Internasional
New York Times: Kesepakatan Iran-AS Perkuat Posisi Iran di Selat Hormuz

Ahlulbait Indonesia, 13 Juli 2026 — Harian Amerika Serikat The New York Times dalam artikel berjudul “How Trump Failed to Secure the Strait of Hormuz in His Iran Deal“ yang terbit pada Minggu (12/7/2026), menilai nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat mengenai Selat Hormuz secara efektif memperkuat posisi Iran dalam pengelolaan jalur pelayaran strategis tersebut. Menurut laporan yang kemudian dikutip Kantor Berita Fars pada Senin (13/7/2026), kesepakatan yang dipromosikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai pembukaan kembali Selat Hormuz justru dipandang sejumlah pengamat sebagai pengakuan terhadap posisi Iran dalam mengatur lalu lintas di perairan tersebut.
Trump menyambut tercapainya kesepakatan itu sebagai keberhasilan membuka kembali Selat Hormuz. Melalui media sosial, ia menulis, “Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak kembali mengalir.”
Artikel tersebut juga dipromosikan oleh koresponden diplomatik The New York Times, Edward Wong, melalui akun X @ewong. Dalam unggahannya, Wong merangkum temuannya dengan menulis, “Trump’s flawed diplomacy failed to secure the Strait of Hormuz. For 2 months, the US Navy was quietly guiding tankers through the strait. But the June agreement signed by Trump has helped bring that to a fiery end: it formalizes Iran’s power, and Tehran is attacking ships.”
Dalam unggahan tersebut, Wong menilai diplomasi Donald Trump gagal mengamankan Selat Hormuz. Selama sekitar dua bulan, menurutnya, Angkatan Laut Amerika Serikat diam-diam mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Namun, kesepakatan yang ditandatangani Trump pada Juni justru mengakhiri situasi itu dengan memperkuat posisi Iran. Wong juga menilai Teheran kini menyerang kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran tersebut.
Sejalan dengan penilaian tersebut, The New York Times menulis bahwa sejumlah pengkritik memandang kesepakatan itu pada dasarnya meresmikan kondisi yang sejak awal telah ditegaskan para pejabat Iran selama konflik berlangsung, yakni bahwa Iran kini menjalankan kontrol atas Selat Hormuz.
Baca juga: Pangkalan NATO yang Digunakan untuk Menyerang Iran Akan Menjadi Target Sah
Laporan itu menyebut Angkatan Bersenjata Iran mulai menerapkan kontrol atas Selat Hormuz segera setelah dimulainya serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Beberapa pekan setelah kedua negara memasuki gencatan senjata tidak resmi pada awal April, sejumlah kapal tanker dilaporkan berupaya melintasi selat tanpa berkoordinasi dengan Iran. Langkah tersebut memicu respons Teheran yang kembali menegaskan hak kedaulatannya atas jalur pelayaran itu dengan merujuk pada ketentuan dalam kesepakatan.
Fars juga melaporkan bahwa ketegangan kembali meningkat setelah Trump memerintahkan serangan udara terhadap Iran. Sebagai respons, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC Navy) mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan intervensinya di kawasan.
Mengutip sejumlah mantan pejabat dan analis Amerika Serikat, The New York Times menyebut perkembangan tersebut merupakan konsekuensi yang dapat diperkirakan dari kesepakatan yang ditandatangani kedua negara pada Juni 2026.
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Arab Saudi, Michael Ratney, mengatakan tidak ada alasan untuk terkejut apabila Iran menafsirkan kesepakatan tersebut sebagai pemberian peran yang berkelanjutan dalam mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Menurutnya, posisi itu memberikan pengaruh strategis yang signifikan bagi Teheran sekaligus menjadi instrumen tekanan dalam dinamika kawasan.
Laporan tersebut juga menyoroti Pasal 5 kesepakatan yang menyatakan Iran akan mengupayakan pengaturan pelayaran yang aman bagi kapal-kapal niaga di Selat Hormuz. Pada bagian akhir pasal itu disebutkan bahwa Iran dan Oman akan membahas tata kelola serta layanan maritim di Selat Hormuz sesuai hukum internasional dan hak-hak kedaulatan negara-negara pesisir, dengan melibatkan negara-negara lain di kawasan Teluk Persia.
Baca juga: Data Navigasi Udara Ungkap Dukungan Qatar dan Arab Saudi terhadap Serangan Udara AS ke Iran
Mantan negosiator Timur Tengah Amerika Serikat, Dennis Ross, menilai makna kesepakatan tersebut cukup jelas. Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz hanya dapat berlangsung dalam kerangka yang menempatkan Iran sebagai pihak yang memegang kendali atas pengelolaan jalur pelayaran tersebut.
Laporan itu juga menyebut persaingan Iran dan Amerika Serikat dalam mempertahankan pengaruh di Selat Hormuz telah meningkatkan ketidakpastian bagi industri pelayaran internasional. Di tengah kembali meningkatnya ketegangan, sejumlah operator kapal disebut memilih berlayar melalui jalur yang lebih dekat ke wilayah Iran dengan mengandalkan jaminan keamanan dari otoritas Iran.
Seluruh penilaian mengenai implikasi kesepakatan terhadap status Selat Hormuz dalam berita ini merupakan isi laporan The New York Times sebagaimana dikutip Kantor Berita Fars. Hingga berita ini diterbitkan, pemerintah Iran maupun Amerika Serikat belum mengeluarkan pernyataan bersama yang menjelaskan penafsiran resmi atas ketentuan dalam kesepakatan tersebut. []
Baca juga: Tiga Rudal Balistik Hantam Pangkalan Militer AS di Kuwait, Media Israel Laporkan Korban Jiwa







