Internasional
Tak Bernyali Hadapi AS, Warga Syiah Teluk Diperkusi atas Nama Keamanan

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Perang Amerika Serikat dengan Iran turut merembet ke persoalan sosial dan keamanan di negara-negara Teluk. Di Bahrain, Kuwait dan Uni Emirat Arab, meningkatnya tindakan keamanan terhadap warga Syiah memunculkan kekhawatiran bahwa ketegangan dengan Iran mulai menyeret identitas keagamaan ke dalam urusan keamanan domestik.
Menurut laporan Fars News Agency pada Kamis, 20 Agustus 2026, negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan dan pasukan Amerika menghadapi tekanan ganda. Mereka harus merespons ancaman dari luar sekaligus menjaga stabilitas di dalam negeri.
Baca juga: Gagal Taklukkan Iran Melalui Militer, Trump Sulut Perang Baru
Masalah muncul ketika dugaan hubungan dengan Iran tidak lagi diarahkan kepada individu berdasarkan tindakan tertentu, tetapi mulai dikaitkan dengan identitas keagamaan. Padahal, komunitas Syiah telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial di negara-negara tersebut.
Dari Ancaman Eksternal ke Kecurigaan
Pemerintah memiliki kewenangan menangani spionase, kerja sama militer atau pemberian informasi kepada negara asing. Namun, tindakan semacam itu semestinya didasarkan pada perilaku dan bukti yang menyangkut individu.
Komunitas Syiah di Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab dan negara lain di kawasan memiliki sejarah panjang, jaringan keluarga, kegiatan ekonomi serta kehidupan sosial sendiri. Pandangan politik di dalam komunitas tersebut juga tidak seragam.
Menyamakan identitas Syiah dengan loyalitas politik kepada Iran karena itu berisiko mengubah persoalan antarnegara menjadi kecurigaan terhadap sebuah komunitas agama.
Bahrain Menjadi Contoh Paling Menonjol
Bahrain menjadi salah satu contoh paling jelas. Negara tersebut menjadi tuan rumah Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat dan memiliki posisi penting dalam operasi militer Washington di kawasan.
Setelah perang pecah dan Iran memberikan respons, Fars melaporkan meningkatnya tindakan keamanan terhadap warga Syiah Bahrain. Penangkapan disebut mencakup anak-anak, ulama dan tokoh agama dengan tuduhan terkait Iran.
Baca juga: Foreign Affairs: Tak Ada Lagi yang Percaya Amerika
Pembatasan juga disebut menyentuh kegiatan Muharram dan Asyura. Bagi masyarakat Syiah Bahrain, kedua momentum tersebut bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi juga bagian dari memori sejarah dan identitas komunitas.
Rencana pencabutan kewarganegaraan menambah persoalan. Ketika status kewarganegaraan digunakan dalam konteks konflik keamanan, muncul pertanyaan mengenai kesetaraan posisi warga di hadapan negara.
Kuwait dan Masalah Kepercayaan
Warga Syiah Kuwait telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi, sosial dan politik negara tersebut. Karena itu, anggapan bahwa mereka merupakan kelompok asing tidak mencerminkan posisi historis komunitas tersebut dalam masyarakat Kuwait.
Peningkatan pendekatan keamanan, termasuk pembatasan kegiatan keagamaan dan pencabutan kewarganegaraan terhadap sebagian warga Syiah, berpotensi memperlemah hubungan mereka dengan pemerintah.
Tekanan terhadap tokoh agama dan kegiatan komunitas juga dapat berkembang menjadi persoalan kepercayaan sosial yang lebih luas.
Pengawasan di UEA Menyentuh Ruang Privat
Di Uni Emirat Arab, kekhawatiran terutama berkaitan dengan pengawasan terhadap pertemuan keagamaan, termasuk kegiatan yang berlangsung di lingkungan pribadi dan rumah tinggal.
Pengaturan kegiatan publik berbeda dengan campur tangan terhadap ritual keagamaan yang berlangsung secara privat. Ketika pengawasan memasuki ruang tersebut, persoalannya menyentuh kebebasan beragama dan kehidupan pribadi warga.
Jika pola tersebut meluas, dampaknya tidak mustahil menjangkau komunitas lain.
Baca juga: Analis: Perang Iran Bisa Jadi Kegagalan Terbesar AS
Identitas Jadi Ukuran Keamanan
Perkembangan di Bahrain, Kuwait dan UEA menunjukkan pola yang serupa. Penanganan terhadap individu yang diduga memiliki hubungan dengan pihak asing dapat bergeser menjadi pengawasan terhadap komunitas berdasarkan agama.
Dampaknya bukan hanya terhadap kebebasan menjalankan kegiatan keagamaan. Tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat sebagian warga merasa harus membuktikan loyalitas kepada negara lebih dari warga lainnya.
Kebijakan yang ditujukan untuk membatasi pengaruh asing juga berisiko menghasilkan dampak sebaliknya jika memperbesar rasa diskriminasi dan memperlebar jarak antara masyarakat dengan pemerintah.
Baca juga: Iran Bantah Tembakkan Rudal ke UEA
Ujian Setelah Perang
Dampak kebijakan tersebut akan lebih terlihat setelah perang berakhir. Jika pembatasan terhadap ritual, kegiatan keagamaan dan komunitas berubah menjadi kebijakan permanen, konflik dapat meninggalkan perubahan jangka panjang dalam hubungan negara dengan warga Syiah.
Tantangan pemerintah negara-negara Teluk adalah menjaga keamanan tanpa menjadikan identitas agama sebagai ukuran loyalitas. Ancaman dari luar dapat ditangani melalui bukti dan tindakan yang terarah kepada pihak yang terbukti terlibat, tanpa menyeret komunitas yang lebih luas ke dalam kecurigaan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan keamanan bukan seberapa luas pemerintah mempersempit ruang gerak warganya, melainkan seberapa tepat mereka membedakan ancaman nyata dari identitas masyarakat yang telah menjadi bagian dari negara itu sendiri. []
Baca juga: Pentagon Bingung Ungkap Rahasia Serangan Presisi Iran







