Ikuti Kami Di Medsos

Opini

Meidas News Bongkar Kerusakan Pangkalan AS, Personel Mengaku Ditelantarkan

Published

on

Kerusakan fasilitas militer AS di Timur Tengah dalam perang dengan Iran, sebagaimana ditampilkan dalam materi visual yang diperoleh MeidasTouch bersama VALOR Media Network. (Sumber: MeidasNews/MeidasTouch)
Kerusakan fasilitas militer AS di Timur Tengah dalam perang dengan Iran, sebagaimana ditampilkan dalam materi visual yang diperoleh MeidasTouch bersama VALOR Media Network. (Sumber: MeidasNews/MeidasTouch)

Media ABI, 24 Oktober 2026 – Kerusakan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Timur Tengah dilaporkan jauh lebih luas daripada yang diketahui publik. Kesaksian personel militer, kontraktor sipil, dan keluarga personel, disertai foto serta rekaman video, mengungkap kerusakan fasilitas militer, keterbatasan perlindungan, hingga persoalan evakuasi selama perang dengan Iran.

Dalam laporan investigatif berjudul “So Much Worse Than People Realize”: Never-Before-Seen Images Reveal Damage at U.S. Bases as Troops Describe Being Abandoned, yang diterbitkan Meidas News pada 22 Oktober 2026, Aaron Parnas dan Ken Harbaugh memaparkan kesaksian dari Arab Saudi, Yordania, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain. Materi yang digunakan mencakup puluhan foto dan video yang diperoleh MeidasTouch melalui kerja sama dengan VALOR Media Network, beserta keterangan langsung dari orang-orang yang berada di lokasi. Materi tersebut memperlihatkan kerusakan pesawat, barak, fasilitas makan, serta personel yang terpaksa mencari perlindungan sendiri di tengah serangan.

Sejumlah narasumber meminta identitasnya dirahasiakan karena, menurut pengakuan mereka, berulang kali mendapat ancaman tindakan disipliner berdasarkan Uniform Code of Military Justice akibat berbicara kepada media atau membagikan foto. Pengumpulan kesaksian dan materi visual dilakukan oleh koresponden VALOR Media, El Powers dan What in Clay Nation, yang menyerahkan catatan serta gambar kepada MeidasTouch. MeidasNews mencatat bahwa sejumlah klaim dalam laporannya tidak dapat diverifikasi secara independen, sementara Departemen Pertahanan AS belum mengonfirmasi beberapa kehilangan alutsista yang disebutkan.

Penugasan Berkepanjangan dan Ancaman Serangan

Sejumlah personel yang berbicara kepada MeidasTouch mengaku telah beberapa kali bertugas di zona konflik. Namun, mereka menilai situasi kali ini berbeda dari pengalaman sebelumnya. “Ini bukan penugasan militer yang normal,” demikian kesaksian sejumlah narasumber yang dikutip dalam laporan tersebut. Mereka menggambarkan tingkat kekacauan dan buruknya pengelolaan operasi yang, menurut mereka, belum pernah dialami sebelumnya.

Seorang personel militer mengatakan dirinya dipanggil pada pertengahan Februari dan diperintahkan segera berangkat untuk penugasan sementara selama tiga minggu. Setelah tiba di lokasi, durasi penugasan diperkirakan mendekati tiga bulan. Namun, ia akhirnya bertahan lebih dari tujuh bulan. Beberapa personel mengaku tidak mengetahui sebelumnya mengenai dimulainya Operasi Epic Fury, kampanye militer AS terhadap Iran, meskipun sebagian di antara mereka terlibat langsung dalam operasi tersebut. Mereka baru mengetahui pecahnya permusuhan melalui pemberitaan media.

