Ikuti Kami Di Medsos

Kegiatan ABI

Hasan Zakaria Soroti Literasi, Pendidikan, dan Ancaman Serangan Budaya

Published

on

Dian Wirengjurit menyoroti posisi strategis Iran, kebijakan internasional, serta pentingnya kepemimpinan dalam membangun bangsa yang tangguh.
Hasan Zakaria memaparkan transformasi pendidikan di Iran, pentingnya literasi, dan konsep "serangan budaya" dalam Seminar Kebangsaan 2026 di Cimahi.

Cimahi, 13 Juli 2026 — Upaya melemahkan suatu bangsa tidak selalu dilakukan melalui kekuatan militer atau tekanan ekonomi. Ancaman juga dapat datang melalui apa yang disebut tahajum farhangi atau “serangan budaya”, yakni infiltrasi nilai-nilai asing yang secara sadar, terstruktur, dan terorganisasi melemahkan identitas kebangsaan. Gagasan tersebut disampaikan Dr. Hasan Zakaria dalam Seminar Kebangsaan 2026 bertajuk “Membaca Dunia, Menguatkan Indonesia” yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Jawa Barat di Kabuci, Kampung Buyut Cipageran, Cimahi, Sabtu (11/7).

Mengusung tema besar “Belajar dari Iran tentang Ketangguhan Bangsa (National Resilience) dan Memelihara Budaya di Tengah Tekanan Global”, seminar ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, akademisi, hingga perwakilan diplomatik. Kegiatan ini juga didukung oleh Mabsooth, Tectona, Bazzpack, YPI Ar-Ridho, dan LBH Samawi.

Dr. Hasan Zakaria, akademisi yang menempuh pendidikan S-1 hingga S-3 di Iran dan berfokus pada kajian budaya, membedah keterkaitan antara agama, ideologi, budaya, dan pendidikan sebagai empat pilar ketahanan bangsa. Ia menegaskan bahwa agama dan budaya sesungguhnya tidak dapat dipisahkan.

Baca juga: Dian Wirengjurit Ajak Indonesia Belajar Geopolitik dan Kepemimpinan dari Iran

“Islam sebagai agama yang sempurna menawarkan sebuah sistem dari A sampai Z hingga hari kiamat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan seraya mengutip pandangan filsuf Republik Islam Iran, Allamah Misbah Yazdi, yang mengkritik sekularisme Barat karena memisahkan agama dari kehidupan sosial dan politik.

Hasan kemudian memaparkan data mengenai transformasi Iran pascarevolusi 1979. Ia menjelaskan bahwa angka buta huruf di Iran yang sebelum revolusi berkisar antara 15–25 persen kini menurun hingga sekitar 2 persen. Pencapaian tersebut, menurutnya, didukung oleh pembentukan lembaga khusus pemberantasan buta aksara serta penguatan budaya membaca yang terinspirasi dari perintah Iqra’ dalam Al-Qur’an. Dampaknya, industri penerbitan Iran kini mampu menerbitkan sekitar 108.000 judul buku baru setiap tahun.

Data lain yang disampaikannya juga menunjukkan perkembangan pendidikan tinggi di Iran. Jumlah universitas meningkat dari sekitar 220 menjadi hampir 2.940 pascarevolusi, sementara jumlah mahasiswa program doktor melonjak dari 913 menjadi lebih dari 580 ribu orang. Berdasarkan laporan ILO tahun 2022, Iran menempati peringkat kelima dunia dalam jumlah lulusan doktor, yakni sekitar 238.500 orang dari total populasi sekitar 92 juta jiwa.

Hasan kemudian membandingkan capaian tersebut dengan Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun 2022, Indonesia memiliki sekitar 69.209 doktor dari jumlah penduduk yang mendekati 280 juta jiwa. Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah doktor terbanyak, meskipun jumlahnya “hanya” sekitar 15 ribu orang.

Ia juga mengutip data UNESCO yang menunjukkan bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap buku-buku ilmiah masih sangat rendah dan tertinggal jauh dibandingkan intensitas penggunaan media sosial.

Hasan kemudian memperkenalkan istilah tahajum farhangi atau “serangan budaya”, yaitu upaya yang dilakukan secara sadar, terstruktur, dan terorganisasi untuk melemahkan identitas kebangsaan melalui infiltrasi nilai-nilai asing. Berbeda dengan pertukaran budaya yang berlangsung secara sehat dan disadari, serangan budaya bekerja secara halus sehingga kerap tidak disadari oleh masyarakat yang menjadi sasarannya. Ia mencontohkan bagaimana Iran menghadapi fenomena tersebut melalui program pembinaan ideologi bagi generasi muda. Selain itu, ia mengajak peserta untuk kembali menggali dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang menurutnya selaras dengan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari lingkungan pemerintahan hingga pelaku UMKM.

Baca juga: Belajar Geopolitik dari Iran, Dina Sulaiman Ajak Masyarakat Memahami Ketangguhan Bangsa

Memasuki sesi dialog interaktif dan tanya jawab, moderator melontarkan pertanyaan kunci kepada para narasumber:

“Kalau Indonesia ingin menjadi negara yang benar-benar tangguh, mana yang harus lebih dahulu diperkuat: SDM, ekonomi, ideologi, budaya, atau kepemimpinan?”

Menanggapi pertanyaan tersebut, Dina Sulaiman dan Dr. Hasan Zakaria sependapat bahwa seluruh aspek tersebut—SDM, ekonomi, ideologi, budaya, dan kepemimpinan—harus dibangun secara beriringan dan saling bersinergi. Menurut mereka, ketangguhan sebuah bangsa merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling menopang.

Sementara itu, Dian Wirengjurit menekankan bahwa kepemimpinan merupakan faktor yang harus diprioritaskan. Menurutnya, kepemimpinan menentukan arah kebijakan negara, sehingga kualitas pemimpin akan sangat menentukan kualitas bangsa secara keseluruhan.

Sesi dialog berlangsung hangat. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan dan menyampaikan tanggapan mengenai isu geopolitik, kemandirian bangsa, serta strategi menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi. Sebagai bentuk apresiasi, Dewan Syuro ABI, Ustaz Husein Al-Kaff, bersama Ketua Panitia menyerahkan cenderamata kepada para narasumber. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama seluruh tamu undangan, narasumber, dan panitia sebelum seminar resmi berakhir. []

Baca juga: New York Times: Kesepakatan Iran-AS Perkuat Posisi Iran di Selat Hormuz