan bahwa sejak dini hari lalu lintas kapal di jalur pelayaran strategis tersebut hampir berhenti sepenuhnya. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi militer di kawasan Teluk Persia dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.

Menurut data yang dikutip Bloomberg, penurunan volume pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu yang paling signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman itu merupakan lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi harga energi internasional.

Baca juga: Babak Baru Operasi Nasr 2: IRGC Gempur Pangkalan Militer Amerika di Teluk Persia

Di tengah situasi tersebut, Kantor Berita Fars melaporkan bahwa beberapa jam sebelumnya militer Amerika Serikat kembali berupaya mengawal sejumlah kapal melalui jalur yang, menurut Iran, berada di luar rute pelayaran resmi di Selat Hormuz.

Mengutip pernyataan resmi Iran, Fars menyebut dua supertanker memilih mengikuti jalur tersebut setelah mematikan sistem navigasi dan mengabaikan peringatan berulang dari Pusat Pengendalian Keamanan Selat Hormuz. Kedua kapal itu juga disebut melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau sebelum akhirnya terkena serangan dan tidak lagi dapat beroperasi.

Dalam pernyataan terpisah, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) menyatakan bahwa setiap bentuk kerja sama dengan pihak “agresor” serta upaya melintasi jalur yang telah dipasangi ranjau hanya akan berujung pada kerugian, keterlambatan pembukaan kembali Selat Hormuz, dan berpotensi memicu krisis energi global.

Data pelayaran yang dikutip Fars menunjukkan bahwa pada Minggu sebanyak 14 kapal masih melintasi Selat Hormuz. Sehari kemudian jumlah itu turun menjadi hanya tiga kapal, dengan sebagian besar di antaranya menggunakan jalur pelayaran di sisi perairan Iran. Volume tersebut disebut sebagai tingkat lalu lintas harian terendah dalam satu bulan terakhir.

Hampir terhentinya aktivitas pelayaran di salah satu jalur distribusi energi terpenting dunia menjadi perhatian pelaku pasar. Selat Hormuz merupakan penghubung utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar internasional. Gangguan terhadap arus pelayaran di kawasan ini dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak serta meningkatkan volatilitas pasar energi global.

Dalam beberapa hari terakhir, biaya asuransi kapal tanker, waktu pengiriman, dan harga minyak dunia juga dilaporkan terus meningkat seiring memburuknya situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz. []

Baca juga: Dewan Ahli Dukung Seruan Pemimpin Revolusi untuk Membalas Gugurnya Para Syuhada