Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Axios: Dukungan Buta Partai Republik terhadap Israel Mulai Runtuh

Published

on

Simbol Partai Republik di kantor pusat partai di Washington. (Press TV)

Ahlulbait Indonesia, 29 Juni 2026 — Dukungan buta generasi muda Partai Republik Amerika Serikat terhadap Israel terus menunjukkan tren penurunan di tengah berlanjutnya perang di Jalur Gaza dan meningkatnya ketegangan setelah operasi militer bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pergeseran sikap tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai keberlanjutan dukungan tradisional Partai Republik terhadap Tel Aviv yang selama ini menjadi salah satu pilar utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Baca juga: Iran Desak Jadwal Penarikan Pasukan Israel dari Lebanon

Menurut Press TV, laporan Axios yang diterbitkan pada Minggu (28/6/2026) menunjukkan bahwa perang di Gaza dan dampak politik dari konfrontasi militer dengan Iran telah memicu perubahan pandangan yang semakin nyata di kalangan konservatif Amerika Serikat, terutama pada kelompok pemilih muda.

Direktur University of Maryland Critical Issues Poll, Shibley Telhami, menilai perubahan tersebut bukan lagi sekadar gejala sementara, melainkan perkembangan politik yang mulai membentuk dinamika baru di tubuh Partai Republik.

“Ada sesuatu yang benar-benar sedang berkembang di kalangan Republikan muda,” ujarnya.

Survei Ungkap Perbedaan Tajam Antargenerasi

Sejumlah survei yang dikutip Axios memperlihatkan kesenjangan pandangan yang semakin lebar antara pemilih Republikan muda dan generasi yang lebih tua terhadap Israel.

Survei Pew Research Center pada April menunjukkan 40 persen pemilih Partai Republik memiliki pandangan yang tidak menguntungkan terhadap Israel. Persentase tersebut meningkat menjadi 57 persen pada kelompok usia 18 hingga 49 tahun, sedangkan pada kelompok usia 50 tahun ke atas hanya mencapai 25 persen.

Temuan serupa muncul dalam survei Quinnipiac University pada Juni. Sebanyak satu dari lima pemilih Partai Republik menilai Amerika Serikat telah memberikan dukungan yang terlalu besar kepada Israel. Angka tersebut hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan setelah dimulainya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023.

Sementara itu, survei University of Maryland Critical Issues Poll menunjukkan hanya 46 persen pemilih Partai Republik yang masih menganggap perang di Gaza sebagai bentuk “pembelaan diri yang dapat dibenarkan”. Di kalangan responden berusia 18 hingga 34 tahun, tingkat dukungan terhadap pandangan tersebut turun menjadi hanya 22 persen.

Strategi Politik Netanyahu Mulai Dipertanyakan

Menurut Axios, selama bertahun-tahun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya mengimbangi menurunnya dukungan dari Partai Demokrat dengan mempererat hubungan politik bersama Partai Republik.

Namun, berbagai hasil survei terbaru serta meningkatnya kritik dari sejumlah tokoh konservatif menunjukkan strategi tersebut mulai menghadapi tantangan serius, terutama dari basis pemilih muda Partai Republik.

Laporan itu juga menyebut dukungan terhadap Israel semakin tergerus akibat perbedaan pandangan antara Netanyahu dan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai upaya mengakhiri perang dengan Iran.

Tokoh America First Ikut Mengkritik Israel

Perubahan suasana politik tersebut turut diperkuat oleh kritik sejumlah tokoh berpengaruh dalam kelompok America First, yang selama ini dikenal menolak keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik luar negeri.

Di antara mereka terdapat Tucker Carlson, Megyn Kelly, dan mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene.

Baca juga: Iran Matangkan Persiapan Besar-Besaran Prosesi Penghormatan Terakhir bagi Pemimpin Syahid Revolusi Islam

Dalam kritiknya, Carlson menuduh Netanyahu berupaya “memanipulasi” Presiden Donald Trump agar terlibat dalam perang melawan Iran. Bahkan, ia menyebut Trump sebagai “budak” Perdana Menteri Israel tersebut.

Kritik juga datang dari Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance. Ia mempertanyakan sikap sejumlah pejabat Israel yang menolak Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang baru ditandatangani Washington dan Teheran.

Menurut Vance, apabila dirinya menjadi anggota kabinet Israel, ia tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih dimiliki Israel di dunia.

Rangkaian survei dan pernyataan para tokoh konservatif tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap Israel tidak lagi menjadi posisi yang sepenuhnya seragam di dalam basis pemilih Partai Republik. Bagi Netanyahu, perubahan itu berpotensi menjadi tantangan politik baru karena strategi memperkuat hubungan dengan Partai Republik kini mulai menghadapi resistensi dari generasi yang diperkirakan akan semakin menentukan arah politik Amerika Serikat pada tahun-tahun mendatang. []

Baca juga: Iran: Nota Kesepahaman dengan AS Tetapkan Pengelolaan Selat Hormuz di Bawah Tanggung Jawab Teheran