“Kami seperti sasaran empuk,” ujar seorang narasumber. Ancaman, menurut kesaksian para personel, terutama datang dari udara melalui drone, roket, dan rudal balistik. Salah seorang personel menggambarkan drone Iran yang menyasar pangkalannya sebagai pesawat tanpa lampu yang sulit terlihat pada malam hari, menggunakan navigasi GPS berbasis koordinat, dan mengeluarkan suara menyerupai pesawat Cessna kecil. Dari ketinggian sekitar 400 kaki, drone itu tampak seperti elang besar, katanya. “Kami tidak memiliki pertahanan terhadap drone.”

Arab Saudi: Kerusakan Pesawat dan Fasilitas Militer

Foto-foto yang diserahkan personel militer AS dan kontraktor sipil menunjukkan kerusakan luas di Prince Sultan Air Base, Arab Saudi, dalam rentang Maret hingga Juli 2026. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan fasilitas makan dan ruang kerja yang hancur, serta barak yang rusak, tempat personel militer tinggal selama serangan berlangsung. Sejumlah bunker yang disediakan untuk melindungi personel dari serangan drone dan rudal juga terlihat belum dilengkapi pintu. Foto lainnya memperlihatkan pesawat terbakar di area landasan setelah serangan rudal.

Salah satu gambar menunjukkan pesawat pengintai E-3 Sentry AWACS milik Angkatan Udara AS dengan nomor ekor 81-005 yang mengalami kerusakan. Menurut narasumber, serangan tersebut menyebabkan 10 hingga 12 personel terluka. Serangan yang sama juga dilaporkan merusak sejumlah pesawat lain, termasuk dua pesawat tanker pengisian bahan bakar KC-135.

Seorang narasumber turut menyerahkan foto yang diklaim memperlihatkan pesawat angkut C-17 yang hancur total. Menurut narasumber tersebut, puing-puing pesawat ditumpuk untuk mempercepat pembersihan sekaligus membatasi informasi mengenai kehilangan itu. Namun, Pentagon belum mengonfirmasi kehilangan C-17 tersebut, dan MeidasTouch menyatakan tidak dapat memverifikasi klaim itu secara independen.

Video yang diperoleh MeidasTouch memperlihatkan rudal pencegat AS berupaya menghadang drone dan rudal balistik Iran di atas pangkalan. Dalam salah satu kejadian, rudal pencegat dilaporkan gagal menghentikan rudal balistik yang kemudian menghantam pangkalan.

Yordania: Serangan Berulang dan Keterbatasan Perlindungan

Di Muwaffaq Salti Air Base, Yordania, personel militer menggambarkan serangan yang hampir terus-menerus selama sekitar tiga bulan sejak Maret. Menurut salah satu kesaksian, serangan datang begitu sering hingga sistem peringatan tidak mampu mengimbanginya. Sumber-sumber yang dikutip menyebut sejumlah pesawat Angkatan Udara AS mengalami kerusakan, termasuk jet tempur F-15 dan F-35, drone MQ-9 Reaper, serta helikopter. Fasilitas komando dan kendali serta infrastruktur penting juga dilaporkan terdampak.

Salah satu foto memperlihatkan kawah bekas hantaman rudal balistik yang, menurut narasumber, berhasil menembus sistem pencegat dan jatuh di dekat bunker militer hingga menyebabkan sejumlah orang terluka. Kesaksian paling serius berkaitan dengan serangan pada malam 17 hingga 18 Juli 2026. Menurut narasumber, rudal balistik dan drone Iran berhasil menembus pertahanan pangkalan dan menghantam barak militer AS. Tiga personel militer dilaporkan tewas, sementara empat lainnya dilaporkan dievakuasi.

Sejumlah narasumber mengatakan mereka mendengar personel meminta pertolongan dari dalam bangunan yang terbakar, tetapi tidak dapat menjangkau mereka karena keterbatasan respons darurat dan kurangnya persiapan. Menurut para narasumber, kondisi pangkalan yang padat saat serangan terjadi turut memperburuk situasi. Mereka menilai jumlah korban bisa lebih besar, sementara sejumlah personel tidak sempat mencapai tempat perlindungan.

