Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

Belajar Geopolitik dari Iran, Dina Sulaiman Ajak Masyarakat Memahami Ketangguhan Bangsa

Published

on

Dian Wirengjurit menyoroti posisi strategis Iran, kebijakan internasional, serta pentingnya kepemimpinan dalam membangun bangsa yang tangguh.
Seminar Kebangsaan 2026 DPW ABI Jawa Barat mengulas pelajaran geopolitik dari Iran, Selat Hormuz, dan tantangan ketahanan bangsa Indonesia.

Cimahi, 13 Juli 2026 — Geopolitik bukan semata urusan kepala negara, diplomat, atau militer. Masyarakat pun memiliki peran dalam membentuk dinamika geopolitik melalui narasi dan opini publik. Pesan tersebut disampaikan Dr. Dina Yulianti, S.S., M.Si., atau Dina Sulaiman, saat menjadi narasumber pertama dalam Seminar Kebangsaan 2026 bertajuk “Membaca Dunia, Menguatkan Indonesia” yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Jawa Barat di Kabuci, Kampung Buyut Cipageran, Cimahi, Sabtu (11/7).

Mengusung tema besar “Belajar dari Iran tentang Ketangguhan Bangsa (National Resilience) dan Memelihara Budaya di Tengah Tekanan Global”, seminar ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, akademisi, hingga perwakilan diplomatik. Kegiatan ini juga didukung oleh Mabsooth, Tectona, Bazzpack, YPI Ar-Ridho, dan LBH Samawi.

Baca juga: New York Times: Kesepakatan Iran-AS Perkuat Posisi Iran di Selat Hormuz

Dr. Dina Yulianti, S.S., M.Si., yang lebih dikenal publik dengan nama Dina Sulaiman, membuka paparannya dengan meluruskan pemahaman masyarakat tentang geopolitik. Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini menjelaskan bahwa, secara sederhana, geopolitik membahas aktor-aktor kuat di suatu kawasan, kepentingan yang mereka kejar, serta bagaimana pergeseran kekuasaan terjadi. Ia membedakan geopolitik ke dalam tiga level, yaitu geopolitik formal yang menjadi kajian akademisi, geopolitik praktis yang menjadi ranah pengambilan kebijakan pemerintah, dan geopolitik populer, yakni keterlibatan masyarakat melalui narasi dan opini di media sosial.

“Kita pun, rakyat biasa, sangat terlibat dalam geopolitik dan bisa membuat perubahan,” tegasnya, seraya mencontohkan gelombang kritik warganet ketika pemerintah Indonesia dianggap lambat merespons situasi di Iran. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu bentuk nyata geopolitik populer.

Dina Sulaiman kemudian menguraikan alasan kawasan Timur Tengah tidak pernah benar-benar tenang. Menurutnya, pertentangan antarnegara di kawasan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh perbedaan mazhab Sunni dan Syiah, melainkan lebih ditentukan oleh posisi masing-masing negara terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Ia juga menyoroti posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur yang dilalui sekitar seperempat pasokan minyak dan gas dunia, termasuk komoditas seperti helium dan urea, yang berdampak langsung terhadap harga pangan serta barang elektronik di tingkat global.

Menurutnya, strategi “armada nyamuk”, yakni kapal-kapal kecil yang lincah dan berjumlah banyak, menjadi cara Iran menjaga Selat Hormuz tanpa harus berhadapan secara langsung dengan kekuatan Angkatan Laut Amerika Serikat. Strategi tersebut, menurutnya, dapat menjadi pelajaran yang relevan bagi Indonesia dalam menjaga Selat Malaka.

Baca juga: Pangkalan NATO yang Digunakan untuk Menyerang Iran Akan Menjadi Target Sah

Dina Sulaiman juga mengutip buku The Fate of the Empire karya sejarawan Sir John Glubb. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa imperium-imperium besar dunia cenderung runtuh setelah berusia sekitar 250 tahun—usia yang akan dicapai Amerika Serikat pada 4 Juli 2026.

Ia memaparkan sejumlah ciri keruntuhan sebuah imperium menurut buku tersebut, antara lain masyarakat yang mulai apatis terhadap ilmu pengetahuan, elite yang semakin materialistis, kesombongan elite yang merasa kekuasaannya akan berlangsung selamanya, hingga kesenjangan ekonomi yang semakin lebar.

Ia juga mengutip pandangan sejarawan Israel, Prof. Ilan Pappé, yang menyebut tiga indikator keruntuhan sebuah rezim, yaitu melemahnya persatuan internal, memburuknya kondisi ekonomi, dan menyusutnya dukungan internasional. Menurut Dina Sulaiman, ketiga indikator tersebut mulai tampak pada Amerika Serikat saat ini.

Mengakhiri paparannya, Dina Sulaiman menegaskan bahwa dinamika geopolitik tidak hanya berlangsung di tingkat negara, tetapi juga melibatkan masyarakat melalui pembentukan narasi dan opini publik. Berbagai pengalaman Iran dalam menghadapi dinamika kawasan Timur Tengah, menurutnya, dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami tantangan geopolitik yang dihadapi Indonesia sebagai negara dengan posisi strategis di kawasan. []

Baca juga: Data Navigasi Udara Ungkap Dukungan Qatar dan Arab Saudi terhadap Serangan Udara AS ke Iran