Internasional
Bloomberg Ungkap Empat Poin Sengketa Utama Iran-AS

Ahlulbait Indonesia | 31 Mei 2026 — Media Amerika Serikat, Bloomberg, mengungkap empat isu utama yang hingga kini masih menghambat tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat. Sejumlah persoalan tersebut disebut menjadi garis merah bagi kedua pihak dan belum menemukan titik temu dalam negosiasi terbaru.
Baca juga: Al-Monitor Ungkap Rencana AS-Israel Gulingkan Iran Lewat Separatis Kurdi
Bloomberg, sebagaimana dikutip Fars News Agency pada Sabtu, 30 Mei 2026, menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menyampaikan sinyal yang saling bertentangan terkait arah negosiasi dengan Teheran di tengah konflik kawasan yang terus meluas.

Menurut Bloomberg, terdapat empat titik sengketa dalam negosiasi yang sama-sama menjadi garis merah bagi Iran dan Amerika Serikat. (Dok. Blomberg)
“Gedung Putih berulang kali menyampaikan pesan yang kontradiktif mengenai prospek kesepakatan, yang menunjukkan upaya Donald Trump untuk menemukan jalan keluar dari konflik,” tulis Bloomberg.
Menurut laporan tersebut, Trump pada Jumat menggelar rapat di Situation Room untuk mengambil “keputusan final” terkait negosiasi. Namun, seorang sumber Amerika Serikat yang mengetahui jalannya pertemuan mengatakan rapat selama dua jam itu berakhir tanpa hasil.
Perbedaan sikap di internal pemerintahan Trump juga disebut semakin terlihat dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: PBB Tegaskan Gaza Milik Palestina, Tolak Rencana Netanyahu Perluas Pendudukan
Pada Kamis, sejumlah pejabat Amerika Serikat menyatakan para negosiator telah mencapai nota kesepahaman yang tinggal menunggu persetujuan Trump. Namun hanya beberapa jam kemudian, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menolak mengonfirmasi adanya kesepakatan awal saat berbicara di Gedung Putih.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kedua pihak masih “berdebat mengenai sejumlah rincian redaksional”.
Bloomberg menyebut pemerintahan Trump kini menghadapi tekanan politik domestik untuk segera mengakhiri konflik. Survei terbaru menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan publik Amerika terhadap perang yang berlangsung, ditambah kekhawatiran atas kenaikan harga bahan bakar.
Dalam laporan tersebut, Bloomberg memetakan empat isu utama yang hingga kini masih menjadi sumber kebuntuan antara Washington dan Teheran.
Selat Hormuz
Iran disebut menginginkan kendali lebih besar terhadap lalu lintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan utama distribusi minyak dunia. Sementara Amerika Serikat menuntut kebebasan penuh pelayaran internasional tanpa pembatasan.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan Iran dan Amerika Serikat dapat bersama-sama mengelola lalu lintas di selat tersebut. Namun dalam pernyataan terbaru, Trump menegaskan tidak ada negara yang akan mengendalikan Hormuz.
Baca juga: Kongres AS Diam-Diam Dorong Integrasi Militer dengan Israel lewat NDAA 2027
Aset Iran yang Dibekukan
Teheran menuntut pencairan sekitar 12 miliar dolar AS dari aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Namun posisi resmi pemerintahan Trump terkait tuntutan tersebut masih belum jelas.
Meski demikian, Trump dalam pernyataan terbaru disebut menegaskan bahwa Washington tidak akan memberikan dana apa pun kepada Iran.
Konflik Lebanon
Iran menuntut adanya gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas di kawasan. Namun Israel, sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah, disebut belum menunjukkan keinginan menghentikan operasi militernya.
Perbedaan posisi itu memperlihatkan bahwa negosiasi tidak hanya menyangkut Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga kepentingan regional Israel di Lebanon.
Perselisihan lain berkaitan dengan stok uranium Iran yang telah diperkaya.
Baca juga: Gelombang Aksi Nasional di Italia Tuntut Penghentian Genosida Gaza
Iran disebut ingin mempertahankan stok uranium tersebut atau memindahkannya ke China maupun Rusia sebagai pihak ketiga. Sebaliknya, Amerika Serikat menginginkan uranium itu dihancurkan atau diserahkan kepada Washington.
Trump sebelumnya juga beberapa kali menyampaikan pernyataan yang berbeda terkait program nuklir Iran. Pada satu kesempatan, ia mengatakan hanya akan menerima penghentian permanen program nuklir Iran. Namun dalam pernyataan terbaru, Trump menyebut penghentian selama 20 tahun dapat dianggap “cukup”.
Laporan Bloomberg memperlihatkan bahwa di balik upaya menuju kesepakatan, Washington dan Teheran masih dipisahkan oleh sejumlah garis merah strategis yang belum menemukan titik temu. []
Baca juga: Hormuz dan Kartu Sunyi Iran di Jalur Energi Dunia







