Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Analis: Perang Iran Bisa Jadi Kegagalan Terbesar AS

Published

on

Donald Trump menghadapi tekanan domestik dan penurunan persediaan persenjataan dalam perang dengan Iran.
Mearsheimer menyebut kekuatan rudal Iran telah mempersempit pilihan militer dan ruang gerak Donald Trump.

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Perubahan sikap Iran dari bertahan menjadi lebih ofensif telah menggeser perimbangan perang dengan Amerika Serikat. Profesor hubungan internasional Universitas Chicago, John Mearsheimer, menilai kekuatan rudal dan kemauan politik Tehran kini membuat Washington menghadapi pilihan yang semakin sulit.

Dalam analisis yang dilaporkan Fars News Agency pada Rabu (19/8/2026), Mearsheimer mengatakan perpaduan antara kemauan politik dan kekuatan militer Iran telah mempersempit ruang gerak Donald Trump. Washington, menurut dia, kini berada di antara dua pilihan, melanjutkan perang dengan risiko bencana yang lebih besar atau menerima kekalahan dan memberikan konsesi besar kepada Tehran.

Baca juga: Iran Sebut California Wilayah Baru Iran

Mearsheimer menyebut perang terhadap Iran berpotensi menjadi salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Kerusakan terhadap pangkalan militer dan merosotnya posisi Washington di kawasan disebut sebagai sebagian dari dampak yang sudah terlihat.

Peluang untuk mengakhiri perang sambil tetap mengklaim kemenangan juga dinilai semakin sempit. Trump disebut tidak lagi memiliki banyak pilihan yang mampu mengubah keadaan secara mendasar. Pernyataan dan langkah Washington yang dinilai saling bertentangan justru menunjukkan sulitnya menemukan jalan keluar.

Perimbangan kekuatan, menurut Mearsheimer, kini lebih menguntungkan Iran. Setelah tenggat 60 hari dalam kesepahaman sebelumnya berakhir, Tehran dinilai memiliki ruang lebih besar untuk menentukan arah konflik dan bahkan memengaruhi syarat berakhirnya perang.

Baca juga: Iran Mengubah Cara Menjaga Langitnya Setelah Perang 12 Hari

Selat Hormuz menjadi salah satu alat tekan utama Iran. Pembukaan kembali jalur tersebut, menurut Mearsheimer, dapat dikaitkan Tehran dengan penerimaan tuntutan penting Iran oleh Washington. Jika Amerika Serikat harus memenuhi tuntutan tersebut terlebih dahulu untuk mendapatkan kembali akses melalui Hormuz, posisi tawarnya akan melemah. Persoalan nuklir pun berpotensi kehilangan posisi utamanya dalam perundingan.

Blokade laut juga bukan jalan keluar yang mudah. Operasi semacam itu hanya akan efektif jika dipertahankan dalam waktu panjang, sementara Angkatan Laut AS dinilai menghadapi tekanan dan keterbatasan untuk menjalankannya secara berkelanjutan.

Blokade juga tidak dapat mengakhiri perang dalam waktu singkat. Jika Washington berharap langkah tersebut memaksa Tehran menyerah, operasi itu bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Keterbatasan amunisi dan tekanan terhadap kapasitas operasional militer AS semakin mempersempit pilihan Trump.

Mearsheimer melihat perubahan penting lainnya pada cara Iran menjalankan perang. Tehran yang sebelumnya lebih banyak merespons serangan kini dinilai mulai mengambil inisiatif.

Baca juga: IRGC Bantah Klaim Trump soal Dialog Rahasia dengan Garda Revolusi

Iran diperkirakan akan terus meningkatkan tekanan di Selat Hormuz dan memperluas kerja sama dengan Ansarullah untuk membatasi lalu lintas di Bab al-Mandab. Fasilitas minyak dan pelabuhan yang berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat juga disebut berpotensi menjadi sasaran, bersama pangkalan dan fasilitas militer AS di kawasan.

Jika langkah tersebut ditempuh, tekanan terhadap perekonomian dunia akan meningkat dan dapat memperbesar dorongan Washington untuk mengakhiri perang.

Konflik tersebut juga mengubah kalkulasi mengenai keberadaan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Mearsheimer menilai perang telah merusak kepercayaan terhadap kemampuan Washington memberikan perlindungan kepada negara-negara kawasan.

Pangkalan Amerika Serikat kini, menurut dia, bukan tanpa risiko bagi negara tempat fasilitas tersebut berada. Dalam konflik berikutnya, pangkalan itu dapat menjadi sasaran serangan sekaligus membawa beban ekonomi dan politik.

Baca juga: Mantan Panglima AS Kaget Iran Mampu Hancurkan Pangkalan di Kawasan

Persoalannya bukan hanya apakah negara-negara Teluk masih menginginkan kehadiran militer Amerika. Washington sendiri dinilai tidak memiliki dorongan kuat untuk membangun kembali pangkalan yang rusak karena biayanya sangat besar dan fasilitas tersebut tetap rentan dihancurkan jika perang kembali pecah.

Kemampuan rudal Iran menjadi salah satu faktor utama dalam kalkulasi tersebut. Rudal balistik dan rudal jelajah Iran yang dinilai semakin presisi, mampu bermanuver, dan membawa hulu ledak besar membuat pembangunan kembali pangkalan Amerika di kawasan Teluk semakin mahal dan berisiko.

Bagi Mearsheimer, perang dengan Iran telah mengubah perhitungan strategis Washington di Timur Tengah. Amerika Serikat tidak lagi berada pada posisi yang sama sebagai penjamin keamanan kawasan dan harus memperhitungkan risiko jauh lebih besar jika ingin membangun kembali kehadiran militernya dalam skala sebelumnya. []

Baca juga: IRGC: Israel Tak Punya Kapasitas untuk Berperang dengan Iran