Ikuti Kami Di Medsos

Internasional

Washington Post: Kemenangan Demokrat Tak Otomatis Turunkan Biaya Hidup di AS

Published

on

Perang Iran, inflasi, dan mahalnya biaya hidup menambah tekanan politik terhadap Donald Trump menjelang pemilu Kongres AS.
Perang Iran, inflasi, dan mahalnya biaya hidup menambah tekanan politik terhadap Donald Trump menjelang pemilu Kongres AS.

Media ABI, 25 Oktober 2026 – Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan Kongres Amerika Serikat (AS) tidak serta-merta menjamin penurunan biaya hidup secara cepat dan signifikan bagi masyarakat. Dalam laporan yang diterbitkan pada 24 Oktober 2026, The Washington Post, melalui artikel berjudul “Voters angry about high prices may get little relief from the next Congress” yang dikaitkan dengan David J. Lynch, menyoroti terbatasnya kemampuan Kongres dalam mengatasi mahalnya biaya hidup, sekalipun Demokrat berhasil merebut kendali legislatif AS.

Baca juga: Menlu AS Ajak Warga Kuba Bekerja Sama dengan CIA

Kendali Kongres Tak Menjamin Penurunan Biaya Hidup

Hakeem Jeffries, pemimpin Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, menjanjikan bahwa program partainya untuk meningkatkan daya beli masyarakat akan membantu menekan biaya hidup di berbagai sektor. Namun, sejumlah faktor utama yang mendorong kenaikan harga berada di luar kendali langsung Kongres, mulai dari dampak perang dengan Iran terhadap pasar energi dan pesatnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hingga kebijakan perdagangan dan tarif Presiden Donald Trump.

Menurut laporan tersebut, sekalipun Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres, kemampuan mereka untuk mengakhiri perang dengan Iran atau mencabut tarif Trump tetap terbatas jika presiden menentang langkah tersebut. Demokrat juga belum menunjukkan indikasi akan mengambil langkah untuk membendung pesatnya investasi di sektor AI, yang turut mendorong kenaikan biaya di sejumlah sektor.

Kenaikan harga bensin, bahan pangan, dan perumahan menjadi salah satu persoalan utama yang menyita perhatian pemilih AS. Menjelang pemilihan paruh waktu, tekanan biaya hidup semakin memperbesar tantangan politik bagi kedua partai.

Laporan itu juga mengingatkan bahwa penurunan inflasi tidak serta-merta berarti harga-harga akan turun. Harga masih dapat meningkat, tetapi dengan laju yang lebih lambat. Karena itu, perubahan komposisi Kongres saja belum tentu mampu meredakan ketidakpuasan publik akibat mahalnya biaya hidup, sementara faktor ekonomi dan geopolitik tetap membayangi pengeluaran rumah tangga.

Baca juga: Wall Street Journal: Maskapai Penerbangan Ramai-Ramai Menghindari Wilayah Udara Arab Saudi

Perang Iran dan Inflasi Memperbesar Tekanan Politik terhadap Trump

Beberapa hari sebelumnya, Business Insider melaporkan bahwa perang dengan Iran dan kenaikan harga bahan bakar telah memperburuk krisis biaya hidup di AS, sekaligus menambah tekanan ekonomi dan politik terhadap Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu.

Dampak perang yang berlangsung ribuan kilometer dari wilayah AS turut dirasakan rumah tangga Amerika melalui kenaikan biaya energi. Jika harga bahan bakar bertahan tinggi dan perang terus berlanjut, ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi berpotensi meningkat, terutama apabila harga di stasiun pengisian bahan bakar tidak mengalami penurunan berarti.

Tekanan tersebut juga tercermin dalam data inflasi AS yang mencapai 3,7 persen pada September, melampaui perkiraan para ekonom. Tekanan harga yang meluas menggerus daya beli rumah tangga sekaligus menambah tantangan bagi kebijakan moneter Federal Reserve.

Baca juga: The Guardian: Israel Gunakan Taser Buatan AS untuk Menyiksa Tahanan Palestina

Di tengah kondisi tersebut, merosotnya popularitas Trump, meningkatnya biaya hidup, dan berlanjutnya perang dengan Iran menjadi sejumlah faktor yang, menurut berbagai jajak pendapat, memberi keunggulan signifikan bagi Partai Demokrat. Partai Republik khawatir kehilangan mayoritas di DPR. Bahkan, kemampuan mereka mempertahankan kendali atas Senat pun belum dapat dipastikan.

Jajak pendapat dan prediksi pasar menunjukkan Demokrat berpeluang besar merebut mayoritas DPR. Peluang partai tersebut untuk menguasai Senat juga terbuka.

Bagi Trump, pemilihan mendatang bukan hanya persaingan memperebutkan kursi Kongres. Hasilnya akan menentukan apakah ia dapat melanjutkan agendanya selama dua tahun terakhir masa jabatan dengan dukungan mayoritas Partai Republik di kedua kamar Kongres, atau harus menghadapi oposisi Demokrat yang memiliki pengaruh lebih besar untuk menghambat inisiatif pemerintah sekaligus memperketat pengawasan terhadap kinerjanya.

Pemilihan paruh waktu AS akan digelar pada 3 November. Sebanyak 33 dari 100 kursi Senat dan seluruh 435 kursi DPR akan diperebutkan. Saat ini, Partai Republik menguasai DPR dengan 218 kursi, sedangkan Demokrat memiliki 214 kursi. Di Senat, Partai Republik memegang 53 kursi dan Demokrat 47 kursi. []

Baca juga: Profesor UEA Sebut Israel Rezim Paling Dibenci, Siapa Peringkat Kedua?