Kondisi kehidupan di pangkalan juga memburuk seiring berlanjutnya serangan. Personel berulang kali kehabisan kebutuhan dasar, terutama perlengkapan kebersihan pribadi. Toko kebutuhan di pangkalan kerap tutup saat serangan meningkat, sementara kawasan hunian dilaporkan dua kali terkena serangan.

Menjelang akhir masa penugasan, sebuah hanggar yang menyimpan barang-barang personel untuk dikirim pulang dilaporkan terkena hantaman langsung. Peralatan dan barang pribadi mereka hancur. Pada Juli, sejumlah personel diberi tahu bahwa mereka akhirnya akan dipulangkan. Namun, ketika telah menunggu penerbangan di terminal, mereka diperintahkan tetap tinggal. Sebagian telah membuang perlengkapan tidur dan barang kebersihan sehingga tidak memiliki pengganti.

“Hal itu benar-benar menghancurkan moril,” ujar seorang narasumber.

Kuwait: Personel Terpencar dan Kamp Hampir Kosong

Di Kuwait, sejumlah personel militer dilaporkan berpencar ke wilayah gurun setelah serangan awal. Menurut sumber yang dikutip, sebagian dari mereka tinggal di dalam sebuah van selama tiga bulan sebelum akhirnya dapat dipulangkan.

Foto-foto yang diambil pada September di Camp Buehring, beberapa bulan setelah serangan terakhir, memperlihatkan pangkalan yang menurut narasumber nyaris sepenuhnya ditinggalkan militer AS. Sejumlah narasumber juga mengatakan bahwa beberapa bagian kamp tidak boleh dimasuki pada malam hari.

UEA: Personel Menggali Perlindungan Sendiri

Di Uni Emirat Arab, sejumlah personel mengaku tidak mendapat peringatan sebelumnya mengenai dimulainya permusuhan dan tidak memiliki tempat perlindungan maupun proteksi memadai ketika serangan terjadi. Menurut kesaksian mereka, informasi yang diketahui sebagian personel hanya berasal dari pemberitaan media. Komunikasi berjalan tidak lancar, sementara hanya tim keamanan kecil yang dilengkapi senjata.

Sebagian personel berlindung di hotel dan harus mencari makanan sendiri, termasuk dengan memesan makanan dari luar. Personel lainnya menggali lubang perlindungan sendiri karena tidak memiliki alternatif perlindungan. Mereka menggambarkan kepemimpinan saat itu sebagai kehilangan arah dan tidak siap menghadapi perang yang, menurut mereka, semestinya tidak menjadi bagian dari penugasan mereka.

Bahrain: Keluarga Personel Mengaku Ditinggalkan

Kesaksian paling menyentuh dalam laporan tersebut berasal dari Bahrain, tempat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS berada. Foto-foto yang diperoleh MeidasTouch memperlihatkan kerusakan di markas Armada Kelima setelah fasilitas tersebut dilaporkan terkena serangan drone atau rudal Iran. Namun, persoalan yang paling banyak disorot dalam kesaksian dari Bahrain adalah nasib keluarga personel militer.

Menurut para narasumber, komandan setempat telah menyiapkan rencana evakuasi setelah serangan pada Juni 2025, dengan sejumlah pesawat menunggu di bandara Bahrain. Namun, keluarga personel mengatakan Pentagon menolak mengizinkan evakuasi. Mereka mengaku mendapat penjelasan bahwa evakuasi akan membuat situasi terlihat buruk di dalam negeri. Bandara kemudian diserang dan ditutup.

