Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Jutaan Penziarah Padati Teheran, Iran Gelar Penghormatan Terakhir bagi Pemimpin Syahid Revolusi

Published

on

Jutaan penziarah memadati Musala Imam Khomeini, Teheran, Sabtu (4/7/2026), untuk mengikuti prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Jutaan penziarah memadati Musala Imam Khomeini, Teheran, Sabtu (4/7/2026), untuk mengikuti prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. (Foto: Farsnews Agency)

Ahlulbait Indonesia, 4 Juli 2026 — Iran menggelar prosesi penghormatan terakhir kepada Pemimpin Syahid Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, di Musala Imam Khomeini, Teheran, Sabtu, 4 Juli 2026. Upacara resmi dimulai pukul 06.00 waktu setempat setelah sejak sebelum fajar jutaan penziarah dari berbagai penjuru Iran bersama ribuan tamu kenegaraan mancanegara memadati kompleks musala dan seluruh ruas jalan menuju lokasi. Laporan ini disusun berdasarkan perkembangan yang dihimpun Farsnews Agency.

Baca juga: “Takjub!” Kesan Pertama Menyaksikan Peringatan Syahadah Imam Husain pada 10 Muharram

Jauh sebelum matahari terbit, kawasan Musala Imam Khomeini telah dipenuhi lautan manusia. Sejak Jumat malam, para penziarah berdatangan dan menempati halaman musala, trotoar, serta jalur-jalur utama menuju lokasi. Banyak di antara mereka memilih bermalam agar dapat mengikuti prosesi penghormatan sejak detik pertama dimulai.

Seiring terus bertambahnya jumlah penziarah, penyelenggara membuka pintu musala lebih awal dari jadwal. Gelombang masyarakat kemudian bergerak memasuki area utama secara tertib di bawah pengaturan aparat keamanan dan petugas layanan publik. Pada saat yang sama, arus kedatangan dari berbagai penjuru ibu kota terus berlangsung tanpa henti.

Di luar kompleks musala, jalan-jalan utama berubah menjadi lautan manusia. Jalan Syahid Beheshti, Jalan Qanbarzadeh, Jalan Tol Syahid Soleimani, dan Jalan Tol Modarres dipenuhi penziarah yang datang dengan berjalan kaki maupun menggunakan angkutan umum. Dari berbagai arah, mereka bergerak menuju satu titik yang sama untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin yang mereka kenang sebagai Syahid Revolusi Islam.

Tepat ketika prosesi resmi dimulai, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di seluruh kawasan Musala Imam Khomeini. Qari Ahmad Abolqasemi membuka rangkaian acara dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tilawah yang mengalun dari panggung utama menghadirkan suasana hening dan khusyuk di tengah jutaan penziarah yang memenuhi setiap sudut kawasan.

Sesaat setelah pembacaan Al-Qur’an selesai, lagu kebangsaan Republik Islam Iran dikumandangkan. Jutaan penziarah berdiri serentak memberikan penghormatan. Keheningan yang menyelimuti kawasan musala, diiringi lantunan lagu kebangsaan, mencerminkan penghormatan mendalam masyarakat terhadap momentum yang dipandang sebagai salah satu peristiwa bersejarah dalam perjalanan Republik Islam Iran.

Rangkaian prosesi kemudian berlanjut dengan berkumandangnya mars berkabung “Hari Ini Hari Berkabung” (Aza Azaast Emruz). Syair yang telah lama dikenal dalam tradisi berkabung masyarakat Iran itu menggema dari aula utama hingga ke kawasan luar musala. Jutaan penziarah mengikuti lantunan tersebut sambil melafalkan doa dan ungkapan belasungkawa. Suasana duka semakin menguat ketika mars berkumandang di tengah lautan manusia yang memadati lokasi.

Tidak lama kemudian, jenazah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bersama anggota keluarganya ditempatkan di panggung utama. Momen itu menjadi puncak penghormatan ketika para penziarah menyambutnya dengan lantunan selawat, doa, dan ungkapan belasungkawa. Ribuan tangan terangkat mengiringi doa, sementara jutaan pasang mata tertuju ke arah panggung utama tempat jenazah disemayamkan untuk penghormatan terakhir.

Prosesi dilanjutkan dengan lantunan syair ratapan (marsiyah) yang dibawakan Mahdi Rasouli. Syair-syair duka menggema di seluruh kawasan musala dan diikuti para penziarah dalam suasana yang tetap khidmat. Lantunan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian penghormatan yang berlangsung sepanjang pagi.

Baca juga: Iran Matangkan Persiapan Besar-Besaran Prosesi Penghormatan Terakhir bagi Pemimpin Syahid Revolusi Islam

Pada sesi berikutnya, Nariman Panahi memimpin lantunan duka (noha) bertema Karbala. Salam kepada Penghulu Para Syuhada, Imam Husain a.s., kemudian menggema di seluruh kawasan Musala Imam Khomeini dan memperkuat nuansa spiritual dalam prosesi penghormatan terakhir. Rangkaian ini menegaskan keterhubungan penghormatan kepada pemimpin syahid dengan nilai-nilai pengorbanan, keteguhan, dan perjuangan yang diwariskan Imam Husain a.s. dalam peristiwa Asyura.

Di sela-sela prosesi, gema slogan “Balas Dendam” (Intiqam) beberapa kali terdengar dari berbagai penjuru kawasan musala. Seruan tersebut bergema bersamaan dengan lantunan doa, marsiyah, dan noha yang terus mengiringi jalannya penghormatan terakhir.

Hingga laporan ini disusun, arus penziarah masih terus berdatangan ke Musala Imam Khomeini. Aparat keamanan bersama petugas layanan publik tetap mengatur mobilitas massa guna memastikan prosesi berlangsung tertib dan lancar.

Prosesi penghormatan terakhir ini menjadi salah satu perhimpunan publik terbesar di Iran, bahkan di dunia, dalam beberapa tahun terakhir. Sejak sebelum fajar hingga seluruh rangkaian acara berlangsung, jutaan penziarah memadati Musala Imam Khomeini dan kawasan sekitarnya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sosok yang dikenang tidak hanya oleh masyarakat Iran, tetapi juga oleh para pendukungnya di berbagai belahan dunia sebagai Pemimpin Syahid Revolusi Islam. []

Baca juga: Pesan Peringatan Jenderal Qaani Picu Kekhawatiran Menteri Perang Israel