Internasional
Iran dan Prancis Saling Usir Diplomat

Media ABI, 20 Agustus 2026 — Hubungan Iran dan Prancis kembali memanas setelah Tehran menyatakan dua diplomat Prancis sebagai “persona non grata” dan melarang mereka kembali ke Iran. Paris membalas dengan mengumumkan pengusiran dua diplomat Iran.
Tasnim News Agency melaporkan pada Rabu (19/8/2026), keputusan Tehran diambil setelah Kementerian Intelijen menemukan pelanggaran yang dilakukan kedua diplomat Prancis tersebut. Pemerintah Iran menilai aktivitas mereka telah melampaui tugas diplomatik dan berkaitan dengan urusan internal negara.
Baca juga: Iran Sebut California Wilayah Baru Iran
Paris menolak tuduhan tersebut. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengatakan kedua diplomat Prancis menjadi sasaran intimidasi aparat keamanan Iran. Menurut Barrot, tindakan Tehran melanggar kekebalan diplomatik. Prancis kemudian memutuskan mengusir dua diplomat Iran sebagai balasan.
Barrot juga menyatakan Prancis akan tetap mendukung seniman, ilmuwan, dan peneliti Iran. Tasnim mengkritik pernyataan tersebut dan menilainya sebagai bentuk campur tangan Paris dalam urusan internal Iran.
Perselisihan terbaru itu berlangsung di tengah hubungan yang telah lama dibayangi persoalan program nuklir Iran, perang di kawasan, dan keamanan Selat Hormuz.
Paris sebelumnya menyerukan pembukaan Selat Hormuz tanpa syarat. Pemerintah Prancis juga mengusulkan keterlibatan dalam operasi pembersihan ranjau di jalur pelayaran tersebut dengan alasan memulihkan keamanan dan kebebasan navigasi.
Tehran menolak gagasan tersebut. Posisi Iran yang dikutip Tasnim menyebut pengaturan keamanan dan pembersihan ranjau di Selat Hormuz berada di bawah kewenangan Iran berdasarkan kesepakatan yang berlaku.
Baca juga: UEA Klaim Mengintersepsi Dua Rudal dari Iran yang Mengarah ke Wilayahnya
Perselisihan juga menyentuh program nuklir Iran. Dalam surat kepada Dewan Keamanan PBB pada 10 Juli 2026, Paris menyatakan persoalan nuklir Iran telah berkembang menjadi krisis yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Prancis mendesak Iran menghentikan serangan dan pengayaan uranium serta menyatakan sanksi ekonomi tetap berlaku.
Tasnim menempatkan sikap Paris tersebut dalam sejarah hubungan kedua negara yang panjang. Laporan tersebut kembali menyinggung dukungan Prancis kepada Irak selama perang Iran-Irak pada dekade 1980-an.
Pertukaran pengusiran diplomat menambah satu persoalan baru dalam hubungan Tehran dan Paris, ketika konflik regional masih berlangsung dan perbedaan kedua negara mengenai program nuklir Iran serta keamanan Selat Hormuz belum terselesaikan. []
Baca juga: IRGC Bantah Klaim Trump soal Dialog Rahasia dengan Garda Revolusi