Keluarga personel akhirnya harus mengurus keberangkatan mereka sendiri. Menurut sumber yang dikutip, sebagian mengeluarkan puluhan ribu dolar untuk membawa keluarga ke tempat aman, sementara harus meninggalkan hewan peliharaan, perabot, atau pasangan yang tidak mereka ketahui kapan dapat ditemui kembali. Sejumlah narasumber juga menyebut beberapa pejabat senior dievakuasi dengan kedok latihan militer. Sebagian di antara mereka disebut sempat memperingatkan keluarga masing-masing, sementara keluarga lainnya tertinggal lebih dari sepekan ketika Bahrain berada dalam situasi serangan.

Pada gelombang serangan awal, sebagian keluarga berlindung selama berjam-jam di area parkir sebuah pusat perbelanjaan, dengan perlindungan antara lain dari personel AS dan pasukan Bahrain. Menurut narasumber, beberapa anak mengalami trauma hingga tidak mampu makan selama berhari-hari.

Narasumber juga mengatakan sejumlah personel aktif dipindahkan ke bangunan tempat tinggal dan hotel yang kemudian terkena serangan drone dan rudal Iran dalam hitungan jam. Mereka turut menyebut sejumlah bangunan hunian menjadi sasaran karena Iran mengetahui adanya personel militer AS yang tinggal di sana.

“Kami Dijadikan Pion dalam Perang”

Pasangan seorang personel militer AS yang tinggal di Bahrain bersama anak-anaknya pada Maret membagikan kesaksiannya kepada MeidasTouch. “Kami dijadikan pion dalam perang. Ada banyak kesempatan untuk mengeluarkan kami sebelum situasi memburuk. Pesawat sudah menunggu, tetapi pihak yang berwenang tidak mengambil keputusan untuk mengevakuasi keluarga personel. Kemudian Bandara Bahrain rusak dan kami terjebak,” ujarnya.

Ia mengatakan keluarganya tinggal tepat di bawah jalur utama rudal dan sangat dekat dengan area pertemuan rudal yang dicegat sistem Patriot. “Rumah kami bergetar setiap kali rudal dicegat atau jatuh. Puing-puing rudal bahkan jatuh ke laguna tempat rumah kami berada.”

Menurutnya, bangunan di sebelah rumah mereka terkena serangan, sementara rumah mereka sendiri mengalami kerusakan akibat ledakan hingga beberapa panel plafon terlepas. Keluarga tersebut kini telah kembali ke Amerika Serikat, tetapi dampak psikologisnya masih dirasakan. Setiap kali terjadi badai petir, anak-anaknya bertanya apakah suara tersebut merupakan rudal. Ketika orang tua terlalu mengawasi mereka, anak-anak justru curiga ada sesuatu yang salah dan khawatir rudal akan menyerang rumah baru mereka di AS.

“Ketidakbersalahan anak-anak saya telah direnggut,” katanya.

Ia mengatakan anak-anaknya kini dinilai telah menyaksikan lebih banyak perang dibandingkan rata-rata personel militer aktif. Pernyataan tersebut, menurutnya, bukan untuk mengecilkan pengorbanan personel militer, melainkan menunjukkan besarnya bahaya yang dihadapi keluarga mereka. Ia memuji personel di lapangan, tetapi menyalahkan para pengambil keputusan di Washington. Menurutnya, luka terdalam adalah luka psikologis akibat keluarga diperlakukan seperti bidak catur.

Keluarga tersebut kini berusaha membangun kembali kehidupan di AS, sementara hampir seluruh barang milik mereka masih tertinggal di Timur Tengah tanpa kepastian waktu pengiriman. “Risiko yang mereka ambil dengan menjadikan keluarga personel sebagai pion dalam permainan tidak dapat dimaafkan. Saya merasa keluarga-keluarga ini terlupakan dan pemerintah harus dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

“Sebagai Warga Negara AS, Saya Merasa Benar-Benar Ditinggalkan”

Istri seorang kontraktor AS yang turut menyerahkan sejumlah rekaman dari Bahrain mengatakan dirinya dan suaminya tinggal di dekat pangkalan militer AS ketika perang dimulai pada 28 Februari 2026. “Tidak ada peringatan sebelumnya, tidak ada evakuasi terorganisasi, dan sama sekali tidak ada bantuan,” katanya.

