Kegiatan ABI
Dian Wirengjurit Ajak Indonesia Belajar Geopolitik dan Kepemimpinan dari Iran

Cimahi, 13 Juli 2026 — Kepemimpinan merupakan faktor yang harus diprioritaskan apabila Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar tangguh. Pandangan tersebut disampaikan Drs. Dian Wirengjurit, M.A., Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan periode 2012–2016, saat menjadi narasumber dalam Seminar Kebangsaan 2026 bertajuk “Membaca Dunia, Menguatkan Indonesia” yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Jawa Barat di Kabuci, Kampung Buyut Cipageran, Cimahi, Sabtu (11/7).
Mengusung tema besar “Belajar dari Iran tentang Ketangguhan Bangsa (National Resilience) dan Memelihara Budaya di Tengah Tekanan Global”, seminar ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, akademisi, hingga perwakilan diplomatik. Kegiatan ini juga didukung oleh Mabsooth, Tectona, Bazzpack, YPI Ar-Ridho, dan LBH Samawi.
Drs. Dian Wirengjurit, M.A., Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran dan Turkmenistan periode 2012–2016, membawakan materinya dengan gaya yang lugas dan kaya akan anekdot berdasarkan pengalaman diplomatiknya. Berbekal peta kawasan, ia menjelaskan bagaimana posisi geografis Iran yang mengapit Selat Hormuz menjadikannya pemain kunci dalam arus energi dunia, sekaligus menjadi salah satu alasan kawasan tersebut tidak pernah lepas dari intervensi kekuatan-kekuatan besar.
Baca juga: Belajar Geopolitik dari Iran, Dina Sulaiman Ajak Masyarakat Memahami Ketangguhan Bangsa
Ia menegaskan bahwa sikapnya bukanlah anti-Amerika sebagai bangsa. Namun, ia secara terbuka mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump yang membatalkan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015, yang sebelumnya ditandatangani pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama. Menurutnya, keputusan tersebut mengguncang stabilitas kawasan dan dampaknya masih terasa hingga saat ini.
Dian juga menyinggung kekayaan sumber daya alam Indonesia yang, menurutnya, belum sepenuhnya memberikan manfaat secara merata bagi seluruh rakyat. Ia sekaligus mengingatkan pentingnya kewaspadaan dan kehati-hatian sebagai bangsa besar yang masih menghadapi berbagai tantangan internal, seperti separatisme.
Menutup paparannya, Dian menyoroti ironi penghargaan terhadap kalangan terdidik di Indonesia. Menurutnya, tidak sedikit lulusan doktor di dalam negeri yang justru menganggur atau bekerja dengan upah setara upah minimum regional (UMR). Kondisi tersebut, ujarnya, sangat berbeda dengan penghargaan terhadap dosen dan peneliti yang ia saksikan secara langsung selama bertugas di Iran, Amerika Serikat, dan Swiss.
Baca juga: Pangkalan NATO yang Digunakan untuk Menyerang Iran Akan Menjadi Target Sah
Memasuki sesi dialog interaktif dan tanya jawab, moderator melontarkan pertanyaan kunci kepada para narasumber:
“Kalau Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar tangguh, mana yang harus lebih dahulu diperkuat: SDM, ekonomi, ideologi, budaya, atau kepemimpinan?”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Dian Wirengjurit menekankan bahwa kepemimpinan merupakan faktor yang harus diprioritaskan. Menurutnya, kepemimpinan menentukan arah kebijakan negara, sehingga kualitas pemimpin akan sangat menentukan kualitas bangsa secara keseluruhan.
Mengakhiri paparannya, Dian Wirengjurit mengajak peserta melihat bahwa pengalaman diplomatik memberikan banyak pelajaran tentang pentingnya memahami posisi strategis suatu negara, dinamika hubungan internasional, serta arti kepemimpinan dalam menentukan arah kebijakan dan masa depan bangsa. []
Baca juga: Data Navigasi Udara Ungkap Dukungan Qatar dan Arab Saudi terhadap Serangan Udara AS ke Iran






