Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

IRGC: AS Gunakan Perang Hibrida untuk Melumpuhkan Ketahanan Iran

Published

on

Brigadir Jenderal Yadollah Javani, Wakil Politik IRGC, mengatakan perang militer, tekanan ekonomi, perang kognitif, dan perang hibrida diarahkan untuk mematahkan ketahanan rakyat Iran.
Brigadir Jenderal Yadollah Javani menyebut perang hibrida bertujuan mematahkan ketahanan dan kehendak rakyat Iran.

Media ABI, 18 Agustus 2026 – Wakil Politik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, mengatakan pihak lawan menggunakan berbagai cara, mulai dari aksi militer dan tekanan ekonomi hingga perang kognitif dan perang hibrida, untuk mematahkan ketahanan dan kehendak rakyat Iran dalam menghadapi konfrontasi strategis dengan kekuatan arogan global.

Dalam wawancara dengan Fars News di Sanandaj pada Selasa (18/8/2026), Javani mengatakan ancaman lunak dan keras yang dihadapi Iran saat ini merupakan kelanjutan dari berbagai ancaman selama 47 tahun terakhir. Namun, menurutnya, situasi sekarang memiliki arti lebih penting karena kekuatan arogan global kini berada dalam konfrontasi strategis dengan Republik Islam Iran.

Baca juga: Moskow Peringatkan London untuk Tidak Terlibat dalam Serangan Ukraina

Javani menyebut konfrontasi tersebut bersifat menentukan. Bentuk konfrontasi yang berkembang selama 15 bulan terakhir, menurutnya, menunjukkan bahwa pihak lawan telah menggunakan seluruh instrumen dan kemampuan yang dimiliki untuk menyerang rakyat Iran.

Wakil Politik IRGC tersebut mengatakan pihak lawan berupaya menghancurkan ketahanan rakyat Iran karena selama ketahanan itu tetap terjaga, rakyat akan mampu bertahan menghadapi berbagai ancaman.

“Baik melalui tindakan militer, tekanan ekonomi, maupun perang kognitif dan perang hibrida, tujuan pihak lawan adalah mematahkan ketahanan dan kehendak rakyat Iran,” kata Javani.

Javani menegaskan bahwa unsur terpenting dalam keamanan negara adalah rakyat dan kehendak mereka. Menurutnya, selama rakyat mempertahankan persatuan, kohesi, dan kehendak yang kuat, sebuah negara akan mampu menghadapi ancaman dan tidak mudah dikalahkan.

Baca juga: Kapal Pengangkut Senjata Arab Saudi Berbendera Indonesia Meledak di Bab al-Mandab

Sebaliknya, ketika kehendak rakyat mulai goyah, negara akan menghadapi persoalan. Karena itu, Javani menilai menjaga persatuan, kohesi, dan semangat keteguhan rakyat merupakan faktor terpenting dalam menghadapi ancaman pihak lawan.

“Rakyat adalah penentu utama negara. Kekuatan dan keamanan sejati negara terletak pada kehendak dan dukungan rakyat,” ujar Javani. []

Baca juga: IRGC Bantah Klaim Trump soal Dialog Rahasia dengan Garda Revolusi