Menurutnya, satu-satunya arahan yang diterima adalah menjauhi kedutaan dan menghindari menginap di hotel. Penutupan wilayah udara membuat pilihan untuk meninggalkan kawasan semakin terbatas. “Pesannya pada dasarnya adalah: ‘Pergilah jika bisa, dengan cara apa pun. Kalian harus mengurus diri sendiri.’”

Ia mengaku menyaksikan Iran menyasar bangunan tempat tinggal di dekat kediamannya, termasuk sebuah bangunan yang berada nyaris tepat di sebelahnya. Beberapa hari kemudian, ia berhasil meninggalkan kawasan melalui Arab Saudi dengan biaya sendiri.

“Pemerintah AS sama sekali tidak melakukan apa pun untuk membantu evakuasi atau memastikan keselamatan saya. Sebagai warga negara Amerika, saya merasa benar-benar ditinggalkan oleh pemerintah saya sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan rasa bersalah ketika melintasi perbatasan. “Saya merasa sangat malu menunjukkan paspor Amerika saya, karena warga setempat di Bahrain terpaksa tetap tinggal dan menanggung akibatnya, sementara saya memiliki privilese untuk pergi.”

MeidasTouch juga menerima kesaksian serupa yang belum terverifikasi dari warga Amerika lain yang sedang berkunjung ke kawasan tersebut ketika perang dimulai. Mereka mengaku harus mengurus kepulangan sendiri, dalam sejumlah kasus dengan membayar ribuan dolar untuk penerbangan ke AS.

Moril Personel Merosot: “Tak Ada yang Akan Datang Membantu”

Menurut para personel dan keluarga yang memberikan kesaksian, keputusan mereka untuk berbicara kepada media dilatarbelakangi minimnya transparansi. Mereka menyoroti tidak adanya jurnalis yang ditugaskan langsung mengikuti pasukan, sebagaimana lazim dilakukan dalam perang-perang Amerika sebelumnya.

Pasangan personel militer di AS mengaku kerap memiliki informasi lebih banyak dibandingkan anggota keluarga mereka yang berada di lapangan karena dapat mengikuti pemberitaan. Sebagian berulang kali mendapat kepastian bahwa pangkalan telah menerima pasokan kembali. Ada pula yang baru mengetahui beberapa jam sebelum keberangkatan bahwa anggota keluarga mereka akan dipulangkan.

Kesaksian para personel menggambarkan merosotnya moril di lingkungan militer. Mereka mengaku tidak mengetahui tujuan perang yang sedang dijalani dan sebagian menyatakan tidak percaya kepada pemerintahan saat ini. Mereka merasa tidak ada pihak yang akan datang membantu dan harus menghadapi situasi sendiri. Sejumlah personel bahkan mengatakan sekutu militer AS di Bahrain, Kuwait, dan UEA memberikan perlindungan lebih baik kepada pasukan serta keluarga mereka dibandingkan pemerintah AS sendiri.

“Gagasan bahwa militer peduli terhadap kesehatan mental personel adalah omong kosong,” ujar seorang narasumber. “Kita hanya bisa bertahan dalam lingkungan penuh tekanan seperti itu selama waktu tertentu sebelum dampaknya mulai terasa secara mental,” kata narasumber lainnya.

“Sebagai personel militer, Anda kehilangan hak-hak sebagai warga negara Amerika. Anda terikat kontrak. Anda hanya bisa menjalaninya dan berharap tetap selamat,” ujar seorang personel.

Sebagian narasumber juga menyebut beredarnya kabar bahwa masa penugasan mereka dapat diperpanjang hingga lebih dari satu tahun. Salah seorang personel menyampaikan kesaksian yang menggambarkan beratnya tekanan yang mereka hadapi: “Sebagian dari kami sudah tidak peduli lagi apakah kami hidup atau mati.” []