Internasional
Washington Mulai Tarik Pasukan Bertahap dari Asia Barat

Ahlulbait Indonesia, 11 Agustus 2026 — Amerika Serikat disebut mulai menarik pasukannya secara bertahap dari kawasan Asia Barat di tengah berkurangnya minat sejumlah negara Teluk untuk mempertahankan hubungan keamanan dengan Washington. Penilaian tersebut disampaikan Scott Ritter, mantan perwira intelijen Amerika Serikat dan mantan inspektur Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui kanal YouTube miliknya, seperti dilaporkan IRNA pada Selasa (11/8/2026).
Ritter mengatakan militer Amerika Serikat telah menghabiskan sebagian besar persediaan rudal jarak jauh dan amunisi berpemandu presisi. Persediaan rudal Tomahawk juga disebut mengalami penurunan tajam.
Baca juga: Perang Iran Mencekik Trump, Washington Mulai Cari Jalan Keluar
Kondisi tersebut, menurut Ritter, membuat pasukan Amerika Serikat menghadapi kekurangan serius persenjataan jarak jauh untuk menyerang sasaran jauh di dalam wilayah Iran.
Ritter menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemungkinan tidak akan mengumumkan proses tersebut secara terbuka sebagai penarikan militer. Namun, kondisi di lapangan, menurutnya, menunjukkan berlangsungnya pengurangan bertahap kehadiran pasukan Amerika Serikat di kawasan.
Ritter juga menyebut sejumlah pemerintahan di kawasan kemungkinan mulai kehilangan minat untuk mempertahankan hubungan keamanan lama dengan Washington.
Menurut Ritter, negara-negara Arab di kawasan Teluk secara struktural sangat rentan karena keberlangsungan pemerintahan mereka sangat bergantung pada pendapatan energi dan dukungan militer Amerika Serikat.
Meskipun memiliki kekayaan minyak dan gas serta membeli persenjataan dalam jumlah besar, negara-negara tersebut, menurut Ritter, tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk menjamin keamanan sendiri. Penurunan pendapatan minyak, lanjutnya, dapat memicu krisis ekonomi, ketidakstabilan, dan pada akhirnya keruntuhan pemerintahan di negara-negara tersebut.
Pernyataan Ritter muncul setelah komentator Amerika Serikat Tucker Carlson turut menyoroti dampak perang terhadap Iran. Dalam pernyataan yang dikutip IRNA, Carlson menyebut perang terhadap Iran justru menghasilkan dampak berlawanan dari tujuan yang diharapkan.
Carlson mengatakan Iran tidak melemah akibat perang, melainkan berkembang menjadi kekuatan global dengan posisi yang semakin kuat dalam kalkulasi regional dan internasional.
Baca juga: Perang Iran Mencekik Trump, Washington Mulai Cari Jalan Keluar
Dalam wawancara dengan majalah milik Fakultas Jurnalistik Universitas Columbia, Carlson menyebut perang 12 hari antara Israel dan Iran sebagai titik balik yang mendorongnya mengkritik kebijakan Tel Aviv setelah tiga dekade memilih diam.
Menurut Carlson, sasaran sebenarnya dari perang tersebut bukan program nuklir Iran, melainkan upaya mengubah pemerintahan di Teheran. Carlson menilai Israel melakukan salah perhitungan strategis karena hasil perang justru berlawanan dengan yang diharapkan.
“Dari sudut pandang Israel, bayangkan Anda berpikir akan menjadi kekuatan dominan di kawasan, kemudian tiga bulan setelahnya Iran menjadi kekuatan global. Ini adalah mimpi buruk nyata,” kata Carlson.
Carlson juga mengkritik pengaruh kelompok lobi pro-Israel di Amerika Serikat. Menurutnya, Tel Aviv berupaya mengendalikan sistem politik Amerika Serikat untuk menghancurkan negara tersebut.
Carlson menambahkan bahwa Israel bahkan tidak memiliki kapasitas untuk menjalankan diplomasi dan ketergantungan terhadap kekuatan militer justru memperbesar kerugian strategis yang dihadapinya.
Pada akhir pernyataannya, Carlson mengungkapkan bahwa dalam tiga pertemuannya dengan Donald Trump, dirinya telah memperingatkan Presiden Amerika Serikat tersebut bahwa setiap upaya mengubah pemerintahan Iran akan berujung pada krisis berkepanjangan. []
Baca juga: Iran Tetapkan Enam Syarat kepada AS untuk Buka Selat Hormuz







